Tampilkan postingan dengan label FF K-Pop. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FF K-Pop. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Maret 2013

The Way to Break Up

Posted by Avinda deviana devah at Rabu, Maret 13, 2013 0 comments
Author : Avindadvaah

Main Cast : Kang Ha Sang (OC), Kris Wu (EXO-M)

Support Cast : Eun Yo (OC), Kim Joon Myeon (EXO-K), Byun Baekhyun (EXO-K)

Type : Oneshoot -maybe-

Genre : Romance, Friendship, Comfort

Rating : PG-15



Notes : FF ini asli pemikiran autor tanpa ada bantuan dari pihak lain, mohon di mengerti^^






Katakan padaku apa yang harus aku lakukan. Kau tidak mendiamkanku seperti patung, tidak mengabaikanku seperti tak dianggap, tidak juga membuangku seperti sampah. Tapi kau.. tidak peduli padaku, tak ada sedikit perhatian yang kau tumpahkan padaku, seperti tidak ada cinta di hatimu untukku. Kau kekasihku, tapi aku tidak merasakan itu..

Minggu, 05 Februari 2012

I'm In Love With You - Part 2

Posted by Avinda deviana devah at Minggu, Februari 05, 2012 0 comments
Author: Avindavahvah

Genre: Friendship, Romance, Family

Type: Chaptered

Rating: T

Cast: Jo Youngmin (Boyfriend), Suzy (Miss A)

Other Cast: Jo Kwangmin, Min Woo (Boyfriend), Sulli (Fx), Nichkhun (2PM), Tia (Chocolate)





Previous:  >>
Akhirnya Suzy mengetahui dengan siapa ia satu kelompok. Dia membaca satu persatu nama teman satu kelompoknya di papan tulis, dan mereka adalah Na eun, Hyeri, Tia, Gongchan, Min woo, Jeongmin, dan.... mata Suzy membulat seketika membaca nama terakhir yang tertulis di kelompoknya. “MWOOOOOO?????”......






***


“Jo Youngminnama yang teridiri dari dua kata itu mampu membuat Suzy syok dan satu kelas meributkannya. Sedangkan namja yang memiliki nama itu hanya duduk santai tanpa ekspresi seolah-olah tak terjadi apa-apa. Padahal sebenarnya dalam hatinya pun ia mengucapkan beribu kata syukur pada Tuhan, karena telah mengabulkan do’anya, namun bedanya ia hanya bisa mengekspresikannya biasa-biasa saja dan mengulum sebuah senyum kecil.
                                                   
“Hyung~ kau beruntung bisa satu kelompok dengannya.” Bisik Kwangmin.

Youngmin menoleh padanya, ia menaikan satu alisnya lalu menaikan sudut bibir sebelah kananya membentuk sebuah senyuman meremehkan. “Sudah ku bilang semuanya butuh proses, dan ini langkah yang pertama.” Ujarnya santai.
Kwangmin hanya mengangguk dan mengacungkan kedua jempolnya, lalu ia beranjak pergi menemui Sulli, yeojachingu tercintanya.

***


“Aigoo... aigoo... tadi malam aku mimpi apa, kenapa hari ini rasanya sial sekali aku!!!! Aishi!” omel Suzy saat ia melangkahkan kaki meninggalkan kelas menuju kantin, sembari memegang kepalanya.

“Nado, Suzy-ah! Aku kesal kenapa aku satu kelompok dengan si Nam joo. Itu sangat menyebalkan!” Sulli ikut menimpali.

“Ya~ kau masih beruntung karena Kwangmin satu kelompok denganmu, sedangkan aku? Paling hanya Tia saja yang lumayan dekat dengan ku, aku tidak begitu mengenal Na eun dan Hyeri, apalagi namjanya, yang aku tau hanya Youngmin, dan itupun karena dia menyebalkan. Ah jinjaaaa! Aigoo.” Katanya sembari menggeleng-gelengkan kepala seperti orang frustasi.

“Arraseo, jadi apa yang harus kita lakukan?” tanya Sulli pasrah.

“Mollayo.”  Timpal Suzy tak kalah pasrahnya.


***

SuzyVOP.

“Aku pulang~.” Kataku sembari membuka sepatuku. Lalu aku berjalan gontai menuju tangga.

“Aigoo anak Eomma kenapa? Kenapa wajahmu kusut sekali nak?” Ucap Eommaku seraya berjalan menghampiriku dan memegang kedua pipiku.

“Gwenchana Eomma, aku hanya cape saja.” Kataku berbohong padanya, disertai seulas senyuman tipis.

“Jinja?” aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan eomma. “Baiklah kalau begitu, istirahatlah sana.” Sekali lagi aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan eommaku, lalu aku melangkah meniti anak tangga menuju kamarku.

Aku menghempaskan tubuhku pada kasur empukku, menenggelamkan wajahku pada bantal, lalu memukul-mukul kasurku. Aishi benar-benar frustasi aku hari ini, aku masih tidak bisa melupakan tentang masalah kelompok itu, mana bisa aku nanti bergabung dengan mereka? Mana bisa nanti aku bekerja sama dengan mereka jika aku sendiri merasa tidak nyaman dengan mereka, apalagi dengan adanya namja blonde menyebalkan itu, ah jinjaaa! Sungguh menyebalkan sekali!!!
Tanpa tersadar aku tertidur nyenyak sekali hingga Oppaku membangunkanku untuk makan malam.

“Suzy, bangun waktunya makan malam.” Katanya, seraya menggoyang-goyangkan tubuhku.

“Hmm...” ucapku setengah sadar, kemudian aku bangkit dari tidurku dan mengucek-ngucek kedua mataku. Sekarang aku bisa melihat Oppaku yang tampan berdiri didepanku, dengan tangan yang melipat di depan dadanya.

“Baiklah Oppa, ayo turun.” Ujarku seraya beranjak dari tempat tidurku.

“Ya~ apakah kau tidak akan mengganti seragammu dulu, eh?”

Aku menghentikan langkahku “Mwo?” lalu aku melihat diriku sendiri dari ujung kaki hingga badanku, astaga! Karena tadi ketiduran aku tak sadar kalo aku belum mengganti seragamku, aigoo baboya. Kemudian aku membalikan badanku dan memamerkan cengiran pada Oppaku. Dia berjalan menghampiriku. “baboya, cepat ganti sana, hahaha.” Ujarnya seraya mengacak-acak rambutku.

“Aishi Oppa tidak bisa kah kau tidak mengacak-ngacak rambutku, ha?” kataku kesal, dan mengerucutkan bibirku.

“Arraseo, mianhae, haha, kalau begitu cepat ganti baju sana, pasti Eomma dan Appa sudah menunggu.” Ujarnya lagi, lalu ia beranjak keluar dari kamarku.

Ya itulah Oppaku, Oppa satu-satunya yang aku punya, Oppa terbaik didunia ini, Oppaku sangat tampan, aku menyayanginya. Sebentar lagi dia akan mengikuti jejak Appaku, menjadi seorang pengusaha, karena Appaku memang bersi keras menyuruhnya untuk mengikuti jejaknya. Khun Oppa, atau lebih tepatnya Nichkhun Oppa. Khun Oppa sangat dewasa, dan memang sudah seharusnya, karena usianya sudah kepala dua, hahaha. Namun kedewasaannya melebihi usianya. Dia amat dewasa, pemikirannya sudah matang. Bahkan sejak dia masih duduk di bangku Universitas pun dia menjadi mahasiswa yang membanggakan, karena kedewasaan dan pemikirannya yang matang itu. Saat ini Oppa sudah mulai menjadi seperti Appa, bekerja di kantornya Appa. Bahakan dia menjadi seperti Appa, sifatnya, cara bicaranya, semuanya, aku rasa sudah saatnya aku memiliki kakak ipar, kekekek. Ku dengar dari Eomma, Oppaku sudah memiliki calon, kalau tidak salah namanya Victoria Eonnie, tapi aku sama sekali belum pernah betemu dengannya, karena diapun sedang meniti karirnya menjadi seorang model di negara kelahirannya itu, Cina.
Setelah berganti pakaian, aku cepat-cepat turun untuk makan malam, karena sepertinya Appa, Eomma, dan Oppaku sudah terlalu lama menungguku.

***


AuthorVOP.

Kini waktunya telah tiba, hari ini tiba saatnya Academy High School berangkat untuk melaksanakan pembelajaran di luar kota itu, di kota Seogwipo. Para murid sibuk mempacking barang-barangnya. Begitupun dengan Suzy, ia bergabung dengan teman satu kelompoknya, walaupun itu hanya Tia. Tapi Suzy sudah mulai bisa berkomunikasi dekat dengan Tia.

“Aigoo banyak sekali yang harus kita bawa.” Tia mengomel sendiri seraya berkacak pinggang.

“Ne, aku saja tadi sampai harus di antar mobil pribadi untuk datang ke sini, merepotkan sekali.” Timpal Suzi menyetujui.

“Annyeong....” tiba-tiba terdengar suara yang berasal dari seseorang dibelakang mereka. Min woo.

“Ne, annyeong mi....” nampak Suzy berfikir, “woo..” lanjutnya dengan tampang tanpa dosa.

“Aigoo Suzy-ssi kau lupa dengan namaku? Sudah berapa lama kita satu kelas ha?, ckck.” ucap min woo sedikit kecewa karena teman satu kelasnya ini lupa dengan namanya, lalu berdecak lidah dan menggeleng-gelengkan kepala.

“Ah... mianhae Min woo-ah.” Ujar Suzy sedikit menyesal. Sedangkan Tia hanya terkekeh melihat kedua temannya itu.

“Gwenchana...” Min woo membalasnya dengan cengiran. “Apa yang kalian lakukan disini? Ayo kita gabung dengan yang lain, kajja.” Lanjutnya.

“Ne, kita barusan akan bergabung dengan yang lain, tapi barang-barang kita terlalu banyak dan terlalu berat.” Tia kali ini yang berbicara.

Saat tengah asik berbincang, ketiga siswa itu merasa terganggu dengan keributan yang mereka dengar.

“Ada apa sih ko ribut sekali?” tanya Tia, kepalanya mendongkak ke kanan dan kekiri mencari tahu asal keributan itu dimana.

“Aaaa, rupanya berasal dari Prince of Charisma, kekekeke.” Ujar Min Woo, sembari terkekeh.

Suzy hanya mengerutkan kening, tak mengerti dengan perkataan Min Woo. ‘Prince of charisma? Nugu?’ batinnya.
Pertanyaannya terjawab ketika seseorang datang menghampiri mereka. Seorang namja dengan model rambut yang baru penuh dengan karisma, melangkah begitu keren dengan ransel yang ia gendong, serta kedua tangan yang ia masukan kedalam saku celana.

“Dialah Prince of charisma..” bisik Min woo pada Suzy, nyaris tidak terdengar, namun Suzy masih bisa mendengarnya. Masih tidak percaya dengan perkataan Min Woo, dan sejujurnya Suzypun –sedikit- terpana dengan namja itu kalau harus jujur, ia tidak berhenti melongo dan menatap namja itu, hingga si namja sampai dihadapannya dan menatapnya datar.

“Wae?” Ucapan namja itu mampu membuyarkan segala lamunan dan keterpanaan Suzy, hingga ia sedikit salting.

“M...mwo?”

“Tsk.” Namja itu mendecakkan lidah, lalu memalingkan wajah dan hendak melangkahkan kakinya.
Sekali lagi, Suzy terpana dengan itu. Separuh hatinya berkata namja itu bukan namja blonde yang menyebalkan, tapi separuh hatinya mengiyakan kalau namja itu memang si blonde menyebalkan itu, karena tidak ada wajah yang sefamiliar itu di kelompoknya kecuali Kwangmin, dan sayangnya Kwangmin bukan kelompoknya. Suzy membalikan badan, lalu ia menegur namja itu. “YA~~~!!” namja itu menghentikan langkahnya, dan berbalik menatap Suzy dengan malas-malasan.

“Nu..nuguseyo?” ucapanya sedikit terbata, namun tetap terdengar keras dan menantang.

Namja itu mengerutkan kening, pertanda tidak mengerti akan perkataan yang dikatakan yeoja didepannya ini. Apa yang salah dengan dirinya sampai yeoja ini tidak mengenalinya? Ataukah yeoja di depannya itu mendadak amnesia? Oh ayolah mana mungkin, kemarin-kemarin dia masih mengenaliku. Pikirnya.

“Mwo?” ujarnya tak mengerti.

“Nuguseyo?”

“Nan? Youngmin.” Jawab Youngmin santai nyaris tanpa ekspresi.

“Mwo?” Suzy membelalakan mata, sebagian hatinya itu ternyata memang benar. Itu memang namja blonde menyebalkan itu. Tapi kenapa model rambutnya itu berubah menjadi sedikit pendek, dan berwana gelap seperti itu, ditambah rambutnya sedikit tidak rapi namun terlihat sangat keren.

“Wae?” tanya yongmin, sekali lagi membuyarkan lamunan Suzy.

“Ha? A-aniyo.” Sergah yeoja itu. Lalu memalingkan wajah.
Tanpa babibu lagi Youngmin membalikan badan melangkahkan kakinya meninggalkan yeoja itu. Dalam hati ia terkekeh dan ternyenyum lebar, namun dalam bibirnya ia hanya menaikan sedikit sudut bibir sebelah kanannya membentuk senyuman sinis.

***


YongminVOV.

Pagi ini aku melangkahkan kaki memasuki gerbang sekolahku. Dapat kulihat seluruh siswa tengah sibuk mempacking barang bawaannya untuk pebelajaran keluar kota itu. Hahh sungguh merepotkan sekali, kenapa harus ada acara yang sepert ini?
Aku menyapu seluruh halaman sekolah, namun aku tak menemukan kembaranku. Tadi pagi dia berangkat mendahuluiku karena katanya penting, tapi dasar bodoh, dia lupa membawa jaketnya, Eomma menyuruhku membawakan untuknya. Dan sekarang aku tak melihatnya sedikitpun. Entahlah mungkin dia sedang bersama kelompoknya. Aku melanjutkan melangkahkan kakiku untuk menemui kelompokku. Sayup-sayup aku mendengar sekumpulan yeoja-jeoja yang berdiri itu menyebut namaku “Hey itu Youngmin kan? Aigoo kyeoppta, model rambutnya baru, warnanya juga sedikit gelap, tampan sekali dia, aku semakin menyukainya.” ------“Omo! Dia tampan sekali! Ah~ nae namja!~-----“Ya! Nae namja!” ya seperti itulah yang mereka bicarakan tentangku, aku sudah tau kejadiannya akan seperti ini, Eommakulah yang menyuruhku memotong rambutku dan membuatnya sedikit gelap, padahal aku lebih menyukai model rambutku yang dulu. Tapi tak apa, model yang inipun lumayan bagus walau sedikit lucu.

Aigoo, kenapa ribut sekali? Aku kan hanya mengubah model rambutku saja, kenapa mereka meributkannya? Padahal ketika Kwangmin mengubah model rambutnya dulu tidak seribut ini, ah menyebalkan sekali, bagaimana jika Nam joo mendengar keributan ini? Bisa-bisa dia langsung menghampiriku dan bergelantungan di tanganku. Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk ku berdiri, grr aku bergidik ngeri. Kemudian aku melihat tiga orang yang aku kenal tengah mengobrol. Dan salah satu dari mereka adalah yeoja itu. Aku bisa melihat senyuman dan tawanya dari sini. Ia terlihat cantik saat terseyum dan tertawa. Rasanya aku juga ingin tertawa bersamanya, atau mendapat senyuman manis darinya. Namun itu terlalu mustahil bagiku. Dia selalu memandangku sebal, dari tatapannya itu sudah jelas sekali kalau dia membenciku. Jangankan tersenyum padaku bahkan melihatku saja mungkin dia tidak mau. nasibku jelas sangat jelek.

Aku melangkahkan kaki menghampiri mereka. Kulihat yeoja itu memalingkan wajah ke arahku, dia menatapku. Dari sudut matanya memancarkan keterpanaan dia terpana melihatku. Ingin sekali ku cubit pipinya itu. Wajahnya sangat lucu. Sungguh! Aku merutuki keadaan ini, keadaan yang selalu membuatku dengan yeoja dihadapanku ini jauh, semakin jauh karena sikapku yang dingin dan pengecut ini yang semakin membuatnya membenciku. Tuhan, apakah kesempatan itu akan datang padaku? Jujur saja apa yang aku katakan pada Kwangmin tentang proses itu aku sendiri pun tidak yakin akan benar-benar terjadi. Sesungguhnya semua itu hanya kebetulan, apakah itu sudah termasuk proses langkah pertama? Aku tak tahu.

“Wae?” ucapku padanya, datar. Sepertinya dia tersadar dari, keterpanaannya mungkin.

“M...mwo?” ujarnya, dari perilakunya sepertinya dia salting? Oh mungkin.

“Tsk.” Aku mendecakkan lidah, lalu memalingkan wajah dan hendak akan melangkahkan kaki. Sungguh bila terlalu lama aku berhadapan dengannya dan melihat ekspresi wajahnya sekarang itu mungkin saja aku akan goyah.

“YA~~!!” tegurnya, mau tak mau ku hentikan langkahku dan berbalik menatap yeoja itu.

“Nu..nuguseyo?” ucapannya sedikit terbata, namun tetap terdengar keras dan menantang. Aku mengerutkan sedikit dahiku. Apa? Dia bertanya padaku nuguseyo? Apa yang salah? Apa dia tidak mengenaliku? Apakah dia mendadak amnesia? Oh ayolah mana mungkin, kemarin-kemarin dia masih mengenaliku.

“Mwo?” ujarku tak mengerti.

“Nuguseyo?”

“Nan? Youngmin.”

“Mwo?” Yeoja itu membelalakan mata. Kenapa? Kenapa dia begitu kaget? Apakah aku memang berbeda?

“Wae?”

“Ha? A-aniyo.” Sergah yeoja itu. Lalu memalingkan wajah.

Aku membalikan badan, lalu kali ini benar-benar melangkahkan kaki meninggalkan yeoja itu. Dalam hati aku terkekeh dan tersenyum lebar, tapi di bibirku, aku hanya menaikan sudut bibir sebelah kananku membentuk senyuman sinis. Hanya itu yang bisa aku gambarkan tentang perasaanku.
Oh Tuhan! Yeoja ini sungguh membuatku gemas. Ingin aku mendekapnya kedalam pelukanku. Menepuk puncak kepalanya dan mengelus rambut coklat panjangnya. Namun itu sangat mustahil! Ayolah Youngmin sejak kapan kau menjadi seperti ini? Kenapa kau kali ini sering berharap tak jelas seperti itu?

***

AuthorVOP.

Sepuluh menit lagi mereka akan berangkat munuju kota Seogwipo. Mereka mamasukan barang-barangnya ke dalam bus. Lalu soensangnim menyuruh mereka untuk berkumpul karena akan mengumumkan pembagian tempat duduk selama dalam bus. Entah karena takdir, kebetulan, atau memang karena ini adalah hari sial bagi Suzy, atau justru ini mungkin memang sudah di tuliskan bahwa mereka harus bersama, Suzy mendapat satu kursi dengan Youngmin.
Dan semuanya masuk kedalam bus.
“Ya! Minggir aku ingin duduk dekat jendela!.” Tegur Suzy pada namja yang tengah duduk asyik dengan novelnya.
Namun namja itu tidak bergeming, masih asyik dengan novelnya.

“Aish! Ya!!!! Aku bilag minggir!.”
Namja itu menoleh karahnya dengan tatapan malas-malasan.

“Mwo?” katanya menaika satu alisnya.

“Aigooo, jinjayo!.” Gerutu Suzy. Ia menghela nafas, lalu berkata lagi “Aku bilang aku ingin duduk dekat jendela, jadi kau minggir!.” Ucapnya, kali ini nada bicaranya kembali normal.

“Mwo? Sirho, aku yang lebih dulu duduk di sini.”

“Mwoyaa?”

“Sudahlah diam, duduk saja di situ, jika tidak mau duduk sana di tempat lain. Jangan menggangguku!.”  Lalu namja itu menutup novelnya dan merogoh saku jaketnya mengambil ponsel dan headshetnya. Tak membutuhkan waktu lama, namja itu sudah memejamkan mata dengan headshet yang menguntai dari telinganya. Sedangkan Suzy hanya berdecak dan menghentakkan kakinya, lalu akhirnya dengan terpaksa ia duduk juga di samping namja itu.


Suzy mendesah, rasanya pantatnya sudah panas selama kurang lebih dua jam perjalanan terlewati hanya duduk dalam bus. Sekali lagi ia mendesah, masih membutuhkan tiga jam perjalan lagi untuk sampai di kota Seogwipo. Ia melirik namja yang dari perjalanan dimulai sudah memejamkan mata hingga sekarang belum juga bangun. Ia memutarkan bola matanya lalu berdecak lidah. “Namja ini ternyata seperti kebo.” Gumamnya.

“Mwo?” tanpa terduga, namja tadi ikut bergumam dan membuka sebelah matanya.
Suzy sedikit tersentak, namun ia pura-pura tidak mendengar dan memalingkan wajah lalu memejamkan mata, mencoba untuk tidur.

Sekitar tiga jam sudah berlalu dalam perjalannya, dan selama itu antara Suzy maupun Youngmin tidak ada lagi sepatah kata yang keluar dari mulut mereka. Youngmin yang sebenarnya sudah bangun dari beberapa jam yang lalu mencoba untuk kembali tidur, namun tidak bisa, akhirnya ia kembali membaca novelnya itu. Sedangkan Suzy, kali ini benar-benar tertidur pulas. Berkali-kali kepalanya miring kesebelah kanan. Karena tak tega, Youngmin membetulkan posisi kepala Suzy dengan hati-hati. Kemudian namja itu memandang lekat wajah yeoja yang tertidur pulas di hadapannya ini. Hatinya kembali berdegup kencang dan melompat-lompat, yeoja ini memang sangat cantik, bahkan saat ia tertidur. Ia semakin terlihat manis dan lucu. Sebuah senyuman tipis terbentuk dalam bibir Youngmin. Andai dia bisa, dia akan mendekap dan mengelus rambut yeoja di depannya ini, sadar itu hanya khayalan semata, Youngmin menggelengkan kecil kepalanya, seketika itu senyuman tipisnya berubah menjadi senyuman sinis, kemudian ia memalingkan wajahnya ke depan jendela, mencoba untuk tidak peduli lagi dengan yeoja itu dan berusaha untuk tidur lagi.

-TBC-

Rabu, 25 Januari 2012

I'm In Love With You - Part 1

Posted by Avinda deviana devah at Rabu, Januari 25, 2012 2 comments
Author: Avindavahvah
Genre: Friendship, Romance, Family
Type: Chaptered
Rating: T
Cast: Jo Youngmin, Jo Kwangmin (Boyfriend), Suzy (Miss A), Sulli (fx)
Other Cast: lainnya.



Annyeong :D hahaha ini FFku yang kedua, aku nyobain bikin FF chapter bisa sampe tamat ga yah-____- semoga, asal banyak yang suka dan banyak yang suport aku pasti bakal semangat bikin lanjutannya, so don't keep silent! comment plis u,u gamsahabnidaaaaa ^^




***


Youngmin VOP.

Pagi ini aku sengaja mengikutinya. Em sebenarnya aku tak sengaja melihat dia ditoko buah tadi. Dan akhirnya ku putuskan saja untuk mengikutinya dari belakang. Aku sendiri tak tahu kenapa aku ingin mengikutinya, untuk apa aku mengikutinya? Bahkan aku sendiri sudah tau rumahnya. Mungkin untuk memastikan apakah dia selamat sampai rumahnya. Pikirku.
Aku mengendap-endap layaknya pencuri dibelakangnya, sungguh aneh. Tapi ya apa boleh buat ini yang ingin kulakukan. Tiba-tiba ponselku berdering sangat nyaring pertanda ada telpon masuk. ‘sial kenapa disaat seperti ini ponselku harus berdering, nyaring pula’ rutukku dalam hati. Segera aku mengambilnya dan mengangkatnya.

“Yeobseo?”

“Ya! Kau ini kemana? Umma sudah marah-marah tak jelas di rumah belanjaanya belum datang sampai sekarang!” suara disebrang sana membuat telingaku sakit, hingga aku menjauhkan ponselku dari telingaku.

“arraseo, disini sedang mengantri bilang pada Umma tunggulah sebentar. Aku juga sangat malas mengantri seperti ini.” Jawabku asal, karena kenyataannya aku tidak sedang mengantri dan aku sudah selesai belanja dari satu jam yang lalu.

“baiklah akan kusampaikan pada Umma.” Setelah itu telpon terputus.
Saat aku memasukan kembali ponselku pada jaketku, aku memalingkan wajah kedepan untuk melihat apakah dia sudah menghilang. Omo! Aku terlonjak kaget saat mendapati sosok itu berdiri didepanku dengan tatapan curiga.

“Apa yang kau lakukan?” tanyanya.

“Mwo?” jawabku –pura-pura- bingung.

“Aishi, sedang apa kau disini? Dan kenapa saat berbicara ditelpon tadi kau bilang kau sedang mengantri? Jangan-jangan kau... mengikutiku?” tuduhnya, dan tepat sekali! Aku memang mengikutimu! Ingin sekali aku berkata seperti itu, tapi sepertinya mulutku tidak akan bisa mengeluarkan kata-kata itu.

“Pede sekali kau, siapa yang ingin mengikuti yeoja manja sepertimu, kurang kerjaan sekali.” Jawabku sinis, dengan tatapan yang seperti biasanya, dingin.

“Kau ini benar-benar menyebalkan! Kalo bukan itu apa yang kau lakukan disini?”

“Aku mau pulang.”

“Jalan pulangmu kan bukan arah sini, lalu kenapa kau berjalan kearah sini.”

“Ya! Itu urusanku, terserahku, aku mau jalan melewati arah mana saja, lagi pula arah sini pun ujung-ujungnya tetap akan sampai dirumahku.”

“arraseo, tapi jika kau melewati arah sini kau akan sampai kerumahmu lebih lama lagi.”

“itu memang tujuanku, sudahlah malas sekali aku berdebat dengan yeoja cerewet sepertimu.” Aku memasukan tangan kiriku yang kosong dari belanjaan kedalam saku jaketku, lalu berjalan santai melewatinya, dan memalingkan wajahku seolah-olah aku malas mlihat wajahnya. Dalam hati aku bersorak soray atas kejadian ini, ingin sekali aku tertawa melihat wajahnya yang kesal karenaku.

“Ya!! Jo Youngmin!! Kau ini benar-benar namja yang menyebalkaaaaan! Aishi!!!!” teriaknya. Aku hanya tersenyum senang, dan terus berjalan meninggalkannya yang mungkin masih merutukiku.

***

Suzy VOP.

‘Brakk’ aku membuka pintu rumah dengan keras saking kesalnya. Aku melempar sembarangan sepatu dari kakiku. Lalu beranjak pergi ke dapur untuk menyimpan buah-buahan yang tadi kubeli. Eomma dan Oppaku yang melihat kelakuanku hanya menggelengkan kepala. Aku melirik mereka sekilas lalu aku beranjak pergi kekamarku untuk menenangkan diri.

‘Brakk’ sekali lagi, aku membanting pintu kamarku dengan keras. Untung saja hari ini Appa tidak ada dirumah, kalo ada aku pasti akan diomeli Appa habis-habisan. Hari ini aku sangat kesal! Padahal sebelum pergi ke toko buah-buahan aku baik-baik saja, bahkan aku berharap hari minggu ini adalah hari baik untukku. Tapi setelah aku bertemu dengan namja menyebalkan itu hariku menjadi suram, rasanya aku ingin mengakhiri hari ini dan ingin cepat-cepat besok.
Aku merebahkan tubuhku diatas kasur, benar-banar membosankan. Aku berfikir sejenak, lalu akhirnya kuputuskan untuk meaih ponselku dan menelpon Sulli, aku ingin menceritakan semuanya padanya.

“Yeobseo?” terdengar suara dari seberang sana.

“Ne, Sulli-ah?”

“Ne, ini aku. Ada apa kau menelponku Suzy-ah?”

“Aku sedang kesal hari ini!.”

“Waeyo?”

“Tadi pagi aku berteu dengan si namja blonde menyebalkan itu!.”

“Mwo? Youngmin? Kenapa bisa begitu?”

“Nado molla! Menyebalkan sekali!.”

“Hmm, sudahlah mungkin hanya kebetulan.. atau mungkin..... kau dan dia jodoh, hahaha.”

“Mwo? apa yang barusan kau katakan? Aku dan dia jodoh? Andwae!!! Aku tidak mau berjodoh dengannya, bahkan aku tidak akan pernah menyukainya!”

“Ya~ Suzy-ah hati-hati dengan perkataanmu, bisa saja nanti kau tiba-tiba menyukainya kekekek.”

“Kau ini bicara apa ha? Aku tak mungkin menyukainya! Sudahlah jangan membuat moodku semakin buruk!.” Teeet------ aku menutup telponku. Benar-benar menyebalkan, Sulli bisa-bisanya berkata seperti itu, membuatku semakin kesal!.


***

Youngmin VOP.

Aku merebahkan tubuhku diatas kasur dengan kedua tangan yang dilipat dibawah kepalaku sebagai bantalan. Mataku menerawang menatap langit-langit, otakku kembali memutar kejadian pagi tadi saat aku bertemu dengan yeoja itu, saat dia marah-marah padaku, saat dia kesal padaku. Yeoja itu membuatku gila! Entah bagai mana bisa aku menyimpan perasaan padanya, padahal dulu aku sama sekali tidak berminat menyukainya, namun sekarang aku sangat tergila-gila padanya. Tapi sayangnya aku tidak bisa mengungkapkannya, yang ada aku hanya membuatnya semakin kesal dan mungkin dia semakin membenciku. Aku sempat befikir untuk berubah menjadi seseorang yang hangat dan lemah lembut, tidak seperti sekarang, dingin dan kasar. Tapi aku tak bisa! Rasanya itu aneh bagiku.

‘tok, tok, tok’ suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku.

“masuk.” Ujarku malas-malasan.

“Hyung Umma menyuruhmu untuk turun dan makan malam.”

“Ne, nanti aku akan menyusul.”

“Apa yang sedang kau pikirkan?” katanya seraya duduk disampingku.

“tidak ada.”

“Ayolah Hyung ceritakan padaku, aku ini kembaranmu jelas aku tahu saat ini kau pasti sedang memikirkan sesuatu.”

Jo Kwangmin. Dia kembaranku sifatnya jelas berbeda 180 derajat denganku. Dia sangat hangat dan lemah lembut, serta dia sangat baik. Kadang aku iri pada saudara kembarku ini, dia lebih banyak disayang oleh orang lain. Tapi yang membuatku sebal padanya dia itu terlalu hyper dan tidak bisa membaca situasi.

“Tadi pagi aku bertemu dengannya.”

“Nugu?”

“yeoja itu.”

“Suzy-ssi?”

“Ne...”

“Sampai kapan kau akan menutupi perasaanmu itu Hyung? Kau membuat dirimu tersiksa, cepatlah ungkapkan padanya.”

“Aniyo! Tidak secepat itu masih butuh proses..”

“Terserah kau sajalah hyung aku tak mau ikut campur. Sudahlah ayo kita turun, Umma, Appa, dan Hyunmin pasti sudah menunggu kita.”

“Baiklah.” Aku bangkit dari tidurku dan beranjak turun menuju ruang makan untuk makan malam.


***

Author VOP.

Jo Youngmin seorang namja tampan yang memiliki kembaran bernama Jo Kwangmin. Mereka sangatlah mirip hanya kepribadian mereka sajalah yang membuat keduanya berbeda. Youngmin lebih tua 6 menit dari Kwangmin. Selain itu mereka mempunyai seorang dongsaeng bernama Jo Hyunmin.
Youngmin memiliki kepribadian yang tidak terlalu baik, dia dingin, acuh dan keras kepala. Itu sebabnya banyak teman-temannya menyebutnya namja menyebalkan. Namun kembarannya Jo Kwangmin dia sangat ramah dan hangat, dia lebih mempunyai banyak teman dari pada Youngmin, sebenarnya teman mereka sama, namun Kwangmin lebih disenangi dari pada Youngmin.
Youngmin juga menyukai seseorang yeoja cantik, namun ia tidak mampu menyatakannya. Ia terlalu munafik dalam hal perasaan. Ia hanya bisa memendamnya sendiri, walau kadang dirinya selalu merutuki hal ini, karena baginya cara ini telah membuatnya menjadi seorang pengecut.
Namun berbeda dengan Kwangmin, bisa dikatakan Kwangmin lebih berani mengungkapkan perasaannya kepada yeoja yang ia sukai. Hingga, kini ia memiliki yeojachingu yang sangat ia cintai.


***


Pagi ini si kembar kembali memulai aktifitasnya. Bersekolah, apalagi? Mereka kini duduk di bangku SMA. Setiap pagi keduanya berjalan kaki untuk sampai sekolah. Karena sekolah mereka tidak terlalu jauh dengan rumah.

“Ya! Hyung kau jalan terlalu cepat, tunggulah aku!” teriak Kwangmin dengan setengah berlari untuk mengejar hyungnya, Youngmin. Tetapi Youngmin tidak menghiraukan teriakan saudara kembarnya itu, ia terus berjalan dengan santai meninggalkan Kwangmin.
Ketika sampai di depan gerbang dan hendak akan melangkahkan kakinya masuk, tiba-tiba seseorang menarik tangan Youngmin dan menggandengnya. Sang empunya hanya menoleh tanpa ekspresi pada si penggandeng.

“Pagi Youngmin-ah, aku senang sekali pagi ini kita bisa masuk kelas bersama.” Ujar si penggandeng dengan senyumnya yang dibuat semanis mungkin. Tapi Youngmin hanya menatapnya malas-malasan, kemudian ia memalingkan wajahnya kedepan. Saat itu ia mendapati yeoja yang ia sukai berdiri beberapa meter didepannya, yang kini tengah menatap dirinya dengan tatapan menyebalkan. Disamping yeoja itu berdiri seorang yeoya lainnya yang tak lain adalah sahabatnya.
Dalam hati, ingin rasanya Youngmin melepas gandengan ini dan memberi penjelasan pada yeoja itu agar tidak salah paham, namun, itu tak akan mungkin. Dimata yeoja itu dirinya bukanlah siapa-siapa bahkan yeoja itu telah menganggapnya sebagai orang paling menyebalkan yang pernah dia kenal.

“Ya~ Sulli-ah coba kau liat, si blonde itu pagi-pagi sudah menggandeng seorang yeoja yang sama menyebalkannya dengannya.” Bisik yeoja itu pada sahabatnya.

“Ara, tapi Suzy-ah... Kwangmin bilang Nam joo lah yag memulai.”

“Mwo? lalu kenapa? Bukan urusanku siapapun itu yang memulai, bagiku mereka sama halnya menyebalkan.!”

“Ah, ne Suzy-ah ara, aku hanya bilang apa yang Kwangmin katakan.”

“Namja chingumu itu kembarannya, tapi sifatnya berbeda seperti langit dan bumi, oh bukan sifatnya berbeda 180 derajat dengan Youngmin. Kwangmin sangat baik.” Bisik yeoja bernama Suzy kepada Sulli.

Sedangkan Kwangmin yang baru saja sampai didepan gerbang hanya menatap mereka bingung, kemudian tak lama setelah itu Kwangmin mengerti, lalu dia melepaskan paksa gandengan yeoja dari tangan Youngmin.

“Ya~ Youngmin akan masuk kedalam bersamaku, minggir kau.” Katanya lalu menarik Youngmin, dan meninggalkan yeoja itu sebelum dia mengoceh dan mengejarnya. Tak lupa, Kwangmin melirik sekilas dan tersenyum kepada yeojachingunya yang masih berdiri di tempat yang sama, Sulli.

“Ya!!!! Kwangmin apa yang kau lakukaaaaan!! Aishi!!!!”



***


Youngmin VOP.

“hosh...hosh..berhenti..” ucapku terbata, kelelahan. Kwangmin menarikku sambil berlari untuk menghindar dari yeoja centil itu. Aku sangat kelelahan, bisa tambah kurus aku jika setiap pagi seperti ini. Ya yeoja itu setiap pagi selalu saja menungguku di depan gerbang dan selalu saja menggandeng tanganku untuk masuk kelas bersama-sama, tapi untungnya Kwangmin selalu menyelamatkanku, dan cara untuk menghindarinya adalah dengan berlari seperti sekarang ini. Hal ini rutin dilakukan hampir setiap hari. Kadang aku berpikiran untuk masuk lewat pintu belakang, namun jika pagi, pintu itu belum di buka. Bahkan aku pernah mencoba untuk datang pagi-pagi sekali, tapi pintu gerbang belum terbuka dan saat dibuka yeoja itu datang. Dunia memang sempit.

“Aaaarggghh bisa-bisa mati karena terlalu kurus aku jika seperti ini.” Kataku sambil mengacak-ngacak rambutku.

“hosh..hosh...apa maksudmu mati hyung?” ucapnya terbata, sama halnya karena kelelahan.

“Tiap pagi aku harus berlari menghindari si Nam joo itu. Apa itu tidak akan membuatku kurus hah? Kiloanku sudah turun 3kg kemarin, dan jika terus-terusan begini aku bisa mati sedikit demi sedikit karena berat badanku berkurang”

‘PLETAK’ tiba-tiba saja Kwangmin memukul kepalaku dengan bukunya yang sangat tebal, kira-kira tebal buku itu mencapai 3 atau 4 ratus halaman, membuatku sedikit pusing.

“Ya!!! Apa yang kau lakukan! Beraninya kau memukul hyungmu!” bentakku padanya, aku meringis kesakitan sambil terus mengusap-usap kepalaku.

“gwaenchana?” ucapnya polos.

Aishi! Aku tak habis pikir, dengan polosnya ia berkata ‘gwaenchana?’ setelah apa yang ia lakukan terhadapku, tak bisakah dia merasakan betapa pusingnya kepalaku setelah dipukul dengan sebuah buku yang tebal itu.

“Kau ini! Apa-apaan kau memukulku seperti itu ha?”

“Ya hyung kau yang kenapa, kau tadi protes karena aku ajak lari untuk menghindari si Nam joo, kau bilang kau akan mati karena berat badanmu sedikit demi sedikit akan berkurang, itu sangat bodoh! Jadi ku pukul saja kau agar kau tidak menjadi bodoh seperti itu, ckck, kau memang bodoh.” Katanya lalu menggeleng-gelengkan kepala.

“Mwo?”

“Ah sudahlah lebih baik kita masuk kelas, kajja.” Ujarnya lalu pergi meninggalkanku yang masih berdiri mematung masih tak percaya dengan apa yang dikatakan kembaranku itu.



***
Author VOP.

Minggu ini, Academy High School, tempat Jo Twins sekolah sedang mengalami masa kesibukan yang sangat akut. Karena minggu depan sekolah mereka akan mengadakan pembelajaran keluar kota selama satu minggu. Pembelajaran ini dilakukan untuk mengetes kepribadian, kemandirian, dan kemampuan siswa di alam terbuka, ini sama halnya seperti perkemahan, karena akan dilaksanakan di sebuah pegunungan. Namun bedanya mereka tidak memakai tenda, melainkan disana sudah berdiri asrama. Pembelajaran ini rutin dilakukan siswa setiap tahun di tempat yang sama yaitu dikota Seogwipo, provinsi Jeju.

Begitupun, Youngmin dan yang lainnya sibuk mempersiapkan diri untuk acara itu. Saat ini akan diadakan pembagian kelompok di satu kelasnya. Dalam satu kelas dibagi menjadi 4 kelompok, dan satu kelompok terdiri dari 8 orang, karena siswanya sebanyak 32 orang.

“Baiklah, kita mulai pembagian kelompoknya.” Ujar soensaengnim.

“Apapun hasilnya nanti, kalian tidak boleh protes! Karena kami, pihak guru sudah mengaturnya sedemikian rupa.” Ujar soensaengnim lagi.

Semua murid hanya mengangguk pasrah, sembari dalam hati terus merapalkan do’a agar mereka sekelompok dengan teman dekat mereka. Seperti yang dilakukan Suzy dan Sulli, mereka berdua saling berpegangan tangan dan berdo’a agar mereka satu kelompok. Terlebih Suzy, dia terus berdo’a agar tidak satu kelompok dengan Youngmin ataupun Nam joo.

Pembagian kelompok dimulai. Do’a Suzi dan Sulli ternyata tidak terkabul, karena Sulli tidak satu kelompok dengan Suzy. Melainkan, Sulli satu kelompok dengan Nam joo.
Nama-nama mereka satu per satu dituliskan di papan tulis, sehingga semua dapat mengetahu dengan siapa saja mereka satu kelompok.
Akhirnya Suzy mengetahui dengan siapa ia satu kelompok. Dia membaca satu persatu nama teman satu kelompoknya di papan tulis, dan mereka adalah Na eun, Hyeri, Tia, Gongchan, Min woo, Jeongmin, dan.... mata Suzy membulat seketika membaca nama terakhir yang tertulis di kelompoknya. “MWOOOOOO?????”......

-TBC-



Sabtu, 17 Desember 2011

It's True Love

Posted by Avinda deviana devah at Sabtu, Desember 17, 2011 0 comments
 It's True Love
 



Author: Avindavahvah (twitt)
Genre: Romance
Type: one shoot
Rating: T
Cast: Jo Kwangmin (boyfriend), Krystal (fx)
Other cast: Jo Youngmin, Tia (chocolate). ~ Minwoo, Donghyun (boyfriend), Bora (sistar).


Annyeong hoehehehe gue kembali nyiptain ff baru nih, tapi ini ff k-pop bukan IC ehehe, mianhae. oya ini ff k-pop pertama gue, so sorry kalo ceritanya masih awur-awuran kan masih amatiran, hehehe. buat yang baca gamsahabnida banget ya udah baca. tolong kasih komentarannya di bawah, oke! :)




***



“Aku tau aku memang aneh, tapi apakah kalian tak bisa memperlakukan ku biasa?” ujarku dengan nada yang sedikit tinggi pada kedua yeoja yang berdiri di hadapanku. Kedua yeoja itu hanya mematung tanpa bisa membalas perkataanku.
Aku semakin muak kepada mereka yang selalu saja menindasku, apakah mereka tidak sadar, mungkin saja mereka mendapatkan kekurangan yang lebih dari pada aku. Tapi ya itulah manusia, hanya bisa menghina orang lain , tanpa sadar dirinya sendiri pun tak sempurna.
Aku menatap mereka tajam, emosiku kali ini benar-benar berada dipuncaknya setelah sekian lama aku bersabar dan menahannya. Salah satu dari yeoja itu menundukkan kepala, mungkin menyesali perbuatannya padaku. Tapi yeoja lainnya tetap memandangku dengan tampang tanpa dosa, dia malah bertanya “ya~ kau ini kenapa? Bukannya ini sudah biasa? Ayolah jangan marah, kita hanya bercanda.” Sungguh aku ingin menendang yeoja satu ini, dia sunggu-sungguh menyebalkan, dengan entengnya ia berbicara begitu tanpa tau bagaimana perasaanku, aish benar-benar!
Wajahku memerah karena emosi, ingin sekali aku berteriak menumpahkan segalanya dengan air mataku. Aku langsung berbalik badan dan berlari meninggalkan mereka bedua, dengan air mata yang sudah berada dipelupuk mataku.
Tanpa mempedulikan berpasang-pasang mata yang melihatku heran, aku terus berlari disepanjang koridor sekolah, menuju tangga yang berada di ujung toilet. Aku akan pergi ke aula besar, tempat dimana aku selalu menumpahkan segala keluh kesahku, tempat aku berbagi suka duka, walau disana hanya ada sebuah piano dan beberapa alat musik lainnya, tapi aku merasa nyaman berada disana ditemani dengan alat-alat musik yang suaranya selalu membuat hatiku damai.
Aku terus berlari, menitik satu persatu anak tangga sampai akhir. Pintu aula besar sudah terlihat tinggal kurang lebih lima meter dariku. Aku berhenti sejenak untuk menghela nafas yang tersenggal-senggal dan menyeka air mataku yang sudah tumpah. Tempat ini selalu sepi, karena disini hanya ada satu ruangan aula besar dan dua gudang, dan tempat ini akan ramai jika ada pelajaran atau sesuatu yang memungkinkan untuk menggunakan aula.
Aku melanjutkan langkahku dengan lari kecil, karena tinggal beberapa meter lagi aku sampai di aula besar. Seperti biasa pintu aula selalu tertutup, tapi tak pernah terkunci atau dikunci. Aku melangkah masuk kedalam aula, kulangkahkan kakiku pada sebuah piano yang bertengger di pinggir bawah panggung. Aku duduk disana, manumpahkan segalanya, menumpahkan rasa kesalku. Aku menangis sejadi-jadinya aku sungguh kesal. Seaneh apakah diriku ini? Sebenarnya aku itu bagai mana?

“sebenarnya apa yang salah dariku? Seaneh apakah diriku? Mengapa mereka menganggapku seperti itu, seperti yeoja babo?” kataku meracau sendiri entah pada siapa aku berbicara, yang jelas setiap kali kesini aku pasti akan berbicara sendiri. Sambil terus terisak, aku beringsut dari dudukku, kini aku duduk memeluk lutut dilantai dan membenamkan wajah diantara lututuku, dengan isakan yang semakin menjadi.

“kau tak aneh, itu bukanlah suatu kesalahan ataupun keanehan dari dirimu. Tapi itu adalah sikapmu, itu sifatmu. Jangan menyalahkan diri sendiri.” Ujar seseorang yang entah dari siapa dan dari mana asalnya. Aku menghentikan isakanku, mengangkat pelan-pelan wajahku untuk melihat siapa yang berbicara itu.

Omo! Hampir saja aku terlonjak kaget saat mendapati siapa yang telah berjongkok dihadapanku. Dia Jo Kwangmin, anak kelas sebelah. Tentu saja aku mengenalnya mesikpun dia tidak sekelas denganku, karena dia memiliki saudara kembar bernama Jo Youngmin yang kebetulan sekelas denganku, aku mengetahuinya dari dia. Dan sebenarnya aku memiliki perasaan pada Youngmin, namun itu tak mungkin....
Tunggu apa yang ia lakukan disini? Apakah dia mengikutiku sampai sini? Atau tak sengaja ia melihatku dan akhirnya dia mengikutiku? Aaah itu sama saja! Hey apa-apaan aku ini pede sekali.

“eoddeohke...”ucapku nyaris berbisik, kurasa dia tak mendengarnya, em bukan kuharap dia tak mendengarnya.
Kemudian ia tersenyum padaku, lalu mengulurkan sebuah sapu tangan berwarna jingga padaku. Aku mengerutkan kening, apa yang ia lakukan. Aku menatapnya heran, lalu berganti menatap sapu tangannya.

“ambilah, lalu hapus air matamu dengan ini. Kajja!” gumamnya sangat lembut, senyuman dari bibirnya masih tersungging manis.
Dengan ragu aku mengambil sapu tangan itu “gamsahabnida” ucapku lirih. Lalu aku menghapus air mataku. Sapu tangan ini sangat lebut, selembut pemiliknya, dan sangat wangi.

“ne..” dia berdiri, aku menegadah melihatnya, ia sangat tinggi, tanpa diduga dia membungkukan badannya lalu mengulurkan satu tangannya.
“berdirilah, ku bantu.” Katanya, masih tersenyum. Tuhan dia baik sekali.
Aku menatap uluran tangannya, kemudian menunduk memejamkan mata sejenak, lalu kubuka lagi. Dan akhirnya aku menerima uluran tangan darinya.
Kini aku berdiri berhadapan dengannya, tak ada perasaan apapun, aku masih merasa sedikit syok atas kedatangannya yang tiba-tiba itu. Karena tak ingin menahan lagi, akupun bertanya padanya.

“kenapa kau ada disini? Apakah kau...” ucapanku menggantung.

“ani, aku tadi memang sedang berada disini untuk membereskan alat musik yang barusan dipakai. Hari ini adalah jadwal piketku diklub musik.” Jawabnya cepat sebelum aku meneruskan kalimatku.
Aku hanya membulatkan mulutku membentuk huruf O tanpa bersuara.

“saat aku sedang membereskan tasku dan berniat untuk keluar, tiba-tiba saja aku mendengar sedikit keributan yang akhirnya aku mendengar suara tangisan. Dan ternyata itu memang kau, sudah ku duga.”
Aku mengerutkan keningku, apa maksud perkataanya, kenapa dia bisa menduga bahwa itu aku? Memangnya dia pernah melihatku menangis sebelum ini? Sepertinya dia mengerti arti tatapan heranku yang kulayangkan padanya. Ia menarik nafas, dan mulai berbicara.

“sebenarnya aku sudah sering melihatmu menangis disini, mendengar kau berbicara sendiri. Tapi aku tak pernah mencoba untuk menemuimu seperti ini. Namun kali ini aku tak tega melihatmu menangis lagi seperti ini, dengan masalah yang –kelihatannya- sama....”

Aku membelalakan mataku, jadi... dia sering melihatku menangis seperti ini disini? Tapi kenapa dia tak muncul dihadapanku.

“mianhae, jeongmal mianhae Krystal karena aku berbuat seperti ini.” Ucapnya lagi, kini dengan nada menyesal, raut wajahnya pun berubah menjadi menyesal, mungkin melihat ekspresi mukaku yang kaget. Bukan karena itu, dia juga mengetahui namaku. Dari mana dia mengetahuinya? Ah tapi sudahlah aku tak tega melihat wajah tampanya menampakan penyesalan karenaku.

“gwaenchanha.” Aku membuka suara, meski suaraku terdengar parau, aku memaksakan seulas senyum yang kuharap senyuman ini bisa membayar penyesalannya.

Dia kembali tersenyum padaku, mungkin merasa lega karena aku tak marah.

“baiklah, ayo kita duduk disana.” Ajaknya seraya menarik tanganku. Omo! Apa yang ia lakukan, ia menggenggam tanganku, padahal baru saja kita saling mengenal -----maksudku baru –kali ini- saja kami mengobrol, itu pun tanpa disengaja. Aku sedikit terkejut namun aku menurut saja. Dia mengajakku duduk di dikursi piano yang tadi kududuki. Aku dan dia duduk berdampingan dikursi piano panjang itu. Aku masih diam tak ingin membuka suara, karena masih syok atas kejadian yang beruntun ini, kemudian ia mengulurkan sebuah botol air mineral dan sebungkus coklat kehadapanku, aku menoleh padanya, melemparkan tatapan bertanya, sedikit alisku terangkat.

“makan dan minum lah ini, ini akan membuatmu merasa lebih baik.” Katanya, oh sungguh! Senyumnya tak pernah menghilang dari bibirnya, membuatku sedikit melambung tinggi menerima perlakuan seperti ini dengan di beri seulas senyuman manis bak malaikat yang tak pernah hilang dari bibir dan wajah tampannya.
Merasa tak enak hati karena dari tadi aku menyusahkannya, aku melemparkan pandangan padanya lagi, kali ini pandanganku seolah-olah aku berbicara –apa-tak-apa-apa-kau-membantuku-seperti-ini?
Sepertinya ia mengarti tatapanku itu, ia menaikan satu alisnya lalu berbicara “tak apa-apa, ambilah aku senang membantumu, atau jangan-jangan kau yang tak suka kehadiranku disini?” suaranya berubah menjadi sedikit hati-hati saat mengucapkan kalimat terakhir.

“aniyo..” ucapku cepat, bukan itu maksudku aku hanya tak mau menyusahkan orang lain atas kelakuanku ini. “bukan itu maksudku...” ucapanku menggantung.

“sudahlah ambil lah saja ini, aku tau perasaanmu masih kacau, dengan ini kau akan merasa lebih baik.”
Karena terus didesak aku jadi tak tega untuk menolaknya, lagi pula yang ia berikan padaku adalah coklat, makanan yang paling kusukai, makanan yang selalu membuat aku tenang, oh tunggu dari mana dia mengetahui kalo aku menyukai coklat? Hei Krystal kau ini mikir apa, mana mungkin dia mengetahuinya, ini mungkin hanya kebetulaaan! Aish apasih yang aku pikirkan, aku menggelengkan sedikit kepalaku, lalu dengan ragu aku meraih coklat dan air mineral itu.

“bagaimana? Sudah merasa baikan?”

Aku mengangguk, lalu aku meminum ai mineral itu. Aku masih menunduk, menggenggam erat botol air mineral itu, sambil menggembungkan kedua pipiku, entahlah pikiranku sangat kacau kali ini.

“jika kau sudah merasa baikan, aku siap mendengar ceritamu..”

Aku menoleh padanya. “mianhae, bukan maksudku ingin mengetahui masalahmu, itupun jika kau ingin berbagi cerita padaku, aku tak keberatan jika memang kau mau. Tapi jika kau tak mau juga tak apa-apa” ucapnya cepat seraya mengibaskan tangannya.

Aku kembali menunduk, berfikir sejenak, apakah aku harus menceritakan masalahku padanya? Separuh hatiku berkata iya. Lalu kuputuskan aku menceritakannya saja padanya.

“ani, aku pun tak keberatan cerita padamu, karena aku merasa ingin berbagi pada seseorang, aku sudah cape memendamnya sendiri.”

“baiklah, ceritakan saja semua unek-unek dalam hatimu aku akan mendengarkannya secara baik-baik, dan jika kau membutuhkan solusiku aku akan berusaha memberi solusi padamu.”

Aku mengangguk, lalu mulai menceritakan masalahku padanya.
“kau tau sendiri kan, bahkan kau sering melihatku menangis sendiri disini karena masalah yang sama..” aku menoleh padanya, ia kini tengah menatapku, benar-benar akan menyimak ceritaku. “sebenarnya itu masalah yang sangat sepele, hanya saja aku terlalu manja membesar-besarkan masalah seperti ini. Aku hanya kesal, aku tau aku ini aneh tapi apakah mereka tak bisa memperlakukanku biasa? Apakah mereka tak bisa untuk sekali saja tidak menindasku? Aku merasa aku semakin tertindas. Aku memang lemah..” ucapku dengan suara parau, hampir saja akan menangis, tapi aku mencoba untuk menahannya.
Dia tetap diam, mungkin menunggu aku melanjutkan ceritaku. “kadang hatiku memberontak untuk menolak atau tidak menuruti mereka, tapi mulutku berbanding terbalik dengan hatiku. Mulutku seolah-olah telah dihipnotis untuk mengiyakan semuanya, rasanya susah sekali untuk bilang kata tidak. Dan akhirnya aku hanya bisa pasrah. Aku harus bagaimana?” aku menunduk, dan menutupi wajahku dengan kedua tanganku, aku tak menangis! Sekuat mungkin aku menahannya, memalukan sekali jika aku telihat lemah seperti ini.
Lalu ia menepuk bahuku, aku membuka wajahku kemudian menoleh padanya.

“aku tau perasaanmu bagaimana, bukan hanya kau yang merasa dirimu itu aneh, tapi aku juga merasa diriku itu aneh. Bahkan hyung-ku pun bilang aku itu aneh, aku itu sangat hyper, terlalu baik atau apalah. Tapi aku menerima semuanya karena itu memang sifatku, tinggal aku sajalah yang mengintrofeksi diri sendiri. Nah, sekarang giliranmu yang harus introfeksi diri, cobalah berubah, kau itu memang baik, tapi jangan menjadi terlalu baik, karena itu takkan baik untukmu. Jika hal itu tak sesuai dengan hatimu cobalah bilang tidak, jangan memaksakan. Arra?” ujarnya panjang lebar, membuatku kagum dengan kata-kata yang barusan ia keluarkan. Mataku berkaca-kaca, bukan karena sedih, tapi aku terharu, masih ada yang peduli padaku selain kedua orang tuaku, masih ada yang mau memberi solusi padaku dengan tulus.

“ne.. gomawo, jeongmal gomawo aku sekarang merasa lebih baik, dan aku mendapat solusi, aku akan berusaha untuk berubah aku tak akan tertindas lagi.” Kataku sedikit membungkuk mengucapkan kata terima kasih padanya.

“ne, cheonma aku senang membantumu. Oh ya tapi jangan terlalu berubah, jika kau berubah untuk tidak menjadi yang tertindas lagi janganlah kau berubah menjadi yang menindas, hahaha.” Ucapnya diselingi tawanya. Akupun ikut tertawa melihatnya tertawa, sungguh ia semakin terlihat tampan jika tertawa seperti itu. Masalah hari itu seketika menghilang dari benakku.


***


Sudah beberapa minggu ini aku berhasil berubah, kini aku sudah bisa menolak apa yang aku tak suka dan tentunya dalam hal yang memang seharusnya aku tolak. Aku dan kedua yeoja itu kembali berteman baik. Semuanya karena Kwangmin. Oh ya hubunganku dengannya pun semakin membaik,em maksudku kita semakin dekat, hmmm entahlah kedekatanku dengan Kwangmin hanya sekedar teman dekat atau lebih aku tak tahu, yang jelas aku merasa nyaman berada di dekatnya. Dan perasaanku pada Youngmin sedikit demi sedikit berkurang, aku pun tak tahu itu mengapa, mungkin aku berpaling pada Kwangmin? Oh sudahlah aku tak tahu.

Bel pulangpun berbunyi, aku bergegas membereksan alat tulisku. Hari ini aku harus cepat-cepat pergi ke aula besar. Karena aku sudah ada janji disana untuk bertemu dengan seseorang, ya siapa lagi kalau bukan Kwangmin. Akhir-akhir ini kami memang sering bertemu oh bukan kami memang sengaja bertemu disana sepulang sekolah. Dia yang setiap hari selalu ada klub musik dan aku yang memang sangat senang berada disana menjadikan kami berdua sering bertemu. Jika ia sedang latihan musik aku selalu menunggunya dan melihatnya latihan, lalu jika setelah ia selesai latihan ia akan datang menghampiriku. Aku selalu membawa bekal untuknya, karena aku tahu pasti ia sangat lelah setelah latihan musik, bukan hanya musik saja ia juga suka sekali dengan dance, dancenya sangat keren!

“kau mau menemuinya lagi?” ucap seseorang yang tiba-tiba saja berdiri disamping mejaku. Aku menoleh kearahnya, oh ternyata Tia, salah satu teman yeojaku itu. Lalu aku tersenyum padanya dan mengangguk penuh semangat.

“aish! Semangat sekali kau, ㅋㅋㅋ sudahlah kalau begitu ku tinggal duluan ya.” Katanya terkekeh “aku juga akan bertemu dengan min woo.” Ucapnya lagi, tapi kali ini nada bicaranya seperti berbisik.
Mataku membulat seketika mendengar nama yang ia panggil “mwo? Kau? Sejak kapan kau dekat dengannya?” jelas saja aku kaget mendengar itu, setauku Tia memang menyukai Minwoo tapi mereka tak saling kenal, lalu bagai mana mereka dekat?

ㅎㅎㅎ sudahlah nanti kuceritakan padamu, aku pergi dulu, daah.”  Katanya lalu pergi seraya melambaikan satu tangannya.

“ya!!!!” teriakku, namun percuma Tia sudah berlari jauh.

Aku menggeleng, dasar yeoja itu memang selalu saja seperti itu. Aku teringat sesuatu, aku melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku sudah pukul 15.30 sepertinya aku harus cepat-cepat ke aula besar, karena pasti Kwangmin sudah menungguku disana.
Aku menyambar tasku dan kotak makanku, lalu berbalik untuk pergi menuju aula besar. Saat didepan pintu hampir saja aku akan menubruk seseorang yang datang secara tiba-tiba didepanku.

“upps” gumamnya.

“ah” pekik ku, aku menghela nafas, huh untung saja kotak makanku tak jatuh. Aku mendongkakan wajahku untuk melihat siapa yang hampir ku tubruk ini. Seketika mataku membulat mendapati siapa yang ada di hadapanku ini, dia Youngmin! Kemudian aku mengalihkan pandanganku, aku tak mau lama-lama menatapnya.

“mianhae Krystal.” Ucapnya.

“gwaenchanha Youngminie.” Balasku, lalu tersenyum tapi aku tak menatapnya, karea takut imanku goyah karenanya -_-.

“Kau mau kemana? Sepertinya terburu-buru sekali?”

“em, aku mau ke aula besar”.

“pasti bertemu dengan Kwangmin kan? Dan makan bersamanya.” Tanyanya lalu melipat tangannya di depan dada.
Aku membelalakan mata, bagaimana dia mengetahui itu “eoddeohke..” gumamku pelan, entah ia mendengarnya atau tidak.

Dia terkekeh “Kau lupa? Aku ini kembarannya Kwangmin, aku hyungnya, dan sebagai hyungnya mana mungkin aku tak tahu. Dia selalu bercerita tentangmu.”

“mwo?” wajahku mungkin sekarang sudah berubah menjadi seperti kepiting rebus, aish malunya aku, kenapa Kwangmin bercerita pada Youngmin. Ah rasanya aku ingin kabur dari hadapan Youngmin sekarang juga! Tapi tidak bisa L

Youngmin membungkukan badan, mau apa dia?
“sepertinya dia meyukaimu.” Bisiknya tepat di telingaku hingga membuatku merinding, geli dan membuat jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Entah lah jantungku berdetak kencang seperti ini karena kalimat yang dibisikan Youngmin atau karena dia membisikiku (?)
Ia mengubah posisinya seperti semula, aku memberanikan diri untuk menatapnya. Aku mengerutkan kening masih berusaha mencerna semuanya, menetralkan jantungku yang tak beraturan ini. Sedangkan dia hanya tersenyum padaku.

“sudahlah, cepat temui dia, mungkin dia sudah menunggumu!.” Katanya seraya menepuk bahuku, lalu ia masuk kedalam kelas.
Aku masih berdiri mematung, mataku terus menatapnya sampai dia masuk kedalam. Sebenarnya apa yang dia lakukan? Membuatku kegeerankah? Atau yang ia katakan itu memang benar? Ah sudahlah. Aku menggelengkan kepala, lalu segera pergi menuju aula besar.


***


Aku tau aku sudah datang terlambat. Pasti Kwangmin sekarang sedang menungguku, duduk bersama pianonya dan mungkin ia sedang mencoba melafalkan rapp yang liriknya ia buat sendiri. Itu salah satu yang membuatku mengaguminnya. Ia seorang rapper yang luar biasa, dan ia juga pandai menyanyi dan bermain alat musik. Tentu saja, karena musik adalah kesukaanku. Tapi tak tahu kenapa aku tak pernah bisa untuk memainkannya. Setiap kali di aula besar aku hanya berbicara pada alat-alat musik itu tanpa memainkan mereka. Jujur saja aku tak bisa sama sekali memainkan mereka. Tapi saat aku dekat dengan alat musik itu dan mendengarkannya hatiku sangat tenang dan damai. Itu memang aneh kan?

Aku membuka pintu aula besar, lalu aku melangkah memasukinya, dengan nafas yang masih tersengal-senggal karena tadi berlari. Sudah kuduga, disini sangat sepi, pasti klub musik sudah selesai latihan dan pulang. Sayup-sayup aku mendengar suara dentingan piano dan seseorang yang sedang mengrapp lagunya. Aku melangkah lebih dalam memasuki aula besar. Dan kulihat seseorang sedang duduk menghadap piano dengan jari-jarinya menari lincah diatas tuts-tuts piano itu. Sudah pasti itu adalah Kwangmin .

She’s a liar an tteonanda haetjanhayo
johatdeon geotdeulman nan gieongnayo waeyo
geudaen eodingayo nan yeogi itjanhayo
tteonaji mayo eotteoke haeya sal su innayo

Kwangmin sepertinya sangat menghayati rappnya, terlihat dari wajahnya. Aku melangkah mendekatinya dan berdiri di sampingnya. Namun ia memberhentikan aktivitasnya, lalu ia menoleh dan tersenyum padaku.

“Ya~ Kwangminie kenapa kau berhenti bernyanyi?”

“Karena kau sudah datang.”

“Mwo? Tapi kenapa kau berhenti? Aku sangat suka mendengarkannya.”

“Sudahlah, nanti ku lanjutkan, mana bekal makanannya? Perutku sudah lapar.”

Mwo? aish namja ini memang kalau sudah berhubungan dengan makanan akan beda sekali urusannya. Aku beranjak duduk disampingnya dan membuka bekal makan itu. Menu makanan kali ini aku membuat kimbab, salah satu makanan kesukaan Kwangmin. Biarpun sederhana kami sangat menikmatinya. Kwangmin bilang masakanku itu enak, dia memintaku untuk membawa bekal makanan kesukaannya setiap hari, dan aku menyanggupi karena aku senang membawakannya bekal.

Suasana sangat hening, padahal tiap kali kita makan pasti Kwangmin akan mengoceh sendiri, menceritakan masalahnya, atau memuji masakanku. Tapi kali ini Kwangmin diam saja, ada apa dengannya?

“Ya~ Kwangminie kau kenapa? Apakah masakanku tidak enak?” tanyaku, karena tak tahan melihat Kwangmin yang sepertinya tidak semangat itu.

“Ani, masakanmu selalu enak, nae gwaenchana.” Jawabnya, sembari tersenyum. Senyumannya berbeda, ada yang mengganjal. Pikirku.

“Mianhae, kau pasti marah karena aku datang terlambat.” Aku menundukkan kepala, menyesali keterlambatanku.

“Aniyo, aku tidak marah sama sekali padamu, apalagi karena terlambat, bukankah itu sudah biasa?” katanya kemudian tertawa, tapi tawanya tidak seperti tawa lucunya, tawanya sekarang amat garing dan jelas sekali seperti yang di paksakan. Aku menatapnya penuh cemas, aku takut ia kenapa-napa, sepertinya ia menyimpan rahasia dariku. Kwangmin sepertinya menyadari aku sedang menatapnya penuh dengan kecemasan, kemudian ia menaruh kotak makannya dan menghadap padaku, lalu tangannya menarik tanganku dan menggenggamnya.

“Percayalah, aku tidak apa-apa, jangan mencemaskan aku.” Ucapnya lembut, disertai senyuman lebut yang seperti biasanya. Aku mulai sedikit lega melihat kembali senyumnya.

“jinja? Syukurlah. Tapi jika kau memiliki masalah ceritakan lah padaku, aku tak keberatan untuk mendengarkannya.”

“Ne, tapi aku tidak apa-apa. Sudah lah ayo cepat habiskan makanmu.”

Aku menyerah! Mungkin dia memang tidak kenapa-napa aku saja yang berlebihan.

Aku merasa bosan, lagi-lagi yang ada hanya keheningan dan suara sumpit yang beradu (?) aku semakin tak nafsu makan. Melihat Kwangmin yang dari tadi hanya mendiamkan ku dan memakan masakan ku sedikit-sedikit. Entah apa yang ada dipikirannya sampai melupakanku seperti ini.

“Kwangminie, tadi saat kau mengerapp lagu tadi, sepertinya kau sangat menghayatinya. Apakah itu lirik rapp ciptaanmu?” tanyaku bersemangat.

Kwangmin diam sejenak, lalu menjawab “Ne.” Tanpa bersemangat. Tapi aku masih semangat untuk terus bertanya padanya tentang rapp itu lagi, karena sepertinya sangat menyentuh.

“apakah lirik rapp itu dibuat untuk seseorang?”
Kwangmin tak menjawab.
“em maksudnya rapp tadi ditunjukin buat seseorang gitu?”
Kwangmin masih diam.
“kurasa seperti itu. Karena tadi kau....”
“Ya~ bisa kah kau diam? Sudahlah nanti kita bicarakan sekarang makan saja dulu.” Aku terhenyak, Kwangmin sedikit membentaku, apakah aku salah? Mungkin, karena dari tadi aku memang tak bisa diam.

“mianhae, habisnya aku bosan, kau mendadak jadi diam begini. Aku sudah kenyang, nafsu makanku menghilang.” Kataku membereskan kotak makanku. Merasa sedikit kesal, apakah dia tak menyadarinya? Dia yang membuatku bosan seperti ini.

“makananmu kan sayang jika tidak di makan, susah-susah kau membuatnya tapi tidak dimakan. Cepat makan.”

“tidak mau! Kau juga seperti itu, percuma saja aku memasaknya untukmu jika kau pun tidak nafsu memakannya.”

Kwangmin menghela nafas, “aku akan memakannya, jadi ayolah kau juga makan.”

“sudah kubilang aku tidak mau! Makanlah sendiri.” Kataku kesal, kenapa sih dia hari ini?

“Ya~ kau ini jangan manja seperti itu, bagaimana jika kau sakit? Ayo makan, mau ku suapi?”

Mwo? apa yang dia katakan? Menyuapiku? Tidak! “Aniyo! Sudahlah kau saja yang makan, cepat habiskan.”
Sepertinya dia sudah mengalah, karena dia tdak berbicara lagi.

“Kwangminie, kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Apa maksud dari rapp yang kau nyanyikan tadi, hmm?” aku benar-benar penasaran sekali, makanya aku akan terus menanyakannya.
Tapi, tiba-tiba Kwangmin menggebrak meja hingga sumpit dan botol air mineral jatuh kebawah. “sudah ku bilang diam lah! Jangan menanyakan hal itu lagi, itu bukan urusanmu!”

Aku sangat syok, Kwangmin kali ini benar-benar membentakku dengan suara yang tinggi. Aku diam mematung, entah sekarang wajahku bagaimana, pucat ataukah merah menahan tangis aku tak tahu. Aku menulan ludah, sorot mata Kwangmin sangat tajam, sepertinya dia memang sangat emosi. Baru kali ini aku melihat dia marah, dan baru kali ini aku dibentak seorang namja. Aku menunduk menyembunyikan wajahku dan menahan agar air mataku tidak jatuh.

“Mi..mianhae..Jeongmal Mianhae Kwangminie.” Ucapku terbata, dan terus menahan tangisan, aku ingin segera keluar untuk menangis. Aku memberanikan diri untuk melihatnya.

“Mianhae, seharusnya aku tau hari ini kau mungkin sedang ada masalah, dan seharusnya aku tidak bebuat seperti ini.” Aku menyambar tasku, lalu berdiri.
“lebih baik aku pulang saja, agar kau bisa menenangkan dirimu, jangan lupa habiskan makananmu.” Kataku lagi, lalu membungkukan badan sembari tersenyum hambar, kemudian aku berlari keluar aula besar.

Ternyata diluar hujan sangat deras, dan suasananya pun sudah sepi karena jam segini semuanya memang sudah pulang. Akhirnya aku menangis, aku tak bisa menahannya lebih lama lagi. Aku berjalan disepanjang koridor sambil terus menangis. Rasanya dadaku sakit sekali, sesak sekali seperti terhimpit bangunan besar, sulit rasanya aku bernafas. Aku terus berjalan, tanpa terasa aku sudah berada dihalaman sekolah dan tubuhku sudah basah kuyup. Aku tak tahu kini aku harus kemana, aku masih belum mau pulang. Akhirnya aku berhenti disini, aku menangis memegangi dadaku yang semakin terasa sakit, sesak! Siapapun tolong aku! Pandanganku semaakin memburam, ntah karena air mata atau air hujan.
Tiba-tiba seseorang datang dan memelukku. “Mianhae Krystal, jeongmal mainhae aku tidak bisa menahan emosiku tadi. Aku sangat menyesal.” Suara itu, suara Kwangmin. Aku membenamkan wajahku didada namja itu sambil terus menangis menahan rasa sesak didada.

Romantis sekalikan berpelukan dibawah guyuran hujan? Ah tapi bagiku itu tidak! Ntahlah aku masih sedikit terpukul atas bentakan Kwangmin terhadapku. Atau mungkin karena aku saja yang berlebihan? Aku tak tahu.
Kwangmin mempererat pelukannya, itu membuatku semakin sesak. Nafasku sesak sekali. “Kwangmin lepas pelukmu, aku sesak.” Gumamku lirih.
“Aniyo! Tidak akan kulepaskan. Mianhae Krystal, mianhae aku sudah membentakmu tadi. Aku tak mau kau pergi, jangan tinggalkan aku. Aku menyesal telah membentakmu, mianhae.”
Hening... yang ada hanya suara hujan yang sedikit demi sedikit mulai mereda. Kwangmin tetap tidak melepas pelukannya, dan aku pun semakin merasa tenang walau masih sesegukan sisa menangis tadi. Kemudian Kwangmin melepas pelukannya dan menatapku. Aku tak berani untuk menatapnya, aku menunduk memperhatikan ujung sepatuku yang telah kotor terkena lumpur. Lalu Kwangmin mengangkat daguku dengan telunjuknya, hingga wajahku terangkat dan mata kami saling beradu. Sial! Kalo sudah begini aku tak mampu untuk mengalihkan mataku dari matanya. Rasanya aku ingin menutupi mukaku, karena pasti saat ini wajahku sangat jelek setelah tadi menangis, aaaa tidak!

“Mianhae Krystal aku sudah membuatmu menangis, pasti saat ini kau sangat membenciku.” Dia menatapku penuh sesal.

Aku menggeleng, aku sama sekali tidak membencinya. hanya saja aku sangat syok saat dia membentakku, aku sadar ini sepenuhnya memang salahku. Aku tak usah seberlebihan ini, dan seharusnya tadi aku diam, tak seharusnya aku memancing emosi Kwangmin.
“Ani, ini salahku aku saja yang berlebihan seperti ini, mian aku membuatmu bersalah.”

“Kau tidak bersalah, aku sadar saat makan tadi aku mendiamkanmu. Wajar saja jika kau bosan dan tidak bisa diam seperti itu.”

Aku tersenyum padanya, dia kembali menjadi Kwangmin yang dulu.

“Ohya..” gumamku, “mianhae....” aku menggantungnya. “mianhae... tadi aku bertanya tentang rapp itu. Sekarang aku tau mungkin itu berkaitan dengan masalah pribadimu, dan itu tak seharusnya aku tahu.
Kwangmin terdiam, ekspresinya berbah murung setelah aku berbicara seperti tadi. Haih apa kata-kataku salah? Babo! Seharusnya aku tadi tidak berbicara seperri itu padanya.
“mianhae, bukan maksudku untuk mengungkit-ungkit lagi masalah itu, aku tau itu bukan urusanku, mianhae Kwangminie.” Ujarku, cepat-cepat meminta maaf, karena aku takut dia marah kepadaku lagi. Tapi kemudian dia menggeleng dan tersenyum.

“tentang rapp itu... itu memang berkaitan sama kehidupanku pribadiku. Tentang yeoja yang kusukai....”

Deg... apa dia bilang yeoja yang dia suka? Siapa yeoja itu? Tanpa terasa ada sesuatu yang menghentam jantungku hingga rasanya sesak, kalo bisa aku ingin menutup telingaku agar aku tak mendengar ceritanya..

“yeoja itu lebih memilih orang lain dari pada aku, padahal sudah jelas-jelas dia mengetahui bahwa aku menyukainya, tapi dia lebih memilih Donghyun-hyung. Mungkin dia menganggapku seperti anak kecil. Aku tau aku umurku dengannya terbilang lumayan jauh, kami beda lima tahun, dan dia sepertinya hanya menganggapku sebagai adiknya saja. Aku terlalu berlebihan hingga sampai menyukainya. Dia sangat perhatian padaku dan aku menganggap itu sesuatau yang lebih.” Kwangmin menghela nafas, aku teteap tak berkomentar menunguya untuk kmbali bercerita. Meski dalam hati aku terus merutuku diriku sendiri. Kalau tau begini aku tak mau mendengarkan dan mengetahui permasalahannya.

“itu terjadi satu tahun yang lalu, dan sejujurnya aku sudah mulai melupakannya, apalagi sekarang disapingku sudah ada kau..”

Mwo? kejadian itu sudah terjadi satu tahun yang lalu? Dan dia melupakannya karena sudah ada aku disampinya? Lalu kenapa dia murung seperti itu? Aku semakin tak mengerti.

“tapi.. kemarin dia datang menemui keluarga kami. Keluargaku dengan keluarganya memang sudah sangat akrab. Dia baru pulang dari jepang untuk menyelesaikan sekolahnya bersama Donghyun-hyung disana. Bertemu dengannya saja sudah membuat hatiku sakit, dan kedatangannya ternyata membawa berita bahwa dia akan bertunangan dengan Donghyun-hyung. Berita itu semakin membuatku tak karuan, kenangan-kenangan masa lalu kembali menggelebat dalam pikiranku, hingga aku murung seperti ini. Dan menciptakan lirik rapp seperti itu, hingga membentak mu. Jeongmal mianhae Krystal.”

Aku tak tahu harus menanggapinya bagaimana. Karena jujur saja selain hatiku sakit mendengar ceritanya aku juga merasa iba padanya, kisah cintanya sangat miris.

“kalau boleh tau yeoja itu siapa?” tanyaku hati-hati, takut-takut dia murka padaku.

Dia mengalihkan pandangannya sambil menerawang dan berkata “Bora-noona”

“mwo? Bora-eonnie?” kataku kaget. Aku sangat mengenal Bora-eonnie dia pelatih tennisku, sekaligus dia guru privat bahasa jepangku. Karena ibuku berteman dekat dengan ibunya Bora-eonnie dan mengetahui bahwa Bora-eonnie bersekolah dijepang, jadilah ibuku menyuruh Bora-eonnie untuk mengajariku bahasa jepang. Belum cukup lama sih, baru beberapa minggu kebelakang. Tapi kami berdua sudah sangat akrab.

“ne, wae? Kau mengenalnya?”

“Ne, aku sangat mengenalnya, dia pelatih tennis dan guru privat bahasa jepangku. Aku tak menyangka ternyata Bora-eonnie adalah yeoja yang kau sukai.”
Memang sangat kebetulan sekali. Eonnie yang selama ini aku kenal ternyata yeoja yang disukai Kwangmin. Pantas saja eonnie dulu pernah bercerita padaku bahwa dulu ada namja kecil yang menyukainya, namun ia tolak karena dia sudah mempunyai Oppanya yang selalu melindunginya kemanapun. Dan ternyata Oppa itu adalah Donghyun Oppa.

Kwangmin kelihatannya terkejut mendengar penyataan bawha Bora-eonnie adalah guruku.
“apakah dia pernah bercerita sesuatu padamu.?

Aku menggeleng, walaupun sebenarnya ada tapi entah aku tak mau jujur pada Kwangmin. “ani, tidak ada..” gumamku.. “em.. apakah kau masih menyukainya?” tanyaku kemudian.

Tapi dia malah menyeringai, membuatku was was, apakah dia masih menyukainya?

“wae? Apakah kau cemburu?” tanyanya.

“mwo? apa maksudmu? Aku hanya bertanya apakah kau masih menyukainya, bukan berarti aku cemburu.” Ujarku sedikit salting, tapi sedikit jaim pula, aku tak mau Kwangmin mengetahuinya bahwa aku memang benar-benar cemburu. Hei!!!! Ini berarti aku sudah menyukai Kwangmin? Sejak kapan? Ah entahlah!!!
Tapi ekspresi Kwangmin berubah menjadi cemberut, sebenarnya dia ini kenapa sih.

“itu dulu! Tapi sekarang aku sudah menyukai yeoja lain.” Ucapnya sembari kembali menyeringai lebar.
Mataku terbelalak, aih namja ini benar-benar membuatku gila, ingin rasanya aku menggigit ujung bantal gulingku saking gemas padanya. Siapa lagi yeoja yang dia  sukai, jangan bilang itu Suli, atau Suzy, atau Jessica-eonnie, atau siapa HAH????

“si..siapa?” tanyaku terpaksa. Sungguh seharusnya aku tak usah bertanya siapa yeoja yang ia sukai, tapi tak tau kenapa mulutku dengan lancang mengeluarkan kata “SIAPA” itu, aih menyebalkan!

“dia adalaaah.....” Kwangmin menggantung kalimatnya, semakin membuatku gregetan. Kalo perlu mending jangan disebutkan1

“Yeoja yang aju sukai adalah...” dia kembali menggangtung kalimatnya. Kali ini benar-benar membuatku kesal.

“Ya! Jangan menggantung seperti itu, kau membuatku penasaran saja!.”

“mwo? kau penasaran? Benarkah?” katanya memamerkan senyuman lebarnya.

“aih sudahlah, jika kau tak mau memberi tahuku tidak usah seperti ini. Aku ingin pulang, hujannya sudah mulai reda.” Kataku sebal lalu membalikan badan, hingga membelakanginnya.

“ya~ kenapa kau marah seperti itu.?

“aku tidak marah!”

“baiklah aku akan memberi tahu mu siapa yeoja yang ku sukai.”
Jangan!!!! Jebal! Jangan bicaraaaa.

“aku menyukai mu.” Bisiknya tepat ditelingaku. Aku mematung seketika. Apakah yang kudengar itu tidak salah? Aku langsung berbalik mengahadapnya. Ia tersenyum kearahku.
“Apa maksudmu?” ucapku setengah bingung.
Dia melangkah mendekatiku lalu menarik tubuhku dan merengkuhnya kedalam pelukannya. Dan dia berkata “saranghaeyo”. Aku tak percaya benarkah dia mencintaiku? Atau aku hanya bermimpi?
Dia melepas pelukannya lalu memegang kedua tanganku dan berlutut dihadapanku. “would you be my girl?” ucapnya sangat romantis. Aku tak berkedip sama sekali, jantungku saat ini sedang bersorak sorai, tapi mulutku sangat susah untuk mengucapkan nado saranghaeyo, atau ya aku mau. Tapi kemudian aku mengangguk dan berkata “ne” sembari tersenyum.
Kwangmin lalu berdiri dan meloncat kegirangan, kemudian dia kembali memelukku dan mengucapkan terimakasih. “gomawo chagiya.” Aku membalas pelukannya dan mengangguk.

Dia melepasnya lagi, lalu dia menatapku penuh kasih aku semakin terlena akan tatapannya. Dia mendekatkan wajahnya padaku, rasanya jantungku ingin copot, apa yang akan dia lakukan? Dia semakin  mendekat hingga tak ada jarak antara kami, lalu aku menutup mataku. Dan sebuah kecupan manis mendarat dibibirku. Sangat lembut dan penuh cinta. Hujan yang tadinya sudah mulai reda kembali turun dengan deras, menjadi saksi kisah cinta kami berdua. Inilah yang dinamakan True Love, cinya yang benar-benar....

-The end-
 

secuil karya avinda Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea