Sabtu, 17 Desember 2011

It's True Love

Posted by Avinda deviana devah at Sabtu, Desember 17, 2011
 It's True Love
 



Author: Avindavahvah (twitt)
Genre: Romance
Type: one shoot
Rating: T
Cast: Jo Kwangmin (boyfriend), Krystal (fx)
Other cast: Jo Youngmin, Tia (chocolate). ~ Minwoo, Donghyun (boyfriend), Bora (sistar).


Annyeong hoehehehe gue kembali nyiptain ff baru nih, tapi ini ff k-pop bukan IC ehehe, mianhae. oya ini ff k-pop pertama gue, so sorry kalo ceritanya masih awur-awuran kan masih amatiran, hehehe. buat yang baca gamsahabnida banget ya udah baca. tolong kasih komentarannya di bawah, oke! :)




***



“Aku tau aku memang aneh, tapi apakah kalian tak bisa memperlakukan ku biasa?” ujarku dengan nada yang sedikit tinggi pada kedua yeoja yang berdiri di hadapanku. Kedua yeoja itu hanya mematung tanpa bisa membalas perkataanku.
Aku semakin muak kepada mereka yang selalu saja menindasku, apakah mereka tidak sadar, mungkin saja mereka mendapatkan kekurangan yang lebih dari pada aku. Tapi ya itulah manusia, hanya bisa menghina orang lain , tanpa sadar dirinya sendiri pun tak sempurna.
Aku menatap mereka tajam, emosiku kali ini benar-benar berada dipuncaknya setelah sekian lama aku bersabar dan menahannya. Salah satu dari yeoja itu menundukkan kepala, mungkin menyesali perbuatannya padaku. Tapi yeoja lainnya tetap memandangku dengan tampang tanpa dosa, dia malah bertanya “ya~ kau ini kenapa? Bukannya ini sudah biasa? Ayolah jangan marah, kita hanya bercanda.” Sungguh aku ingin menendang yeoja satu ini, dia sunggu-sungguh menyebalkan, dengan entengnya ia berbicara begitu tanpa tau bagaimana perasaanku, aish benar-benar!
Wajahku memerah karena emosi, ingin sekali aku berteriak menumpahkan segalanya dengan air mataku. Aku langsung berbalik badan dan berlari meninggalkan mereka bedua, dengan air mata yang sudah berada dipelupuk mataku.
Tanpa mempedulikan berpasang-pasang mata yang melihatku heran, aku terus berlari disepanjang koridor sekolah, menuju tangga yang berada di ujung toilet. Aku akan pergi ke aula besar, tempat dimana aku selalu menumpahkan segala keluh kesahku, tempat aku berbagi suka duka, walau disana hanya ada sebuah piano dan beberapa alat musik lainnya, tapi aku merasa nyaman berada disana ditemani dengan alat-alat musik yang suaranya selalu membuat hatiku damai.
Aku terus berlari, menitik satu persatu anak tangga sampai akhir. Pintu aula besar sudah terlihat tinggal kurang lebih lima meter dariku. Aku berhenti sejenak untuk menghela nafas yang tersenggal-senggal dan menyeka air mataku yang sudah tumpah. Tempat ini selalu sepi, karena disini hanya ada satu ruangan aula besar dan dua gudang, dan tempat ini akan ramai jika ada pelajaran atau sesuatu yang memungkinkan untuk menggunakan aula.
Aku melanjutkan langkahku dengan lari kecil, karena tinggal beberapa meter lagi aku sampai di aula besar. Seperti biasa pintu aula selalu tertutup, tapi tak pernah terkunci atau dikunci. Aku melangkah masuk kedalam aula, kulangkahkan kakiku pada sebuah piano yang bertengger di pinggir bawah panggung. Aku duduk disana, manumpahkan segalanya, menumpahkan rasa kesalku. Aku menangis sejadi-jadinya aku sungguh kesal. Seaneh apakah diriku ini? Sebenarnya aku itu bagai mana?

“sebenarnya apa yang salah dariku? Seaneh apakah diriku? Mengapa mereka menganggapku seperti itu, seperti yeoja babo?” kataku meracau sendiri entah pada siapa aku berbicara, yang jelas setiap kali kesini aku pasti akan berbicara sendiri. Sambil terus terisak, aku beringsut dari dudukku, kini aku duduk memeluk lutut dilantai dan membenamkan wajah diantara lututuku, dengan isakan yang semakin menjadi.

“kau tak aneh, itu bukanlah suatu kesalahan ataupun keanehan dari dirimu. Tapi itu adalah sikapmu, itu sifatmu. Jangan menyalahkan diri sendiri.” Ujar seseorang yang entah dari siapa dan dari mana asalnya. Aku menghentikan isakanku, mengangkat pelan-pelan wajahku untuk melihat siapa yang berbicara itu.

Omo! Hampir saja aku terlonjak kaget saat mendapati siapa yang telah berjongkok dihadapanku. Dia Jo Kwangmin, anak kelas sebelah. Tentu saja aku mengenalnya mesikpun dia tidak sekelas denganku, karena dia memiliki saudara kembar bernama Jo Youngmin yang kebetulan sekelas denganku, aku mengetahuinya dari dia. Dan sebenarnya aku memiliki perasaan pada Youngmin, namun itu tak mungkin....
Tunggu apa yang ia lakukan disini? Apakah dia mengikutiku sampai sini? Atau tak sengaja ia melihatku dan akhirnya dia mengikutiku? Aaah itu sama saja! Hey apa-apaan aku ini pede sekali.

“eoddeohke...”ucapku nyaris berbisik, kurasa dia tak mendengarnya, em bukan kuharap dia tak mendengarnya.
Kemudian ia tersenyum padaku, lalu mengulurkan sebuah sapu tangan berwarna jingga padaku. Aku mengerutkan kening, apa yang ia lakukan. Aku menatapnya heran, lalu berganti menatap sapu tangannya.

“ambilah, lalu hapus air matamu dengan ini. Kajja!” gumamnya sangat lembut, senyuman dari bibirnya masih tersungging manis.
Dengan ragu aku mengambil sapu tangan itu “gamsahabnida” ucapku lirih. Lalu aku menghapus air mataku. Sapu tangan ini sangat lebut, selembut pemiliknya, dan sangat wangi.

“ne..” dia berdiri, aku menegadah melihatnya, ia sangat tinggi, tanpa diduga dia membungkukan badannya lalu mengulurkan satu tangannya.
“berdirilah, ku bantu.” Katanya, masih tersenyum. Tuhan dia baik sekali.
Aku menatap uluran tangannya, kemudian menunduk memejamkan mata sejenak, lalu kubuka lagi. Dan akhirnya aku menerima uluran tangan darinya.
Kini aku berdiri berhadapan dengannya, tak ada perasaan apapun, aku masih merasa sedikit syok atas kedatangannya yang tiba-tiba itu. Karena tak ingin menahan lagi, akupun bertanya padanya.

“kenapa kau ada disini? Apakah kau...” ucapanku menggantung.

“ani, aku tadi memang sedang berada disini untuk membereskan alat musik yang barusan dipakai. Hari ini adalah jadwal piketku diklub musik.” Jawabnya cepat sebelum aku meneruskan kalimatku.
Aku hanya membulatkan mulutku membentuk huruf O tanpa bersuara.

“saat aku sedang membereskan tasku dan berniat untuk keluar, tiba-tiba saja aku mendengar sedikit keributan yang akhirnya aku mendengar suara tangisan. Dan ternyata itu memang kau, sudah ku duga.”
Aku mengerutkan keningku, apa maksud perkataanya, kenapa dia bisa menduga bahwa itu aku? Memangnya dia pernah melihatku menangis sebelum ini? Sepertinya dia mengerti arti tatapan heranku yang kulayangkan padanya. Ia menarik nafas, dan mulai berbicara.

“sebenarnya aku sudah sering melihatmu menangis disini, mendengar kau berbicara sendiri. Tapi aku tak pernah mencoba untuk menemuimu seperti ini. Namun kali ini aku tak tega melihatmu menangis lagi seperti ini, dengan masalah yang –kelihatannya- sama....”

Aku membelalakan mataku, jadi... dia sering melihatku menangis seperti ini disini? Tapi kenapa dia tak muncul dihadapanku.

“mianhae, jeongmal mianhae Krystal karena aku berbuat seperti ini.” Ucapnya lagi, kini dengan nada menyesal, raut wajahnya pun berubah menjadi menyesal, mungkin melihat ekspresi mukaku yang kaget. Bukan karena itu, dia juga mengetahui namaku. Dari mana dia mengetahuinya? Ah tapi sudahlah aku tak tega melihat wajah tampanya menampakan penyesalan karenaku.

“gwaenchanha.” Aku membuka suara, meski suaraku terdengar parau, aku memaksakan seulas senyum yang kuharap senyuman ini bisa membayar penyesalannya.

Dia kembali tersenyum padaku, mungkin merasa lega karena aku tak marah.

“baiklah, ayo kita duduk disana.” Ajaknya seraya menarik tanganku. Omo! Apa yang ia lakukan, ia menggenggam tanganku, padahal baru saja kita saling mengenal -----maksudku baru –kali ini- saja kami mengobrol, itu pun tanpa disengaja. Aku sedikit terkejut namun aku menurut saja. Dia mengajakku duduk di dikursi piano yang tadi kududuki. Aku dan dia duduk berdampingan dikursi piano panjang itu. Aku masih diam tak ingin membuka suara, karena masih syok atas kejadian yang beruntun ini, kemudian ia mengulurkan sebuah botol air mineral dan sebungkus coklat kehadapanku, aku menoleh padanya, melemparkan tatapan bertanya, sedikit alisku terangkat.

“makan dan minum lah ini, ini akan membuatmu merasa lebih baik.” Katanya, oh sungguh! Senyumnya tak pernah menghilang dari bibirnya, membuatku sedikit melambung tinggi menerima perlakuan seperti ini dengan di beri seulas senyuman manis bak malaikat yang tak pernah hilang dari bibir dan wajah tampannya.
Merasa tak enak hati karena dari tadi aku menyusahkannya, aku melemparkan pandangan padanya lagi, kali ini pandanganku seolah-olah aku berbicara –apa-tak-apa-apa-kau-membantuku-seperti-ini?
Sepertinya ia mengarti tatapanku itu, ia menaikan satu alisnya lalu berbicara “tak apa-apa, ambilah aku senang membantumu, atau jangan-jangan kau yang tak suka kehadiranku disini?” suaranya berubah menjadi sedikit hati-hati saat mengucapkan kalimat terakhir.

“aniyo..” ucapku cepat, bukan itu maksudku aku hanya tak mau menyusahkan orang lain atas kelakuanku ini. “bukan itu maksudku...” ucapanku menggantung.

“sudahlah ambil lah saja ini, aku tau perasaanmu masih kacau, dengan ini kau akan merasa lebih baik.”
Karena terus didesak aku jadi tak tega untuk menolaknya, lagi pula yang ia berikan padaku adalah coklat, makanan yang paling kusukai, makanan yang selalu membuat aku tenang, oh tunggu dari mana dia mengetahui kalo aku menyukai coklat? Hei Krystal kau ini mikir apa, mana mungkin dia mengetahuinya, ini mungkin hanya kebetulaaan! Aish apasih yang aku pikirkan, aku menggelengkan sedikit kepalaku, lalu dengan ragu aku meraih coklat dan air mineral itu.

“bagaimana? Sudah merasa baikan?”

Aku mengangguk, lalu aku meminum ai mineral itu. Aku masih menunduk, menggenggam erat botol air mineral itu, sambil menggembungkan kedua pipiku, entahlah pikiranku sangat kacau kali ini.

“jika kau sudah merasa baikan, aku siap mendengar ceritamu..”

Aku menoleh padanya. “mianhae, bukan maksudku ingin mengetahui masalahmu, itupun jika kau ingin berbagi cerita padaku, aku tak keberatan jika memang kau mau. Tapi jika kau tak mau juga tak apa-apa” ucapnya cepat seraya mengibaskan tangannya.

Aku kembali menunduk, berfikir sejenak, apakah aku harus menceritakan masalahku padanya? Separuh hatiku berkata iya. Lalu kuputuskan aku menceritakannya saja padanya.

“ani, aku pun tak keberatan cerita padamu, karena aku merasa ingin berbagi pada seseorang, aku sudah cape memendamnya sendiri.”

“baiklah, ceritakan saja semua unek-unek dalam hatimu aku akan mendengarkannya secara baik-baik, dan jika kau membutuhkan solusiku aku akan berusaha memberi solusi padamu.”

Aku mengangguk, lalu mulai menceritakan masalahku padanya.
“kau tau sendiri kan, bahkan kau sering melihatku menangis sendiri disini karena masalah yang sama..” aku menoleh padanya, ia kini tengah menatapku, benar-benar akan menyimak ceritaku. “sebenarnya itu masalah yang sangat sepele, hanya saja aku terlalu manja membesar-besarkan masalah seperti ini. Aku hanya kesal, aku tau aku ini aneh tapi apakah mereka tak bisa memperlakukanku biasa? Apakah mereka tak bisa untuk sekali saja tidak menindasku? Aku merasa aku semakin tertindas. Aku memang lemah..” ucapku dengan suara parau, hampir saja akan menangis, tapi aku mencoba untuk menahannya.
Dia tetap diam, mungkin menunggu aku melanjutkan ceritaku. “kadang hatiku memberontak untuk menolak atau tidak menuruti mereka, tapi mulutku berbanding terbalik dengan hatiku. Mulutku seolah-olah telah dihipnotis untuk mengiyakan semuanya, rasanya susah sekali untuk bilang kata tidak. Dan akhirnya aku hanya bisa pasrah. Aku harus bagaimana?” aku menunduk, dan menutupi wajahku dengan kedua tanganku, aku tak menangis! Sekuat mungkin aku menahannya, memalukan sekali jika aku telihat lemah seperti ini.
Lalu ia menepuk bahuku, aku membuka wajahku kemudian menoleh padanya.

“aku tau perasaanmu bagaimana, bukan hanya kau yang merasa dirimu itu aneh, tapi aku juga merasa diriku itu aneh. Bahkan hyung-ku pun bilang aku itu aneh, aku itu sangat hyper, terlalu baik atau apalah. Tapi aku menerima semuanya karena itu memang sifatku, tinggal aku sajalah yang mengintrofeksi diri sendiri. Nah, sekarang giliranmu yang harus introfeksi diri, cobalah berubah, kau itu memang baik, tapi jangan menjadi terlalu baik, karena itu takkan baik untukmu. Jika hal itu tak sesuai dengan hatimu cobalah bilang tidak, jangan memaksakan. Arra?” ujarnya panjang lebar, membuatku kagum dengan kata-kata yang barusan ia keluarkan. Mataku berkaca-kaca, bukan karena sedih, tapi aku terharu, masih ada yang peduli padaku selain kedua orang tuaku, masih ada yang mau memberi solusi padaku dengan tulus.

“ne.. gomawo, jeongmal gomawo aku sekarang merasa lebih baik, dan aku mendapat solusi, aku akan berusaha untuk berubah aku tak akan tertindas lagi.” Kataku sedikit membungkuk mengucapkan kata terima kasih padanya.

“ne, cheonma aku senang membantumu. Oh ya tapi jangan terlalu berubah, jika kau berubah untuk tidak menjadi yang tertindas lagi janganlah kau berubah menjadi yang menindas, hahaha.” Ucapnya diselingi tawanya. Akupun ikut tertawa melihatnya tertawa, sungguh ia semakin terlihat tampan jika tertawa seperti itu. Masalah hari itu seketika menghilang dari benakku.


***


Sudah beberapa minggu ini aku berhasil berubah, kini aku sudah bisa menolak apa yang aku tak suka dan tentunya dalam hal yang memang seharusnya aku tolak. Aku dan kedua yeoja itu kembali berteman baik. Semuanya karena Kwangmin. Oh ya hubunganku dengannya pun semakin membaik,em maksudku kita semakin dekat, hmmm entahlah kedekatanku dengan Kwangmin hanya sekedar teman dekat atau lebih aku tak tahu, yang jelas aku merasa nyaman berada di dekatnya. Dan perasaanku pada Youngmin sedikit demi sedikit berkurang, aku pun tak tahu itu mengapa, mungkin aku berpaling pada Kwangmin? Oh sudahlah aku tak tahu.

Bel pulangpun berbunyi, aku bergegas membereksan alat tulisku. Hari ini aku harus cepat-cepat pergi ke aula besar. Karena aku sudah ada janji disana untuk bertemu dengan seseorang, ya siapa lagi kalau bukan Kwangmin. Akhir-akhir ini kami memang sering bertemu oh bukan kami memang sengaja bertemu disana sepulang sekolah. Dia yang setiap hari selalu ada klub musik dan aku yang memang sangat senang berada disana menjadikan kami berdua sering bertemu. Jika ia sedang latihan musik aku selalu menunggunya dan melihatnya latihan, lalu jika setelah ia selesai latihan ia akan datang menghampiriku. Aku selalu membawa bekal untuknya, karena aku tahu pasti ia sangat lelah setelah latihan musik, bukan hanya musik saja ia juga suka sekali dengan dance, dancenya sangat keren!

“kau mau menemuinya lagi?” ucap seseorang yang tiba-tiba saja berdiri disamping mejaku. Aku menoleh kearahnya, oh ternyata Tia, salah satu teman yeojaku itu. Lalu aku tersenyum padanya dan mengangguk penuh semangat.

“aish! Semangat sekali kau, ㅋㅋㅋ sudahlah kalau begitu ku tinggal duluan ya.” Katanya terkekeh “aku juga akan bertemu dengan min woo.” Ucapnya lagi, tapi kali ini nada bicaranya seperti berbisik.
Mataku membulat seketika mendengar nama yang ia panggil “mwo? Kau? Sejak kapan kau dekat dengannya?” jelas saja aku kaget mendengar itu, setauku Tia memang menyukai Minwoo tapi mereka tak saling kenal, lalu bagai mana mereka dekat?

ㅎㅎㅎ sudahlah nanti kuceritakan padamu, aku pergi dulu, daah.”  Katanya lalu pergi seraya melambaikan satu tangannya.

“ya!!!!” teriakku, namun percuma Tia sudah berlari jauh.

Aku menggeleng, dasar yeoja itu memang selalu saja seperti itu. Aku teringat sesuatu, aku melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku sudah pukul 15.30 sepertinya aku harus cepat-cepat ke aula besar, karena pasti Kwangmin sudah menungguku disana.
Aku menyambar tasku dan kotak makanku, lalu berbalik untuk pergi menuju aula besar. Saat didepan pintu hampir saja aku akan menubruk seseorang yang datang secara tiba-tiba didepanku.

“upps” gumamnya.

“ah” pekik ku, aku menghela nafas, huh untung saja kotak makanku tak jatuh. Aku mendongkakan wajahku untuk melihat siapa yang hampir ku tubruk ini. Seketika mataku membulat mendapati siapa yang ada di hadapanku ini, dia Youngmin! Kemudian aku mengalihkan pandanganku, aku tak mau lama-lama menatapnya.

“mianhae Krystal.” Ucapnya.

“gwaenchanha Youngminie.” Balasku, lalu tersenyum tapi aku tak menatapnya, karea takut imanku goyah karenanya -_-.

“Kau mau kemana? Sepertinya terburu-buru sekali?”

“em, aku mau ke aula besar”.

“pasti bertemu dengan Kwangmin kan? Dan makan bersamanya.” Tanyanya lalu melipat tangannya di depan dada.
Aku membelalakan mata, bagaimana dia mengetahui itu “eoddeohke..” gumamku pelan, entah ia mendengarnya atau tidak.

Dia terkekeh “Kau lupa? Aku ini kembarannya Kwangmin, aku hyungnya, dan sebagai hyungnya mana mungkin aku tak tahu. Dia selalu bercerita tentangmu.”

“mwo?” wajahku mungkin sekarang sudah berubah menjadi seperti kepiting rebus, aish malunya aku, kenapa Kwangmin bercerita pada Youngmin. Ah rasanya aku ingin kabur dari hadapan Youngmin sekarang juga! Tapi tidak bisa L

Youngmin membungkukan badan, mau apa dia?
“sepertinya dia meyukaimu.” Bisiknya tepat di telingaku hingga membuatku merinding, geli dan membuat jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Entah lah jantungku berdetak kencang seperti ini karena kalimat yang dibisikan Youngmin atau karena dia membisikiku (?)
Ia mengubah posisinya seperti semula, aku memberanikan diri untuk menatapnya. Aku mengerutkan kening masih berusaha mencerna semuanya, menetralkan jantungku yang tak beraturan ini. Sedangkan dia hanya tersenyum padaku.

“sudahlah, cepat temui dia, mungkin dia sudah menunggumu!.” Katanya seraya menepuk bahuku, lalu ia masuk kedalam kelas.
Aku masih berdiri mematung, mataku terus menatapnya sampai dia masuk kedalam. Sebenarnya apa yang dia lakukan? Membuatku kegeerankah? Atau yang ia katakan itu memang benar? Ah sudahlah. Aku menggelengkan kepala, lalu segera pergi menuju aula besar.


***


Aku tau aku sudah datang terlambat. Pasti Kwangmin sekarang sedang menungguku, duduk bersama pianonya dan mungkin ia sedang mencoba melafalkan rapp yang liriknya ia buat sendiri. Itu salah satu yang membuatku mengaguminnya. Ia seorang rapper yang luar biasa, dan ia juga pandai menyanyi dan bermain alat musik. Tentu saja, karena musik adalah kesukaanku. Tapi tak tahu kenapa aku tak pernah bisa untuk memainkannya. Setiap kali di aula besar aku hanya berbicara pada alat-alat musik itu tanpa memainkan mereka. Jujur saja aku tak bisa sama sekali memainkan mereka. Tapi saat aku dekat dengan alat musik itu dan mendengarkannya hatiku sangat tenang dan damai. Itu memang aneh kan?

Aku membuka pintu aula besar, lalu aku melangkah memasukinya, dengan nafas yang masih tersengal-senggal karena tadi berlari. Sudah kuduga, disini sangat sepi, pasti klub musik sudah selesai latihan dan pulang. Sayup-sayup aku mendengar suara dentingan piano dan seseorang yang sedang mengrapp lagunya. Aku melangkah lebih dalam memasuki aula besar. Dan kulihat seseorang sedang duduk menghadap piano dengan jari-jarinya menari lincah diatas tuts-tuts piano itu. Sudah pasti itu adalah Kwangmin .

She’s a liar an tteonanda haetjanhayo
johatdeon geotdeulman nan gieongnayo waeyo
geudaen eodingayo nan yeogi itjanhayo
tteonaji mayo eotteoke haeya sal su innayo

Kwangmin sepertinya sangat menghayati rappnya, terlihat dari wajahnya. Aku melangkah mendekatinya dan berdiri di sampingnya. Namun ia memberhentikan aktivitasnya, lalu ia menoleh dan tersenyum padaku.

“Ya~ Kwangminie kenapa kau berhenti bernyanyi?”

“Karena kau sudah datang.”

“Mwo? Tapi kenapa kau berhenti? Aku sangat suka mendengarkannya.”

“Sudahlah, nanti ku lanjutkan, mana bekal makanannya? Perutku sudah lapar.”

Mwo? aish namja ini memang kalau sudah berhubungan dengan makanan akan beda sekali urusannya. Aku beranjak duduk disampingnya dan membuka bekal makan itu. Menu makanan kali ini aku membuat kimbab, salah satu makanan kesukaan Kwangmin. Biarpun sederhana kami sangat menikmatinya. Kwangmin bilang masakanku itu enak, dia memintaku untuk membawa bekal makanan kesukaannya setiap hari, dan aku menyanggupi karena aku senang membawakannya bekal.

Suasana sangat hening, padahal tiap kali kita makan pasti Kwangmin akan mengoceh sendiri, menceritakan masalahnya, atau memuji masakanku. Tapi kali ini Kwangmin diam saja, ada apa dengannya?

“Ya~ Kwangminie kau kenapa? Apakah masakanku tidak enak?” tanyaku, karena tak tahan melihat Kwangmin yang sepertinya tidak semangat itu.

“Ani, masakanmu selalu enak, nae gwaenchana.” Jawabnya, sembari tersenyum. Senyumannya berbeda, ada yang mengganjal. Pikirku.

“Mianhae, kau pasti marah karena aku datang terlambat.” Aku menundukkan kepala, menyesali keterlambatanku.

“Aniyo, aku tidak marah sama sekali padamu, apalagi karena terlambat, bukankah itu sudah biasa?” katanya kemudian tertawa, tapi tawanya tidak seperti tawa lucunya, tawanya sekarang amat garing dan jelas sekali seperti yang di paksakan. Aku menatapnya penuh cemas, aku takut ia kenapa-napa, sepertinya ia menyimpan rahasia dariku. Kwangmin sepertinya menyadari aku sedang menatapnya penuh dengan kecemasan, kemudian ia menaruh kotak makannya dan menghadap padaku, lalu tangannya menarik tanganku dan menggenggamnya.

“Percayalah, aku tidak apa-apa, jangan mencemaskan aku.” Ucapnya lembut, disertai senyuman lebut yang seperti biasanya. Aku mulai sedikit lega melihat kembali senyumnya.

“jinja? Syukurlah. Tapi jika kau memiliki masalah ceritakan lah padaku, aku tak keberatan untuk mendengarkannya.”

“Ne, tapi aku tidak apa-apa. Sudah lah ayo cepat habiskan makanmu.”

Aku menyerah! Mungkin dia memang tidak kenapa-napa aku saja yang berlebihan.

Aku merasa bosan, lagi-lagi yang ada hanya keheningan dan suara sumpit yang beradu (?) aku semakin tak nafsu makan. Melihat Kwangmin yang dari tadi hanya mendiamkan ku dan memakan masakan ku sedikit-sedikit. Entah apa yang ada dipikirannya sampai melupakanku seperti ini.

“Kwangminie, tadi saat kau mengerapp lagu tadi, sepertinya kau sangat menghayatinya. Apakah itu lirik rapp ciptaanmu?” tanyaku bersemangat.

Kwangmin diam sejenak, lalu menjawab “Ne.” Tanpa bersemangat. Tapi aku masih semangat untuk terus bertanya padanya tentang rapp itu lagi, karena sepertinya sangat menyentuh.

“apakah lirik rapp itu dibuat untuk seseorang?”
Kwangmin tak menjawab.
“em maksudnya rapp tadi ditunjukin buat seseorang gitu?”
Kwangmin masih diam.
“kurasa seperti itu. Karena tadi kau....”
“Ya~ bisa kah kau diam? Sudahlah nanti kita bicarakan sekarang makan saja dulu.” Aku terhenyak, Kwangmin sedikit membentaku, apakah aku salah? Mungkin, karena dari tadi aku memang tak bisa diam.

“mianhae, habisnya aku bosan, kau mendadak jadi diam begini. Aku sudah kenyang, nafsu makanku menghilang.” Kataku membereskan kotak makanku. Merasa sedikit kesal, apakah dia tak menyadarinya? Dia yang membuatku bosan seperti ini.

“makananmu kan sayang jika tidak di makan, susah-susah kau membuatnya tapi tidak dimakan. Cepat makan.”

“tidak mau! Kau juga seperti itu, percuma saja aku memasaknya untukmu jika kau pun tidak nafsu memakannya.”

Kwangmin menghela nafas, “aku akan memakannya, jadi ayolah kau juga makan.”

“sudah kubilang aku tidak mau! Makanlah sendiri.” Kataku kesal, kenapa sih dia hari ini?

“Ya~ kau ini jangan manja seperti itu, bagaimana jika kau sakit? Ayo makan, mau ku suapi?”

Mwo? apa yang dia katakan? Menyuapiku? Tidak! “Aniyo! Sudahlah kau saja yang makan, cepat habiskan.”
Sepertinya dia sudah mengalah, karena dia tdak berbicara lagi.

“Kwangminie, kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Apa maksud dari rapp yang kau nyanyikan tadi, hmm?” aku benar-benar penasaran sekali, makanya aku akan terus menanyakannya.
Tapi, tiba-tiba Kwangmin menggebrak meja hingga sumpit dan botol air mineral jatuh kebawah. “sudah ku bilang diam lah! Jangan menanyakan hal itu lagi, itu bukan urusanmu!”

Aku sangat syok, Kwangmin kali ini benar-benar membentakku dengan suara yang tinggi. Aku diam mematung, entah sekarang wajahku bagaimana, pucat ataukah merah menahan tangis aku tak tahu. Aku menulan ludah, sorot mata Kwangmin sangat tajam, sepertinya dia memang sangat emosi. Baru kali ini aku melihat dia marah, dan baru kali ini aku dibentak seorang namja. Aku menunduk menyembunyikan wajahku dan menahan agar air mataku tidak jatuh.

“Mi..mianhae..Jeongmal Mianhae Kwangminie.” Ucapku terbata, dan terus menahan tangisan, aku ingin segera keluar untuk menangis. Aku memberanikan diri untuk melihatnya.

“Mianhae, seharusnya aku tau hari ini kau mungkin sedang ada masalah, dan seharusnya aku tidak bebuat seperti ini.” Aku menyambar tasku, lalu berdiri.
“lebih baik aku pulang saja, agar kau bisa menenangkan dirimu, jangan lupa habiskan makananmu.” Kataku lagi, lalu membungkukan badan sembari tersenyum hambar, kemudian aku berlari keluar aula besar.

Ternyata diluar hujan sangat deras, dan suasananya pun sudah sepi karena jam segini semuanya memang sudah pulang. Akhirnya aku menangis, aku tak bisa menahannya lebih lama lagi. Aku berjalan disepanjang koridor sambil terus menangis. Rasanya dadaku sakit sekali, sesak sekali seperti terhimpit bangunan besar, sulit rasanya aku bernafas. Aku terus berjalan, tanpa terasa aku sudah berada dihalaman sekolah dan tubuhku sudah basah kuyup. Aku tak tahu kini aku harus kemana, aku masih belum mau pulang. Akhirnya aku berhenti disini, aku menangis memegangi dadaku yang semakin terasa sakit, sesak! Siapapun tolong aku! Pandanganku semaakin memburam, ntah karena air mata atau air hujan.
Tiba-tiba seseorang datang dan memelukku. “Mianhae Krystal, jeongmal mainhae aku tidak bisa menahan emosiku tadi. Aku sangat menyesal.” Suara itu, suara Kwangmin. Aku membenamkan wajahku didada namja itu sambil terus menangis menahan rasa sesak didada.

Romantis sekalikan berpelukan dibawah guyuran hujan? Ah tapi bagiku itu tidak! Ntahlah aku masih sedikit terpukul atas bentakan Kwangmin terhadapku. Atau mungkin karena aku saja yang berlebihan? Aku tak tahu.
Kwangmin mempererat pelukannya, itu membuatku semakin sesak. Nafasku sesak sekali. “Kwangmin lepas pelukmu, aku sesak.” Gumamku lirih.
“Aniyo! Tidak akan kulepaskan. Mianhae Krystal, mianhae aku sudah membentakmu tadi. Aku tak mau kau pergi, jangan tinggalkan aku. Aku menyesal telah membentakmu, mianhae.”
Hening... yang ada hanya suara hujan yang sedikit demi sedikit mulai mereda. Kwangmin tetap tidak melepas pelukannya, dan aku pun semakin merasa tenang walau masih sesegukan sisa menangis tadi. Kemudian Kwangmin melepas pelukannya dan menatapku. Aku tak berani untuk menatapnya, aku menunduk memperhatikan ujung sepatuku yang telah kotor terkena lumpur. Lalu Kwangmin mengangkat daguku dengan telunjuknya, hingga wajahku terangkat dan mata kami saling beradu. Sial! Kalo sudah begini aku tak mampu untuk mengalihkan mataku dari matanya. Rasanya aku ingin menutupi mukaku, karena pasti saat ini wajahku sangat jelek setelah tadi menangis, aaaa tidak!

“Mianhae Krystal aku sudah membuatmu menangis, pasti saat ini kau sangat membenciku.” Dia menatapku penuh sesal.

Aku menggeleng, aku sama sekali tidak membencinya. hanya saja aku sangat syok saat dia membentakku, aku sadar ini sepenuhnya memang salahku. Aku tak usah seberlebihan ini, dan seharusnya tadi aku diam, tak seharusnya aku memancing emosi Kwangmin.
“Ani, ini salahku aku saja yang berlebihan seperti ini, mian aku membuatmu bersalah.”

“Kau tidak bersalah, aku sadar saat makan tadi aku mendiamkanmu. Wajar saja jika kau bosan dan tidak bisa diam seperti itu.”

Aku tersenyum padanya, dia kembali menjadi Kwangmin yang dulu.

“Ohya..” gumamku, “mianhae....” aku menggantungnya. “mianhae... tadi aku bertanya tentang rapp itu. Sekarang aku tau mungkin itu berkaitan dengan masalah pribadimu, dan itu tak seharusnya aku tahu.
Kwangmin terdiam, ekspresinya berbah murung setelah aku berbicara seperti tadi. Haih apa kata-kataku salah? Babo! Seharusnya aku tadi tidak berbicara seperri itu padanya.
“mianhae, bukan maksudku untuk mengungkit-ungkit lagi masalah itu, aku tau itu bukan urusanku, mianhae Kwangminie.” Ujarku, cepat-cepat meminta maaf, karena aku takut dia marah kepadaku lagi. Tapi kemudian dia menggeleng dan tersenyum.

“tentang rapp itu... itu memang berkaitan sama kehidupanku pribadiku. Tentang yeoja yang kusukai....”

Deg... apa dia bilang yeoja yang dia suka? Siapa yeoja itu? Tanpa terasa ada sesuatu yang menghentam jantungku hingga rasanya sesak, kalo bisa aku ingin menutup telingaku agar aku tak mendengar ceritanya..

“yeoja itu lebih memilih orang lain dari pada aku, padahal sudah jelas-jelas dia mengetahui bahwa aku menyukainya, tapi dia lebih memilih Donghyun-hyung. Mungkin dia menganggapku seperti anak kecil. Aku tau aku umurku dengannya terbilang lumayan jauh, kami beda lima tahun, dan dia sepertinya hanya menganggapku sebagai adiknya saja. Aku terlalu berlebihan hingga sampai menyukainya. Dia sangat perhatian padaku dan aku menganggap itu sesuatau yang lebih.” Kwangmin menghela nafas, aku teteap tak berkomentar menunguya untuk kmbali bercerita. Meski dalam hati aku terus merutuku diriku sendiri. Kalau tau begini aku tak mau mendengarkan dan mengetahui permasalahannya.

“itu terjadi satu tahun yang lalu, dan sejujurnya aku sudah mulai melupakannya, apalagi sekarang disapingku sudah ada kau..”

Mwo? kejadian itu sudah terjadi satu tahun yang lalu? Dan dia melupakannya karena sudah ada aku disampinya? Lalu kenapa dia murung seperti itu? Aku semakin tak mengerti.

“tapi.. kemarin dia datang menemui keluarga kami. Keluargaku dengan keluarganya memang sudah sangat akrab. Dia baru pulang dari jepang untuk menyelesaikan sekolahnya bersama Donghyun-hyung disana. Bertemu dengannya saja sudah membuat hatiku sakit, dan kedatangannya ternyata membawa berita bahwa dia akan bertunangan dengan Donghyun-hyung. Berita itu semakin membuatku tak karuan, kenangan-kenangan masa lalu kembali menggelebat dalam pikiranku, hingga aku murung seperti ini. Dan menciptakan lirik rapp seperti itu, hingga membentak mu. Jeongmal mianhae Krystal.”

Aku tak tahu harus menanggapinya bagaimana. Karena jujur saja selain hatiku sakit mendengar ceritanya aku juga merasa iba padanya, kisah cintanya sangat miris.

“kalau boleh tau yeoja itu siapa?” tanyaku hati-hati, takut-takut dia murka padaku.

Dia mengalihkan pandangannya sambil menerawang dan berkata “Bora-noona”

“mwo? Bora-eonnie?” kataku kaget. Aku sangat mengenal Bora-eonnie dia pelatih tennisku, sekaligus dia guru privat bahasa jepangku. Karena ibuku berteman dekat dengan ibunya Bora-eonnie dan mengetahui bahwa Bora-eonnie bersekolah dijepang, jadilah ibuku menyuruh Bora-eonnie untuk mengajariku bahasa jepang. Belum cukup lama sih, baru beberapa minggu kebelakang. Tapi kami berdua sudah sangat akrab.

“ne, wae? Kau mengenalnya?”

“Ne, aku sangat mengenalnya, dia pelatih tennis dan guru privat bahasa jepangku. Aku tak menyangka ternyata Bora-eonnie adalah yeoja yang kau sukai.”
Memang sangat kebetulan sekali. Eonnie yang selama ini aku kenal ternyata yeoja yang disukai Kwangmin. Pantas saja eonnie dulu pernah bercerita padaku bahwa dulu ada namja kecil yang menyukainya, namun ia tolak karena dia sudah mempunyai Oppanya yang selalu melindunginya kemanapun. Dan ternyata Oppa itu adalah Donghyun Oppa.

Kwangmin kelihatannya terkejut mendengar penyataan bawha Bora-eonnie adalah guruku.
“apakah dia pernah bercerita sesuatu padamu.?

Aku menggeleng, walaupun sebenarnya ada tapi entah aku tak mau jujur pada Kwangmin. “ani, tidak ada..” gumamku.. “em.. apakah kau masih menyukainya?” tanyaku kemudian.

Tapi dia malah menyeringai, membuatku was was, apakah dia masih menyukainya?

“wae? Apakah kau cemburu?” tanyanya.

“mwo? apa maksudmu? Aku hanya bertanya apakah kau masih menyukainya, bukan berarti aku cemburu.” Ujarku sedikit salting, tapi sedikit jaim pula, aku tak mau Kwangmin mengetahuinya bahwa aku memang benar-benar cemburu. Hei!!!! Ini berarti aku sudah menyukai Kwangmin? Sejak kapan? Ah entahlah!!!
Tapi ekspresi Kwangmin berubah menjadi cemberut, sebenarnya dia ini kenapa sih.

“itu dulu! Tapi sekarang aku sudah menyukai yeoja lain.” Ucapnya sembari kembali menyeringai lebar.
Mataku terbelalak, aih namja ini benar-benar membuatku gila, ingin rasanya aku menggigit ujung bantal gulingku saking gemas padanya. Siapa lagi yeoja yang dia  sukai, jangan bilang itu Suli, atau Suzy, atau Jessica-eonnie, atau siapa HAH????

“si..siapa?” tanyaku terpaksa. Sungguh seharusnya aku tak usah bertanya siapa yeoja yang ia sukai, tapi tak tau kenapa mulutku dengan lancang mengeluarkan kata “SIAPA” itu, aih menyebalkan!

“dia adalaaah.....” Kwangmin menggantung kalimatnya, semakin membuatku gregetan. Kalo perlu mending jangan disebutkan1

“Yeoja yang aju sukai adalah...” dia kembali menggangtung kalimatnya. Kali ini benar-benar membuatku kesal.

“Ya! Jangan menggantung seperti itu, kau membuatku penasaran saja!.”

“mwo? kau penasaran? Benarkah?” katanya memamerkan senyuman lebarnya.

“aih sudahlah, jika kau tak mau memberi tahuku tidak usah seperti ini. Aku ingin pulang, hujannya sudah mulai reda.” Kataku sebal lalu membalikan badan, hingga membelakanginnya.

“ya~ kenapa kau marah seperti itu.?

“aku tidak marah!”

“baiklah aku akan memberi tahu mu siapa yeoja yang ku sukai.”
Jangan!!!! Jebal! Jangan bicaraaaa.

“aku menyukai mu.” Bisiknya tepat ditelingaku. Aku mematung seketika. Apakah yang kudengar itu tidak salah? Aku langsung berbalik mengahadapnya. Ia tersenyum kearahku.
“Apa maksudmu?” ucapku setengah bingung.
Dia melangkah mendekatiku lalu menarik tubuhku dan merengkuhnya kedalam pelukannya. Dan dia berkata “saranghaeyo”. Aku tak percaya benarkah dia mencintaiku? Atau aku hanya bermimpi?
Dia melepas pelukannya lalu memegang kedua tanganku dan berlutut dihadapanku. “would you be my girl?” ucapnya sangat romantis. Aku tak berkedip sama sekali, jantungku saat ini sedang bersorak sorai, tapi mulutku sangat susah untuk mengucapkan nado saranghaeyo, atau ya aku mau. Tapi kemudian aku mengangguk dan berkata “ne” sembari tersenyum.
Kwangmin lalu berdiri dan meloncat kegirangan, kemudian dia kembali memelukku dan mengucapkan terimakasih. “gomawo chagiya.” Aku membalas pelukannya dan mengangguk.

Dia melepasnya lagi, lalu dia menatapku penuh kasih aku semakin terlena akan tatapannya. Dia mendekatkan wajahnya padaku, rasanya jantungku ingin copot, apa yang akan dia lakukan? Dia semakin  mendekat hingga tak ada jarak antara kami, lalu aku menutup mataku. Dan sebuah kecupan manis mendarat dibibirku. Sangat lembut dan penuh cinta. Hujan yang tadinya sudah mulai reda kembali turun dengan deras, menjadi saksi kisah cinta kami berdua. Inilah yang dinamakan True Love, cinya yang benar-benar....

-The end-

0 comments:

Posting Komentar

 

secuil karya avinda Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea