Rabu, 01 Juni 2011

Love Story ~part3~

Posted by Avinda deviana devah at Rabu, Juni 01, 2011
Satu minggu telah berlalu, tiba saatnya Rio dan keluarganya kembali ke kota asalnya, Jakarta, karena waktu liburan telah habis. Hal ini membuat ify setengah gambira dan setengah bersedih. Ify tak mau meninggalkan kota tempat kelahirannya ini hanya untuk bersekolah, tapi di satu sisi keputusan ini menyangkut masa depannya kelak. Ify melamun, termenung sendiri diatas kasurnya, ia memeluk kedua lututnya, membenamkan wajahnya di tumpuan lututnya.

‘cklek’
Suara kenop pintu, sepertinya ada yang masuk kamar, ify mengangkat wajahnya. ‘oh mama’ batinnya, lalu mengubah pose duduknya menjadi bersila. Ify tersenyum tipis pada mamanya yang kini mulai mendekat, lalu mamanya duduk tepat disebelah ify, dan mulai berbicara.

“sayang, kenapa belum siap-siap? Besok kamu kan berangkat ke Jakarta.” Kata mamanya seraya menyisipkan helaian rambut ify kebelakang telinganya. Ify tak menjawab ia hanya menunduk pasrah.

“ify, kamu sudah besar nak, lagi pula di sana ka nada Om Adit sama Tante Maria, mereka akan jadi orang tua kamu di sana, ini juga kan demi cita-cita kamu sayang, disana kamu juga bakal ketemu teman-teman baru. Kamu jangan gini dong.” Ucap sang mama lirih, seraya membelai rambut anak gadisnya itu.


*Flashback on


Beberapa hari setelah kejadian Rio menjahili Ify (part2), Ify di panggil sang ayah untuk menghadapnya di ruang kerja ayahnya. Ify pun memenuhi panggilan sang ayah, ia menghadap ayahnya di ruang kerja. Disana –ruang kerja- sudah ada yang mama yang tengah berdiri di samping ayahnya yang duduk menghadap meja kerjanya. Ayahnya menyuruh ify duduk, tanpa merasa ada sesuatu ify menuruti perintah ayahnya dan duduk berhadapan gengan ayahnya.

“kenapa yah?” tanyanya.

“ify, kamu serius kan sama cita-cita kamu?” sang ayah balik bertanya.
Ify menggrenyitkan kening “ iya yah, memangnya kenapa?”

“kamu ikut om Adit sama Tante Maria ya, kamu akan melanjutkan sekolahmu disana” ujar sang ayah, yang membuat ify tersentak, “dijakarta? Maksudnya?” ucap ify tak mengerti.

“iya, kamu kan ingin cita-citamu tercapai, nah jadi kamu selesain sekolah disana, SMA, kuliah disana, biar mudah, disana kamu tinggal serumah sama om Adit, tante Maria, dan nak Rio, papa udah titipin kamu ke om adit, kamu tak perlu segan-segan pada om adit, ya sayang” jelas sang papa.

Ify semakin tak mengerti, kenapa di Jakarta? Di Bandung juga kan banyak sekolah-sekolah favorit, pikirnya.
“tapi pah, bukannya disini juga banyak sekolah-sekolah bagus? Dan ify juga bisa ko gapai cita-cita disini, tanpa perlu kejakarta.” Protes ify.

“iya papa tau, tapi bukannya dijakarta banyak sekolah yang lebih bagus dari sini?” ujar sang papa.

Ify mendengus ‘iya sih emang banyak, tapi kan sama aja, kalo mau yang lebih bagus kenapa ga nyekolahin gue di Australia aja kaya ka Kiki –sodara ify-‘ ify ngomel sendiri dalam hatinya.

“fy? Ini bukan hal yang sulit ko, kamu tinggal sekolah disana, semuanya ditanggung om adit, papa sama mama janji bakal sering jenguk kamu di sana.” Ujar papanya meyakinkan anak gadisnya.
Ify akhirnya mengangguk pasrah, dia tak bisa lagi membantah perintah papanya.


*Flashback off



“iya deh ma, bantuin ify beres-beres ya ma” kata ify tersenyum, senyuman terpaksa, mamanya hanya menghela nafas, lalu mengangguk. Ify memeluk erat mamanya.

*****


Keesokan hariya…

Ify kini tengah siap untuk meninggalkan kota bandung, orang tua, dea, kenangan-kenangannya dulu, walaupun dengan terpaksa.
Ify menarik kopernya menuju halaman depan rumahnya setelah beberapa menit yang lalu mengucapkan selamat tinggal pada sebuah ruangan yang sudah melekat di hati ify (?), kamarnya. Dan juga setelah mamanya memanggilnya untuk segera keluar.

Ify berjalan gontai menuruni setiap anak tangga, sesekali ia menghela nafas berat. Berat rasanya untuk meninggalkan semuanya disini, ify memejamkan mata berusaha meyakinkan dirinya bahwa ini jalan yang terbaik untuknya. Ia terus berjalan menuju halaman rumahnya dengan senyuman, meskipun senyuman terpaksa.


“lama banget sih lo! Habis ngapain dulu?” suara baritone itu membuncahkan lamunan ify, pemuda itu tengah bersandar dipintu dengan tangan yang dilipat didada, dan pandangannya lurus kedepan.
Ify yang di buyarkan langsung sadar dan bergerutu dalam hati ‘orang ini lagi! Tambah rusak deh mood gue liat dia, tampang sih cakep tapi kelakuan buruk udubillah’ begitulah kira-kira celotehan ify dalam hati. Ify buru-buru melengos dan beranjak dari tempat, sebelum terjadi perang mulut antara dia dan pemuda itu.

“nah, sayang ko kamu lama banget di dalem?” ujar mama ify berjalan mendekati ify, yang barusan keluar rumah, dan hanya di jawab dengan sebuah cengiran dari ify.

sana, masukin kopernya sayang.” Ujar mama ify –lagi- lagi-lagi ify tak menjawab, hanya sebuah anggukan kecil yang ia suguhkan.

Ia menarik kopernya dan berusaha mengangkatnya untuk dimasukkan kedalam bagasi mobil. Tapi ify yang merasa kewalahan karena kopernya berat, sang koperpun akhirnya hampir jatuh –ingat hampir jatuh- tiba-tiba koper itu ditahan oleh seseorang, hingga tak jadi jatuh.

“kalo ga bisa ngangkat sendiri, bilang kek!” kata pemuda itu jengkel.

Ify mendengus, “kalo ga ikhlas nolong ya jangan nolong dong!” ujar ify pelan, hampir tak ada yang mendengar, tapi tentu saja pemuda ini mendengar apa yang ify ucapkan barusan, karena jarak mereka dekat, ya meskipun tak jelas.

“eh? Apa? Gitu juga udah gue tolong! Bukannya bilang makasih.” Kata pemuda itu ketus. Ify hanya memutar bola matanya, lalu melengos dan melipat kedua tangannya didada.

“lagian, koper lo berat banget, bawa apaan sih?” kata pemuda itu –lagi- so’ pura-pura tak tahu, padahal sebenarnya ia tahu, ‘didalam koper itu mungkin ada berlipat-lipat baju, kosmetik, atau apalah barang cewe’ pikirnya.

“BOM!” jawab ify singkat dan asal, lalu meninggalkan Rio –pemuda tadi- menuju kerumunan lain, orang tuanya.

Rio yang cengo lantas menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan berkomat-kamit dalam hati. ‘ya tuhan, bener ga ya itu bom? Kalo bener itu bom, lindungi kami ya tuhan.’ Wajahnya sedikit memucat. Sebenernya komat-kamit yang barusan Rio ucapkan tak seharusnya diucapkan, karena mana mungkin gadis lugu seperti ify membawa bom dalam kopernya –tapi mungkin aja, tapi tentu tidak dengan cerita ini (?)-

Ify yang sedari tadi memeluk erat mamanya dan membenamkan wajah di pelukan mamanya tersenyum senang dan sedikit geli dengan ekspresi wajah Rio barusan. Di hatinya pun kembali muncul rasa yang aneh itu, desiran yang sempat hilang karena kebencian kini telah kembali. Entah mengapa, mungkin karena ia gr diperlakukan seperti tadi. Ify tahu ia hanya merasa kegeeran tapi ia membiarkan rasa ini menyeruak masuk kedalam hatinya, untuk sekedar menghiburnya.

“em.. sudah jam 8 kita berangkat sekarang aja yu!” ujar pria paruh baya itu, membuncahkan suasana.

Ify yang masih memeluk mamanya dan masih tersenyum geli, kini mulai mengendurkan pelukannya dan senyumannya mulai pupus. Waktunya telah tiba! Ify harus pergi meninggalkan kenangan disini, mamanya, papanya, dan… dea.. ‘oh dea dimana dia? Masa ga mau perpisahan sama gue.’ Pekiknya dalam hati, lantas melepaskan pelukanya dari mamanya.

“eh… tunggu sebentar om, ify mau pamitan sama dea.” Katanya dengan suara yang sedikit bergetar. Dan hanya dijawab dengan sebuah anggukkan oleh om adit. Ify tersenyum tipis, belum sempat membalikan badan, tiba-tiba… “ify……………” suara teriakkan itu memanggil ify dari belakang. Ify yang sudah mengenal suara itu langsung membalikkan badan dan berkata “deaaaaa….” Secara antusaias, lalu ify segera berlari kearah dea seraya membentangkan tangan, begitupun dari arah yang berlawanan, dea pun segera berlari dan membentangkan tangan, lalu akhirnya terjadilah peluk memeluk (?) antara ify dan dea –bayangin kaya di film India ._. –

Ify mendengar suara isakan dea semakin menjadi, ‘ya ampun saking sayangnya sama gue kali ya, dea sampe nangis gini.’ Batin ify, terharu. Sementara dea terus terisak, menggigit bawah bibirnya, menahan rasa sakit. “fy…” rintih dea.

“udah cukup de, gue tau lo pasti ga mau kan kalo gue pergi, jangan nangis ya de, ntar gue malah ikut nangis.” Ucap ify bergetar menahan tangis. “bu…bu…bukan itu fy! Hiks hiks..” ujar dea seraya meremas pundak ify.

“aw” rintih ify, “lo kenapa sih de?” kata ify lalu melepas pelukan dea. Dea yang masih terisak hanya menunjuk-nunjuk kebawah, kearah kakinya.
Ify yang tidak mengerti akan dea hanya memasang tampang kebingungan dan bertanya penuh keheranan. “apasih de? Yang jelas dong kalo ngomong!”
Dea lalu memejamkan mata dan menarik nafas panjang-panjang, seperti orang yang sedang mengumpulkan tenaga, lantas berbicara “KAKI GUE FY! KAKI GUE! LO INJEK, SAKIT FY SAKIT! Hiks” katanya dengan lantang dan bergetar di sertai isakkannya. Ify yang sedari tadi menutup telinganya dengan kedua tangannya lalu melirik ke arah kakinya, dan repleks mengangkat kakinya. Dea pun mengangkat dan memegangi kakinya yang kesakitan.

“sory ya de, hehe” kata ify nyengir.

“sakit fy, hiks” kata dea meringis kesakitan.
Lalu ify jongkok mengecek keadaan kaki dea (?) “ga bengkak ko de” gumam ify polos, yang dapat toyoran langsung dari dea.
“aw, apaan sih de, sakit tau!” kata ify meringis kesakitan, mengusap-usap kepalanya.
“ya elosih” kata dea, sekarang sudah mulai tenang, tapi masih sesegukan.

“ify, cepet sudah siang nak” ujar om adit menyuruh ify untuk segera berangkat.

Ify menoleh kearah om adit lalu menghela nafas panjang, dan kembali menoleh kearah dea “de gue pergi ya, jangan lupain gue oke!” pamit ify seraya memegang pundak dea. Lalu beranjak pergi dari situ.

“fy!” panggil dea parau, ify menoleh dan menatap dea dengan tatapan apa-lagi-de?
“jangan pergi dulu dong!” ucap dea manja, ify terkekeh kecil melihat perlakuan sahabatnya ini. Lalu ify kembali menghampiri dea.

“de, gue tau ko lo pasti ga mau kan kalo gue pergi, gue tau lo sayaaaang banget sama gue, tapi gue harus pergi de, sory” kata ify lirih.

Dea menghapus air matanya yang mengalir di pipinya, lalu berbicara “aapan sih lo fy, siapa juga yang sedih kalo lo pergi? Gue seneng malah, ga ada lagi yang cerewet, ga ada lagi yang ngerusak tivi gue!” dea menarik nafas sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya, sedangkan ify mengangkat sebelah alisnya, dan hanya menatap heran bercampur kesal pada dea, lalu akhirnya dea melanjutkan perkataannya “gue sedih tuh soalnya malaikat gue, pangeran ganteng mau pergi ninggalin gue” sambil melirik kearah rio yang sedari tadi bersandar stay cool di pinggir mobilnya dengan hedset yang mengalung di lehernya.

“haah? Lo itu sahabat macem apaan sih hah? gue mau pergi malah kaya gitu” kata ify sedikit membentak dea.
Dea yang sedikit ketakutan langsung tertawa setan (?) “bahahahahahahahwahahaha” sesekali memegang perutnya.
“de? Lo kenapa sih?” kata ify heran, memiringkan kepalanya.

“ify!! Ceper nak!” suara itu memanggil ify sekali lagi.
Ify lalu menoleh kearah suara itu “eh iya om iya, saya kesana” katanya, lalu kembali menoleh ke dea.
“udah deh de, terserah lo gue pergi ya, daaaah!” tanpa basa basi lagi ify membalikan badan dan bersiap meninggalkan dea.
“eh fy!” kata dea buru-buru menarik tangan ify.
“apa?” jawab ify datar.
“sory, gue sayang sama lo, gue tadi Cuma bercanda ko, gue juga ga mau lo pergi, lo jangan lupain gue ya fy!” kata dea tulus, ify pun mulai berkaca-kaca dan memeluk dea.
“gue janji de, lo baik-baik ya disini, gue titip mama sama papa gue ya! Lo sering-sering jenguk mereka ya!”
“pasti fy!”

“ify cepat! Sudah siang sayang!” kini giliran suara maria yang memanggil ify untuk yang ke tiga kalinya.

“gue harus pergi de.” Ujar ify, lalu melepas pelukan dea.
“hati-hati ya fy!” kata dea. Ify hanya mengangguk kecil lalu beranjak dari tempat.

“fy!”kata dea sedikit berteriak memanggil ify. Lalu ify pun menoleh kearah dea.
“jangan rusakin tivi orang lagi ya! Kalo kesel lo telpon gue aja” kata dea.
Ify mengagguk seraya mengangkat kedua jempolnya, ify mulai berkaca-kaca lagi. Lalu ia melanjutkan langkahnya menuju orang tuanya.

“pamitan lama banget sih.” Kata pemuda yang bersandar dimobil tadi.
Ify menghentikan langkahnya sejenak untuk melirik kearah pemuda itu, lalu kembali meneruskan langkahnya menuju orang tuanya.

“maa, paa, ify pergi ya!” lirih ify kepada kesua orang tuanya seraya menyiumi tangan keduanya.

“iya sayang, hati-hati yah, jangan nakal di sana!” kata mamanya mengusap puncak kepala ify.
Ify terkekeh, “mama kira aku anak kecil, nakal” katanya manja.
“bagi mama kamu itu putri kecil mama fy.” Lalu mamanya mencium kening ify.
“fy, jangan bikin om adit sama tante maria kesal sama kamu ya!” kini giliran papa yang angkat bicara.
“siap bos!” kata ify seraya mengangkat satu tangannya memberi hormat pada ayahnya (?)
“hahahaha” merekapun tertawa.
“yasudah fy, ayo kita berangkat!” om adit kembali bicara.
Ify menganggu kecil, dan kembali memeluk erat mama dan papanya, setelah itu ify berjalan menaiki mobil om adit, dan mereka pun siap berangkat.

Deru mesin mobil kini mulai menyala, dan mobilpun mulai berjalan meninggalkan rumah ify, ify melambaikan tangan pada ketiga orang yang berdiri didepan gerbang rumah ify, mamanya, papanya, dan dea. Mereka pun membalas lambaian ify.

0 comments:

Posting Komentar

 

secuil karya avinda Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea