Minggu, 29 Mei 2011

Love Story ~part 2~

Posted by Avinda deviana devah at Minggu, Mei 29, 2011

Celah-celah cahaya mulai masuk dari balik jendela kamar gadis itu. Waktu pun telah menunjukan jam 10 pagi. Tetapi sang empunya kamar masih terlelap dalam dekapan selimut tebalnya. Ify hari ini benar-benar tak niat untuk bangun, meskipun berkali-kali mamanya mengetuk pintu untuk membangunkan dan menyuruh sarapan, tapi ify enggan untuk turun, ia malas sekali untuk bangun ‘sabodo deh, dari pada bangun mending tidur, puasa-puasa aja deh sekalian’ pikirnya. Ada dua hal yang membuat ify malas bangun. 1) ify memang masih sangat ngantuk karena semalam begadang nonton film favorietnya, 2) ify malas kalo ketemu pemuda yang semalam, rio. Karena rio menginap di rumahnya, dan untuk satu minggu ini rio bakal terus-terusan dirumah ify, alasannya untuk menghabiskan liburan sekolahnya.

Saat ify akan menutup matanya kembali untuk tidur, tiba-tiba di luar sana ada yang mengetuk pintunya.

“si mama udah di bilangin ya! Heuh” dengus ify pelan.
“ma, ify masih ngantuk, ify mau puasa aja gak bakal makan.” Kata ify sedikit berteriak.

“ck, lo cewe-cewe ko pemalas yah, jam segini belum bangun” kata orang di luar sana.
Ify melotot, suara baritone itu? Suara pemuda yang tadi malam, Rio.
Ify segera merubah posisi tidurnya menjadi duduk. Haduh kenapa orang itu sih?

“woy fy, bangun” kata rio lagi.
Kalau harus bangun, ify benar-benar males, tapi di satu sisi dia merasa malu.

“eh fy, kalo lo ga bangun, nanti kita tinggalin lo nih!” kata rio agak mengancam.
Ify mengangkat sebelah alisnya, cowo itu main ngancam ternyata, sebenarnya ify tak takut diancam seperti itu sama rio, tapi masalahnya rio bilang “nanti kita tinggalin lo!” berarti kan yang bakal pergi semuanya, termasuk pama mamanya. Kalo sih yang pergi Cuma si kaka rio itu, ify tak peduli.

“emm, maksud kaka apa?” ify memberanikan diri untuk bertanya.

“ck, kita mau pergi, kalo lo mau ikut, cepet turun 10 menit lagi, ga lebih ya!” kata rio lalu pergi.

“hah, pergi kemana ka?” ify bertanya sekali lagi, tapi tak ada jawaban, artinya Rio sudah pergi dari tempat itu.

Ify melirik jam weker di samping tempat tidurnya. 10 menit? Ck, bentar banget gue mandi normal aja  hamper 30 menit, apalagi belum milih bajunya , ah sial. Desah ify mengacak-acak rambutnya. Lalu ify segera bergegas mandi, memilih baju, berdandan, dan… selesai, ify sudah siap. Kini ia memakai T-shirt abu, senada dengan rok paying selutut, dan sepatu kindsnya.

“oke, gue siap. Cuma telat 5 menit gak papa lah.” Gumam ify lalu ia berlari menuruni tangga, saat tiba di anak tangga terakhir, ify melirik meja makannya, ada sepotong roti, buruburu ia ambil dan berlari menuju ruang tamu.

“pagi mah, pagi pah, om, tante.” Ify menyapa satu persatu orang yang duduk di kursi ruang tamu itu, masih mengunyah rotinya.

“loh? Ko kalian melum siap?” kata ify heran. Sang mama menggrenyitkan dahi.

“pergi kemana fy?” kata mamanya bingung.

“loh, kata kak rio tadi waktu bangunin ify, katanya 10 menit lagi mau pergi mah.” Ify makin bingung.

“eh? Mamah tadi emang nyuruh nak rio buat bangunin kamu, tapi mama gak ada acara kemana-mana fy, sekarang.” Terang sang mama.

“ya ampun fy, kamu di bohongin rio.” Tante maria ikut bicara.

Semuanya, papa, mamanya ify, om adit, tante maria tertawa, melihat ify menderita dijahili rio. Ify yang menderita hanya menunduk malu, menahan emosi. ‘ternyata gue diboongin, sialan!!’ umpat ify dalam hati.

“hahaha, eh elo telat 5 menit tau!” suara baritone itu terdengar mengejek ify.
Saat mendengar suara itu, ify langsung menoleh dan melotot ke asal suara itu keluar.

“eh elo katanya mau puasa, ko makan roti, itu tu yang ada di tangan lo” kata rio menunjuk-nunjuk roti yang di genggam ify.

Semua orang yang ada di ruangan itu tertawa, terutama rio, ia tertawa sangat puas melihat wajah ify yang merah menahan amarah dan malu. Ify mengepalkan kedua tangannya, dan roti itu ify remas-remas. ‘gue udah ga tahan dirumah, mending gue keluar deh’ batinnya yang meledak-ledak. Lalu ify membalikan badan dan berlari keluar rumah.



****


Ify yang kini berada di rumah sahabatnya, hanya bisa cemberut mengingat kejadian yang menimpanya tadi di rumah. Ify mencurahkan isi hatinya kepada sahabat karibnya ini. Setiap ify memiliki masalah, atau bosen dirumah, yang menjadi pelariannya untuk menenangkan diri adalah rumah sahabatnya.
Seorag gadis hitam manis yang memiliki mata cokelat kehitaman adalah sahabat setia ify Dea crista Amanda, yang akrab di panggil dea.

Ify duduk di sofa ruang keluarga dea, sambil memencet tombol remote tv dan memindah-mindahkan chanel tv asal-asalan sesuka hatinya. Ia masih terlihat sangat kesal, sesekali ify mendesah.

“fy, lama-lama tv gue rusak dong!” suara itu membuncahkan lamunan ify yang sedari tadi memencet tombol remote, ify mengalaihkan pandangan dari arah tv kea rah suara itu, ify hanya memutar bola matanya, lalu melengos lagi kea rah tv. Dea yang melihat tingkah ify hanya menggeleng kecil.

“sini ah, tar tv gue rusak.” Kata dea, merebut remote tv dari tangan ify.
“ah, lo ga asik.” Kata ify manyun dan meletakkan kedua tangannya di dada.

“elaaah, kalo tv gue rusak, lo mau ganti rugi apa? Udah dua tv tau lo rusakin, sekarang lo mau ngerusakin lagi, gila bisa bangkrut bokap gue, ckck.” Kata dea agak jengkel di selingi candaan. Ya memang sudah dua tv milik keluarga dea yang ify rusakin, karena setiap ify kesal pelampiasannya pasti remote dan tv, ckck aneh. Dan kebangetan laginya ify tak bertanggung jawab, ia malah kabur. Sebenarnya orang tua ify berusaha mengganti tv dea dengan yang baru, tapi di tolak oleh keluarga dea.

“hehe, iya ya de, sory ya dea” kata ify nyengir, sambil menggaruk-garuk kepala yang tak gatal.

“huu dasar lo.” Kata dea menoyor kepala ify, ify yang mendapatkan itu malah kembali manyun.




Di rumah, tante maria terlihat sangat cemas, sedangkan mamanya ify terlihat sanai dengan membolak-balikan halaman demi halaman majalah yang ia baca.

“mba, ify kemana? Apa dia gak papa?” Tanya maria pada mamanya ify.

“tenang aja maria, ify memang begitu kalau lagi kesal pasti dia pergi, paling juga Cuma kerumah temannya.” Kata mama ify santai seraya membolak-balikan majalahnya.

“aduh mba, tapi saya gak enak sama ify.. hmm.. rio kamu sih cari ify sana.” Maria menyuruh rio untuk mencari ify.
Rio yang sedang santai menonton tv mendesah pelan.
“udah lah mah, kata tante ify kan ga papa, mama kenapa sih khawatir banget, ckck” decak rio dengan polos

“Rio! Kamu ko gitu, sana cari!” mamanya melotot dan sedikit membentak rio.

“ck, oke sekarang ify dimana?” kata rio kesal.
Maria tersenyum kecil, lslu membalikan badan dan bertanya pada lisa –mama ify- “mba, ify dimana?”
“rio mau nyari ify? Emm dia ada di rumah dea, rumahnya kehalang dua rumah dari sini, di sebelah kanan, yang cat rumahnya warna ijo.” Lisa memberi tau dimana kini ify berada, rio hanya mengangguk pelan, sedikit terpaksa. Lalu mulai melangkah kan kakinya, tapi kemudian sang mama bicara.
“eh, ajak dia jalan-jalan juga yo!  Kasian dia udah rapi gitu.” Kalimat yang barusan terucapkan dari mulut sang mama membuat rio menghentikan langkahnya, dan semakin kesal,  ‘ck, apa-apaan sih mama’ batinnya, kemudian rio membalikan badan kearah mamanya. Sebelum sempat bicara, mamanya telah lebih dulu berbicara.

“ayolah, kamu kan yang bohongin dia, sana! Kota bandung masih sama seperti 10 tahun yang lalu, gak ada yang berubah jadi ga mungkin kan kalo kamu lupa.” Ujar sang mama, dengan tangan yang menyilang didepan dada. Membuat rio semakin kesal, rio memutar bola matanya, lalu berbalik badan dan pergi, dengan stay cool dan kedua tangannya dimasukan kedalam saku celananya. Kedua wanita itu hanya tersenyum senang melihat punggung rio yang semakin menjauh.



***


“fy! Dia ada di luar!” kata dea, matanya berbinar-binar.
Ify heran, kenapa sahabatnya ini sedang terkagum-kagum, seperti sudah melihat sesuatu yang amazing –luar biasa-. “dia siapa de?”

“dia, cowo itu, yang lo omongin itu” senyum dea semakin merekah. Ify menggeleng tak percaya “wah kayaknya lo udah di taklukin ya de” nada bicara ify dibuat-buat seperti orang yang tak kalah takjub dari dea.

“ifyyyyyyyyyy……..” dea mengguncang-guncang bahu ify, sampai sang empunya bahu terkulai lemas.

“dia malaikat fy! Malaikat! Oh god, senyumnya ah..” kata dea memegangi kedua pipinya dengan kedua tangannya, sambil menerawang membayangkan sesuatu. Ify memutar bola matanya ‘sidea udah disihir kayaknya’ batinnya.

 “dih, biasa aja kali de.” Ujar ify, padahal sebenarnya pikiran dea dengannya sama.
“eh dia ngapain kesini.” Katanya dibuat seolah-olah malas berbicara, yang sebenarnya memang penasaran.

“nyariin lo dodol! Sana temuin, lo mah ngeganggu gue berkhayal aja ya!” gerutu dea setengah kesal

Ify yang tahu kalau sahabatnya ini tengah asik berkhayal, langsung menemui si topik pembicaraan dirinya dengan dea tadi, Rio, tanpa permisi pada dea.

Sebenarnya ify malas untuk menemui rio, tapi ya harus bagaimana lagi, karena hatinya memang terus meronta-ronta ingin menemui pemuda itu. Ify berjalan menuju luar rumah dea dengan gontai. Dilihatnya pemuda itu sedang berdiri tegak dengan kedua tangannya dimasukan kedalam saku celananya –lagi-
Ify berdehem kecil, tapi tak ada respon dari pemuda itu, ify mendesah pelan, dan memulai untuk berbicara.

“ada apa ya kaka nyari saya?” katanya dengan so’
“heu, lama banget!” gumam rio, lalu menarik lengan ify dengan kasar, dan pergi meninggalkan rumah dea.

0 comments:

Posting Komentar

 

secuil karya avinda Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea