Jumat, 15 Juli 2011

First Love part 1

Posted by Avinda deviana devah at Jumat, Juli 15, 2011 0 comments
Bau rumput basah di taman pagi ini menyeruak masuk kedalam indra penciuman seorang gadis yang tengah asik menelusuri jalan setapak di taman ini. Berkali-kali ia mengirup udara yang menyejukkan ini, hingga memenuhi rongga dadanya seraya merentangkan tangan dan memejamkan matanya, lalu perlahan-lahan ia hembuskan lagi tanpa tersisa.
Gadis ini memakai T-sirt lengan panjang, berwarna hijau dengan garis-garis, dan celana jeans berwarna hitam. Tas selempang kecil berwarna caramel tersampir dipundak kanannya. Dan rambut yang dibiarkan terurai panjang melewati bahunya, anak-anak rambutnya menari-nari terbawa semilir angin sejuk.
Kemudian ia membuka matanya lagi dan menarik kedua ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman. Ia menoleh ke kanan, banyak bunga-bunga cantik yang tumbuh disana, bermacam-macam warna merah, kuning, biru. Banyak juga kupu-kupu dan kumbang yang terbang diatas bunga-bunga itu. ada sebuah kursi kayu panjang berwarna coklat kusam yang kulitnya sudah mulai terkelupas bertengger disana. Rumput-rumput hijau yang terawat mengelilingi kursi dan bunga-bunga disana. Memperindah suasana di tempat itu. lalu ia menoleh kesebelah kiri, hamparan rumput hijau yang banyak di tumbuhi tumbuhan asoka dan bugenvile, terlihat sangat indah. Banyak anak-anak kecil yang saling berkejar-kejaran, ada juga yang sedang duduk dengan satu tangan memegang ice cream dan satu tangan yang lain memegang sebuah balon yang di ikat dengan benang. Sangat lucu sekali, banyak cairan es yang berceceran di sekitar mulutnya. Gadis ini terkekeh melihat anak kecil yang belepotan cairan es krim itu. “kaya gue waktu kecil ya” gumamnya. Lalu ia mengalihkan pandangan pada seorang wanita muda yang sedang hamil berjalan-jalan ditemani sang suami. Bibir gadis itu menipis ketika melihat sepasang suami istri itu. kemudian ia mengalihkan pandangan kedepan dan kembali berjalan dengan memasang sebuah senyuman manis di wajahnya.

Gadis tadi lalu duduk di sebuah kursi panjang berwarna putih yang berada di tengah taman di dekat air mancur. Ia melilik jam berwarna biru laut yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, lalu menghela napas. Sepertinya ia sedang menunggu seseorang. Sambil menunggu ia mengayun-ayunkan kedua kakinya dengan tangan yang memegang tepian kursi.


“shillaaaaa.” Seseorang datang menyapanya seraya menepuk pundak gadis yang bernama shilla itu.

Shilla menoleh lalu tersenyum, orang yang ia tunggu akhirnya datang juga.

“hay cha” katanya masih tersenyum.

“hehe sory ya lama.” Kata gadis yang shilla panggil cha itu.

“ga papa ko cha, duduk sini.” Ujarnya mempersilahkan acha duduk. Lalu acha mengangguk dan duduk di samping shilla.

“emm, ada apa cha? Ga biasanya lo ngajak gue ketemuan gini??” Tanya shilla setelah berhadapan dengan acha.

“hehe, ga apa sih, gue mau nemuin lo sama seseorang shill.” Jawab acha dengan cengiran khasnya.

Kening shilla berkerut, lalu ia tertawa “hahaha. Gaya lu, pake mau nemuin gue sama seseorang segala, emang siapa cha?” katanya.

“ih lo pasti nanti kaget shill, lo udah kenal ko sama dia.” Kata acha.

Shilla mengangkat satu alisnya, sedikit heran dengan kalimat yang di ucapkan acha barusan. “hah? Emang siapa sih cha?” kata shilla penasaran.

“haha, udah deh nanti lo juga tau.”

“ih achaa ga asik.” Kata shilla seraya membalikkan badan dengan tangan melipat didada dan bibir yang membentuk seperti kerucut.

“hahaha, eh iya..” acha menggantung kalimatnya, hingga membuat shilla berbalik menghadapnya. “lo.. masih inget sama first love lo dulu ga?” acha melanjutkan kalimatnya dengan nada menggoda seraya menaik turunkan alisnya.

Shilla membulatkan bola matanya “achaaaaa ngapain lo Tanya-tanya ituuuuu?” kata shilla, ia merasakan wajahnya memanas.

“hahaha, muka lo merah shill.” Kata acha tertawa seraya menunjuk wajah shilla. Sedangkan shilla hanya mengembungkan kedua pipinya lalu membuang muka.

“lo berati masih inget dong.” Ucap acha lagi.

“ih chaaa udah deh ga usah di ungkit, itukan masih jaman gue SD masih anak kecil, lagian udah dari 5 taun yang lalu, masih aja lo inget.” Kata shilla mengomeli acha gaya ala ibu-ibu yang mengomeli anaknya karena anaknya nakal. Lalu mengerucutkan bibirnya.

Acha kembali tertawa “hahahaha”. “ya iyalah gue inget, first love lo kan sepupu gue, setiap ada apa-apa lo lari ke gue, ngasih surat, nangis-nangis, semuanya kan kegue, hahaha.” Kata acha lagi, lalu menjulurkan lidah saat menyelesaikan kalimatnya.

Wajah shilla semakin memanas, semburat merah muda timbul di permukaan pipi pualamnya, lalu ia memalingkan muka dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

“apaan sih cha, udah deh ga usah di ungkit.” Katanya kemudian.

“haha, iye iye.” Kata acha, kemudian ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, jarum pendek itu telah menunjukan ke angka 9, sedangkan jarum panjangnya menunjuk ke angka 6, sudah dari 15 menit yang lalu ia datang ketempat ini untuk menemui teman semasa SDnya ini, seharusnya ia kesini tidak sendirian, tapi karena seseorang yang bersamanya itu mampir dulu ke toko buku, jadi ia lebih dulu menemui shilla.

Keheningan tercipta diantara kedua gadis cantik ini Shilla memilih untuk bersandar pada kursi dengan menghentak-hentakkan kakinya dan tangan menyilang didepan dada. Sedangkan Acha terus berkutat dengan ponselnya.
Shilla perlahan menghela nafas, lalu mengerjapkan matanya, sekilas melirik acha yang masih sibuk dengan ponselnya, teringat pada ponsel, shilla langsung merogoh ponselnya yang berada di tas kecilnya. Sesaat kemudian shilla menekan salah satu tombol ponsel itu hingga ponsel ditangannya menyala, tapi sedetik kemudian shilla mengerucutkan bibirnya. Tak ada apa-apa di sana, tak ada pesan atau pun telpon yang masuk, hanya ada foto dirinya yang tengah tersenyum. Sepi banget sih, kemana orang-orang, si via kemana biasanya ngesms, si cakka juga kemana, biasanya nelpon, ah gila apa hp gue yang rusak. Gumamnya dalam hati seraya mengemukul-mukul hapenya dengan tangannya.
Disampinganya, acha sedikit terganggu oleh aktivitas shilla, ia menoleh kearah shilla, lalu mengangkat sebelah alisnya. Acha melirik shilla, lalu melirik lagi ke ponsel yang berada di tangan shilla. Kemudian acha menggeleng-gelengkan kan kepalanya.

“shill?” panggil acha.

Shilla menoleh pada acha yang kelihatannya heran, lalu ia melirik pada tangan dan ponselnya, kemudian ia menghentikkan aktivitasnya, dan kembali menoleh pada acha lalu memamerkan cengiran kudanya. Acha hanya menggeleng-gelengkan kepala.

“ngapain shill? Hape lo rusak?” Tanya acha.

“hah.. em.. engga, eh em iya, eh ngga ding, bosen aja gitu ehehe.” Kata shilla sedikit gelagapan.
Acha hanya membulatkan mulutnya membentuk huruf O seraya menganggukkan kepala, kemudian berbicara. “bosen? Atau lagi nunggu telpon dari seseorang?”

“ha? Apaan, ngga ko, lagian siapa yang mau nelpon gue, ga ada cha, haha.” ujar shilla santai.

“emang lo ga punya cowo?” Tanya acha keheranan, shilla tersenyum kemudian menggeleng.

“masa sih? Lo belum pacaran dari SD dulu?”

“yeeeh enak aja, ya pacaran lah pas gue SMP, tapi Cuma sekali sih, hehe.”

“Cuma sekali? Sama siapa?  Ga mungkin deh lo kan cantik pasti banyak yang kecantol sama lo.”

“biarpun sekali juga ga masalah ko, yang pentingkan pacaran.” Katanya mengerucutkan lagi bibirnya, “sama temen SMP gue waktu kelas 9, itu juga Cuma beberapa bulan, gue cantik dari mana coba, kalo iya cantik seharusnya cowo yang gue taksir mau kan sama gue.” Lanjutnya.

“sama siapa? Sama siapa? Lo naksir siapa sekarang?” kata acha antusias.

Shilla memutar bola matanya “itu dulu sih sama Riko, terus sekarang naksir sama Alvin, cumaaa…” kata shilla menggantung kalimatnya, ia lalu menundukkan kepala  “gue, cinta gue bertepuk sebelah tangan, dia ga ngerespon gue cha.” Shilla melanjutkan kalimatnya.

Acha mengangkat sebelah alisnya “masa sih dia ga suka lo? Lo kan cantik shill, banget malah.” Ujar acha.

“yaya gue cantik, tapi lo harus inget cha cinta itu ngga diliat dari tampang, iya gue cantik, kata siapapun juga, tapi orang yang gue suka ngga liat tampang gue, karena cinta emang ga liat dari apa-apa kan, kalo Cuma liat dari tampang gue itu namanya bukan cinta tapi kekaguman.”  Kata shilla pandangannya lurus menerawang kedepan.

“wow, lo dapet dari mana tuh kata-kata?” kata acha, matanya berbinar-binar, seperti mengagumi kata-kata shilla.

Shilla mengangkat bahu, lalu kembali menatap acha. “sebenernya dapet dari novel sih, hehe.”

“nyeeeh gue kira lo dapet sendiri tuh kata-kata.” Cibir acha

“hehe ngga lah, tapi ya gue juga dapet pelajaran dari kata-kata itu cha” katanya tersenyum pada acha.

“hmm oke bagus lah, terus gimana lo tuh sama si Alvin?”

“apanya?”

“lo masih suka?”

“iya sih, tapi gue mau nyoba move on aja deh.”

“oh gitu.” Acha mengangguk-ngangguk kecil, “em.. kalo sama yang mau gue temuin gimana shill?” lanjutnya.

“lu kira move on gampang cha? Oh iya keingetan, emang siapa sih yang mau lo temuin ke gue? Perasaan ga dateng-dateng.” Kata shilla kemudian menoleh ke sebelah kanan dan kiriknya, mencari orang yang akan acha temui dengannya.

“gue yakin bisa shill, gue rasa dia juga lagi move on kok.” Acha menghela nafas sebelum melanjutkan bicaranya. “bentar lagi nyampe ko, dia lagi di jalan, tunggu aja ya.” Ujar acha seraya menepuk-nepuk pundak shilla.

“oh oke.” Katanya menganggukkan kepala.

Mereka berdua akhirnya tenggelam dalam sebuah obrolan yang asyik, hingga akhirnya seorang pemuda datang dan melambaikan tangan pada acha. Acha menyadari kedatangan dan lambaian pemuda tadi, ia membalas lambaiannya sembari tersenyum. Shilla heran, pada siapa acha melambaikan tangan? Apa orang yang acha bilang sudah sampai? Shilla memutar badannya kebelakang, karena orang itu memang ada beberapa meter di belakang shilla.
Shilla memicingkan matanya, mencoba melihatnya dengan jelas, seorang cowo perawakannya tinggi, memakai kaos putih bertuliskan huruf R yang dijahit memakai benang kuning di dada sebelah kirinya, dan celana jeans hitam panjang lalu dengan sepatu kinds berwarna putih. Satu tangan pemuda itu menjinjing sebuah plastic dengan tulisan Gramedia, dan tangan lainnya di sembunyikan di balik saku celananya. Pemuda itu semakin mendekat, hingga akhirnya shilla dapat dengan jelas melihat wajah pemuda itu. Matanya membulat ketika pemuda itu tepat dua langkah berada di depannya, pemuda itu tersenyum pada shilla, lalu mengalihkan pandangan pada acha, dan berjalan menghampiri acha.
Sedangkan shilla masih terpaku di tempat, mulutnya menganga matanya berbinar-binar.
‘tuhan itu tadi apa? Malaikat? Atau pangeran atau apa? Cakep banget, mimpi ngga sih gue?’ berkali-kali shilla menggumamkan kalimat itu dalam hati. Terlalu asik dalam pikirannya, shilla tak mendengar suara acha memanggilnya.

“shill..” panggilan pertama

“shill..” panggilan kedua,

Hingga akhirnya… “shillaaaaaaaa.”  Acha menepuk pundak shilla sambil berteriak di kuping shilla.

Shilla terkejut mendengar suara acha yang terdengar begitu nyaring tepat ditelinganya, dengan cepat ia menutup telinganya lalu menghadap acha dan berteriak tak kalah kencangnya. “apaaaaaaaaaaaaaaaaa?”

Acha dan pemuda tadi sama-sama menutup telinganya, shilla menyadari bahwa ia disana tidak hanya berdua bersama acha, tetapi ada orang lain, pemuda tampan itu. Shilla lalu menunduk malu, wajahnya bersemu berah.

“elu sih ngelamun aja, suara lo cempreng gila shill, nih orang yang mau gue temuin sama lo.” Dumel acha, lalu mengendikkan dagunya kearah pemuda tadi.

Shilla dengan malu-malu mengangkat wajahnya, menatap acha, lalu menatap si pemuda tampan itu, dan kembali menatap acha.

“sory, abisnya tadi lo ngagetin gue..” kata shilla memainkan tangannya, “emm, dia siapa cha?” lanjutnya dengan tampang polos.

“lo ga inget dia shill?” kata acha menunjuk pemuda tadi, sedangkan si pemuda hanya berdiri mematung dengan tampang –gue-ga-ngerti-ada-apa-ini. Shilla hanya menggeleng dengan polos. Kemudian acha menoleh pada pemuda tadi.

“terus lo inget dia yo?” bergantian, acha kini menunjuk pada shilla. Lalu pemuda tadi memandangi shilla, kepalanya memiring, lalu ia menggeleng. “gue ga tau, baru pertama gue ketemu sama cewe cantik kaya dia.” Ucap Rio santai, hingga membuat semburat merah kembali muncul di permukaan pipi pualam shilla, ia kembali menundukkan kepala, menutupi wajahnya yang kini merah.
Acha menepuk jidatnya, lalu menggeleg-gelengkan kepala.

“kalian ga inget sama sekali? Ya ampuuun, berapa lama kalian ga ketemu? Oh ya 5 taun kalian ga ketemu, dan gue sadar diantara kalian berdua banyak banget perubahannya, lo shill lo sekarang cantik banget, dari dulu emang cantik sih, tapi beda, lo dulu juga tomboy, dan sekarang feminim banget, terus lo yo, lo dulu item, cungkring ga ganteng-ganteng amat, dan sekarang lo putihan, berisi, terus cakep ya pantes aja kalian ga kenal sama sekali.” Oceh acha panjang lebar.

Sedangkan shilla dan pemuda tadi memandangi acha heran dengan tampang yang memang benar-benar polos, mereka seperti seorang anak kecil yang melihat mamanya mengomel sendiri tanpa tau apa masalah mamanya.

Acha berdecak kesal, lalu menggeleng, ia menghela nafas berat, kemudia ia menatap shilla.

“shill.., dia itu..” acha menunjuk pemuda tadi. “dia itu Rio, sepupu gue, temen kita waktu SD, lo inget?” kata acha tak tahan. Setelah mendengar pernyataan acha, mata shilla terbelalak, ia mengalihkan pandangan pada Rio, ia menatap Rio tak percaya, jadi cowo cakep ini Rio? Ah kacau masa sih cakep banget?

Acha berganti menatap Rio, “yo dia..” acha menunjuk Shilla, “dia Shilla, Ashilla zahrantiara, wakil KM lo waktu SD dulu, lo inget?”

Kini Rio yang dikejutkan, memang Rio memang terkejut, tapi ia bisa mengatur ekspresi wajahnya (?) sehingga yang terlihat sekarang ia berdiri stay cool seperti tadi, hanya mulutnya bergerak mengucapkan kata “what?” tak bersuara. Dan sedikit mengangkat sebelah alisnya.

“oke udah tau masing-masing kan? Sana deh ngobrol-ngobrol, gue beli minum dulu ya, daaa.” Kata acha lalu berlalu pergi.

Shilla masih menatap Rio dengan pandangan tak percaya, ia memandangi Rio dari ujung kaki sampai ujung rambut, lalu ia bersandar lemas tak berdaya pada kursi yang ia duduki, shilla menundukkan kepala, mengerutkan dahi dan menggigit bawah biirnya pelan, lalu bergumam “masa iya dia cakep banget” nyaris berbisik pada dirinya sendiri. Kemudian shilla kembali mengangkat wajahnyadan menatapi Rio lagi.

Sedikit jengah karena terus ditatapi shilla, Rio mendesah pelan dan akhirnya angkat bicara “kenapa sih ngeliatin gue mulu, cakep? Pastilah gue cakep, udah ya cukup jangan ngeliatin gue terus.” Dengan percaya dirinya, dan dengan tangan dilipat di depan dada.
Shilla berdesis pelan seraya memutar bola matanya, lalu melengos.

“eh lo juga makin cantik shill, banget malah, beda banget dari yang dulu, dulu muka lo sangar banget tau ga, eh sekarang muka lo kalem banget, hebat pake pemutih apa shill?” Rio kembali berbicara, tepatnya kali ini memuji –dan mengoloki- shilla.

Semula wajah shilla memerah mendengar pujian Rio, sedikit senyuman tipis tersungging diwajahnya, namun seketika wajah shilla berubah, ia mengerutkan hidungnya, dan mengerucutkan bibirnya, lalu ia menengok kearah Rio, ia memandang Rio dengan tatapan membunuh.

“lo muji gue apa ngehina gue sih?” dumel shilla seraya berdiri berkacak pinggang menghadap Rio.

“haha sory shill, eh liat coba sekarang tinggian gue dari pada elo, hahaha lo kalah sama gue shill, weee.” kata rio meminta maap, dan kemudian mensejajarkan dirinya dengan shilla, lalu mengukur tinggi mereka, dan terakhir menjulurkan lidahnya.
Shilla semakin kesal, ia lalu mencubit tangan Rio kencang-kencang.

“adaaaaaaaw, sakit shill, gila aja lo.” Ringis Rio sambil mengusap-usap lengannya.

“abisan elonya gitu, wee” kata shilla menjulurkan lidah lalu menyilangkan tangannya di depan dada.





**************************************************************







Setelah hari itu tepatnya satu minggu yang lalu pertemuannya dengan Rio, shilla kini tidak lagi melihat Rio, ya karena kesibukan shilla di sekolah tentunya yang membuat shilla jarang bertemu acha juga. Meskipun terkadang shilla selalu memikirkan Rio, tapi shilla tak begitu mempedulikan hal itu, ia tak menyadari bahwa akan ada sesuatu yang terjadi padanya, tentang perasaannya.
Pagi ini shilla kembali beraktivitas seperti biasa, ia pergi sekolah dengan riang gembira, ya karena itu memang shilla, shilla yang selalu tersenyum, dan ceria, dengan mulut bawelnya yang selalu bikin shilla merupakan anak yang periang.

Shilla berjalan riang di sepanjang koridor sekolahnya, sambil bersenandung kecil, ia memainkan anak-anak rambutnya yang terurai panjang. “lalalalala~”
Satu menit kemudian, shilla menghentikan langkah dan senandungnya, kemudian raut wajahnya berubah seperti sedang mengingat sesuatu, telunjuknya terangkat kemudian menyentuh bibirnya, lalu beralih kedagu, ia mengetuk-ngetuk dagunya.
Seketika itu shilla terbelalak, ia mengingat sesuatu yang sangat mengerikan di pagi ini, air mukanya berubah menjadi pucat.
“HUWAAAAAA GUE BELUM NGERJAIN TUGAS BU WINDAAAAAA” teriaknya histeris, hingga membuat beberapa siswa yang berada di sana terlonjak kaget dan menoleh kearah shilla.
Buru-buru shilla berlari menuju kelasnya yang tak jauh dari tempatnya berdiri tadi. Dengan tergesa-gesa shilla berlari hingga tak mempedulikan siswa-siswi yang ada di sepanjang koridor memandangnya heran, dan menubruk beberapa siswa yang menghalangi jalannya, tanpa berbalik shilla hanya mengucapkan kata “sory..sory” sambil terus berlari.


Sesampainya di kelas shilla langsung menghampiri teman sebangkunya, lalu mengobrak-abrik meja temannya.

“bantuin gue cepet bantuin gue, gue belum ngerjain tugas bu winda, plis plis.” Katanya masih mengobrak abrik meja temannya.

“aduh shill gue juga lagi ngerjain, diem deh kalo mau bareng aja sini.” Omel temannya.

“ah sini mana, sepuluh menit lagi masuk, aaaaaa via cepetan deh.” Kata shilla seraya menarik buku temannya, sivia.

“aduh shill, bentar lagi paling 5 menitan lagi, diem deh ini ntar bukunya sion sobek.”

Setelah itu shilla duduk pasrah menunggu sivia mengerjakan –lebih tepatnya memindahkan hasil kerja orang lain ke- tugasnya.
Sesekali mata bening itu melirik pemuda yang duduk bertopang kaki di meja sebelah sivia, di matanya pemuda itu masih sangat menawan, mata sipitnya, senyumannya, gelak tawanya, suaranya, wajah orientalnya yang tampan, aaa bagaimana bisa move on kalo terus saja begini, rutuknya dalam hati, lalu menggeleng kan kepala. Ia menundukan kepalanya menatapi kedua ujung sepatunya dengan miris, ia memajukan bibir bawahnya, dan memainkan tanganya. Miris miris sekali, bila mengingat ternyata cinta kita bertepuk sebelah tangan, apalagi perasaan kita tak di respon sama sekali, sangat mengerikan.

“shill nih.”

Suara dan sodoran sebuah buku itu membuatnya mengangkat kepala, ia tersenyum dan menerima buku itu dengan tak bersemangat.

“kenapa lo? Tadi aja histeris banget, sekarang lemes banget”

“ga papa ko.” Kata shilla dengan suara yang sangat pelan, seraya mengeluarkan alat-alat tulisnya dari tasnya dengan –sangat- tidak bersemangat.

“shill lo kenapa?” Tanya sivia cemas.

Shilla menggeleng, lalu memulai memindahkan tulisan rumus-rumus itu pada bukunya.
Seperti yang sudah mengerti, sivia hanya mengangguk paham, lalu melirik pada pemuda yang duduk –masih dengan- kaki bertopang disampingnya. Sivia menghela nafas.

Alvin ya shill?” bisiknya pelan.

Shilla menoleh pada sivia, bibir bawahnya maju beberapa centi lalu mengangguk miris.

“sabar ya shill…” sivia menepuk-nepuk pelan pundak shilla, mencoba memberi kekuatan pada sahabatnya ini. Shilla hanya mengangguk dan mulai berkutat lagi dengan tugasnya. Shilla mencatat rumus-rumusnya benar-benar tidak semangat, ia sering menghela nafas berat.

“shill nulisnya cepetan dikit napa, bentar lagi bel, bu winda bentar lagi datang.” Ujar sivia mengingatkan.

Seperti mendapat ilham, shilla langsung tersentak, lalu dengan cepat dan semangat ia melanjutkan mencatatnya.
Selang setelah 5 menit yang lalu bel berbunyi, shilla masih berkutat dengan tugasnya, tinggal seperempatnya lagi ia menyelesaikan tugasnya.
Kemudian Bu Winda datang, semuanya tampak diam, tak bersemangat. Bu winda terkenal sebagai guru yang paling kiler setelah pak duta di sekolah ini. Hanya saja bu winda paling tidak suka dengan muridnya yang tidak focus belajar saat ia menerangnkan, sedangkan pak duta, ia lebih suka kelas yang disiplin, tak ada suara, tak ada hal sekecil apapun yang bisa mengganggu kelasnya.
Pagi ini memang di awali dengan pelajaran fisika yang digurui oleh Bu winda, bu winda juga wali kelasnya shilla.

“selamat pagi anak-anak.”

“pagi bu.” Jawab anak-anak serempak, shilla pun ikut menjawab, namun pandangannya tetap tertuju pada catatannya yang kini tinggal 10 baris lagi.

“anak-anak, sekarang kita kedatangan murid baru. Ayo silahkan masuk.” Bu winda mempersilahkan murid baru itu masuk.
Setelah anak baru itu masuk, semuanya sangat ribut, apalagi kaum hawa, mereka sibuk berbisik-bisik, ada juga yang tak sengaja berteriak histeris melihat anak baru itu.
Sivia pun ikut ternganga melihat si murid baru itu.

“shill, shill.”

“hmm..”

“shill..” kata sivia menyikut shilla, namun tatapannya masih tertuju pada murid baru itu.

“apasih, gue lagi ngerjain ini tanggung 5 baris lagi.” Kata shilla masih tidak beralih pandangannya dari bukunya itu.

“shill dia cakep lho.” Kini sivia menatap shilla penuh arti.

Shilla menghela nafas, lalu menghentikan aktivitasnya sekedar untuk melirik sivia yang kini masih menatapinya, lalu ia memutar bola matanya dan menggeleng-gelengkan kepala, kemudian ia kembali berkutat dengan catatannya.

“terserah deh.” Ujar siva seraya mengangkat bahunya.

“ayo perkenalkan namamu.” Kini Bu winda yang berbicara.

Si murid baru hanya mengangguk, lalu menghadap pada teman-temannya yang kini duduk tak sabar menanti untuk ia mulai perkenalannya.

Sebelum berbicara, dia tersenyum manis pada teman-teman di depannya itu, hingga membuat kaum hawa merasa ingin pingsan melihat senyuman miring murid baru itu.

“hai semua…” ia angkat bicara.

Setelah mendengar suara itu, shilla menghentikan aktivitasnya sejenak, ia merasa mengenal suara itu, ia memutuskan untuk mendengarkannya lagi sebelum ia benar-benar melihat siapa murid barunya itu.

“perkenalkan….”

Shilla menelan ludah, ia kenal suara itu, jangan-jangan….

“nama saya…”

Shilla belum yakin sepenuhnya, ia memegang erat pulpen yang ia genggam di tangannya, kemudian memejamkan matanya.

“Mario stevano..”

“Haaaaaaaah???”
Shilla langsung tesentak, ia mengangkat kepalanya untuk melihat siapa murid baru itu, ia terlonjak kaget sehingga pulpen yang ia genggam jatuh kebawah, dan sedikit menciptakan kegaduhan didalam kelas.

“ada apa Ashilla?” Tanya Bu winda yang sepertinya terganggu oleh kegaduhan yang shilla buat.

“hehe, ga ada apa-apa bu, ini pulpen saya jatuh.” Jawab shilla cengengesan.

“ya sudah jangan ada keributan lagi, ayo Mario lanjutkan perkenalannya.”

Rio mengangguk lalu meneruskan perkenalannya, tapi pandangannya tertuju pada shilla yang sama kini tengah melihat ke arahnya, lalu ia tersenyum.

Shilla masih tak percaya, murid baru itu ternyata Rio, haaaaah masa sih, kenapa Rio tidak pernah bilang padanya kalo ia akan bersekolah di tempat shilla sekolah, apalagi sekelas dengan shilla.

Rio kini di persilahkan duduk oleh bu winda, ia di suruh duduk dengan Gabriel, yang teryata Gabriel duduk tepat di belakang shilla.
Rio berjalan semakin dekat, semakin dekat hingga akhirnya berhenti tepat di depan meja shilla, Rio tersenyum lalu menyapa shilla.

“hay shill..” katanya seraya menaik turunkan alis.

Shilla membuka mulutnya tanpa bersuara, ia masih sangat tak percaya. Kini berpasang mata menatap shilla aneh, ada yang bertanya pada shilla tapi tak shilla jawab, shilla memutar badannya kebelakang ke meja Rio dan Gabriel.

“lo..lo Rio? Lo ko bisa sekolah disini?”

Rio yang sedang berkenalan dengan Gabriel mengalihkan pandangan pada shilla.

“kenapa emangnya?” jawab Rio santai.

“isssh kenapa ga bilang-bilang???” Tanya shilla kesal.

“kenapa mesti bilang-bilang sama lo, emang lo siapa, lagian gue gatau kalo lo juga sekolah disini.”

“issh Rio……” kata shilla geregetan.

“ashilla, ada apa? Kenapa kamu hari ini sering bikin kegaduhan, kalo mau kenalan nanti saja pas pelajarang berakhir.”

Shilla menunduk lalu berujar “iya bu, maaf kan saya.”

“ya sudah, lanjutkan pelajaran kalian, buka buku dan tugas kalian.”

Shilla masih nampak kesal, bisa-bisanya si Rio bilang begitu padanya, awas saja nanti gue bikin perhitungan, umpatnya kesal di dalam hati.

“shill…” sivia menyikut shilla.

“apa.”

“lo kenal Rio dari mana?”

“dia temen SD gue….”

“hah…?”

“udah deh diem nanti ketauan bu winda..”

“ashilla sivia kalian sedang berbincang apa? Kalo mau berbincang bincang silahkan di luar!.” Bentak bu winda.

“m..ma..maaf bu, ta..ta..di saya sedang bertanya pada shilla, karena tulisan ibu kurang jelas.”

“hmmm, ya sudah sekarang cepat kerjakan, dan jangan lagi ada yang ribut.”

Semuanya menganggu lesu begitupun dengan shilla dan sivia, mereka saling menyikut kemudian mengangguk juga.



Pelajaran hari ini pun telah usai, maka semua siswa pun berhamburan keluar sekolah dengan riang gembira, apalagi kelas XI MIPA1 mereka sangat bersemangat untuk segera keluar dari sekolah ini, karena seharian ini merupakan hari yang menyebalkan bagi mereka selain pelajaran-pelajaran yang membosankan ditambah dengan guru-guru yang super kiler dan mengerikan.

Dikelas kini tinggalah tiga butir murid yang masih sibuk membenahi alat-alat tulis mereka, sebenarnya salah satu dari ketiga murid itu sudah selasai dari beberapa saat tadi, ia hanya sedang menunggu buku yang di pinjam ‘teman’nya untuk dikembalikan padanya. Mereka adalah Shilla, Alvin, dan Rio –simurid baru tadi-.

Shilla masih sibuk dengan catatan yang ia tulis di bukunya, ia –terpaksa- meminjam buka Alvin untuk disalin pada buku catatannya, sivia yang mengusulkannya, karena ia sendiri harus buru-buru pergi bersama Oik adik sepupunya untuk segera pulang. Jadilah mau tidak mau shilla harus berani berurusan dengan Alvin. Hal sekecil itu mampu membuat shilla menunduk malu menutupi perubahan warna pada pipinya, sesekali ia tersenyum mengingat bahwa dikelas ini hanya ada dia dan cowo yang ia suka Alvin, tunggu ralat! Bukan hanya ada dia dan Alvin tetapi ada seseorang yang duduk bersandar pada kursi sembari membaca komik bleach kesukaannya di belakang punggung shilla. Shilla tak sedikitpun mempedulikan seseorang yang lain disana, yang terpenting ia kini berada satu ruangan –yang sebelumnya memang sering satu ruangan tapi tidak sesepi ini.

Di belakangnya Rio mendesah pelan, komik yang ia baca sedikit lagi akan selesai ia tuntaskan. Ia mengangkat kepalanya dan melihat sekeliling ruangan hanya ada dia dan kedua teman –lama dan baru-nya, lalu kembali tenggelam dalam keasyikkan komik tersebut.

Di samping shilla, Alvin duduk menyamping menghadap shilla dengan bertopang kaki dan dengan tangan yang menyilang di depan dada. Air mukanya tenang. Ya itulah Alvin, pendiam, dingin, dan cuek. Tapi dibalik itu semua Alvin menyimpan kasih sayang yang amat besar.
Pandangannya lurus kearah buku catatannya yang tergeletak diatas meja gadis yang selama ini mengejarnya –ingat mengejarkan bukan dikejarnya-. Ia memberanikan diri untuk melirik sekilas gadis yang tengah asik dengan tulisannya. Ia menyadari betul gadis didepannya ini sangatlah cantik, dengan mata bening, pipi pualamnya, hidungnya yang sedikit mencuat keatas (?), bulu matanya yang lentik dan bibirnya yang dilapisin lipglos transparan berwarna pink. Ditambah dengan mukanya yang super polos saat mengerjakan dengan tekun tulisan-tulisan itu. Seulas senyuman tipis tersungging diwajah Alvin. Kini ia sadar, betapa bodonya ia tidak pernah peduli pada shilla, tidak pernah menyadari kehadiran shilla untuknya, tidak pernah menoleh sedikitpun pada shilla, dan lebih kejamnya ia tidak pernah merespon sama sekali perasaan shilla padanya. Ia hanya berfikir setiap orang itu sama, sama-sama buruk di matanya, sehingga ini yang membuat ia tertutup pada semua orang, bahkan ia hanya berteman dengan Ray, teman sebangkunya, itu pun karena Ray sudah lama mengenal Alvin.
Kini Alvin akan berusaha membuka hatinya pada gadis ini, pada shilla.

Selasa, 14 Juni 2011

Love Story ~part5~

Posted by Avinda deviana devah at Selasa, Juni 14, 2011 0 comments
Hari pertama sekolah ify tiba. Dengan semangat Ify bersiap-siap untuk menyiapkan keperluannya. Tak perlu repot-repot, karena di sekolah ini sesi Masa Orientasi Siswa (MOS) tidak –terlalu- repot, hanya sederhana. Tidak seperti sekolah sekolah lain yang di tuntut membawa bawaan layak-nya orang pindahan, dirias layaknya ondel-ondel, disiksa layaknya budak. MOS di sekolah ini lebih sehat dan positif. tak ada siksa-menyiksa, tapi selebihnya memang kegiatannya sama dengan sekolah-sekolah lain, hanya pada hari pertama saja yang berbeda.

Ify kini tengah memakai baju seragam lengkap SMPnya dulu, karena memang saat mos masih belum bisa memakai sekaram putih abunya SMA Darma Buana, karena mereka belum sepenuhnya menjalankan mos. Ify menguncir satu rambutnya yang ikal dan panjangnya melebihi bahu, dan memasang pita berwarna biru di poninya. Lalu ia menyelempangkan tasnya yang senada dengan rok biru –SMP-nya. Kemudian melangkah menuju cermin yang terpasang di meja rias, dan mematut dirinya sendiri. Di cermin itu ada pantulan dirinya yang tengah saling berpandangan (?). ify berkali-kali merapikan bajunya, mengusap-usap bagian bahunya, merapikan lagi bagian rambutnya, sesekali kepalanya memiring kekiri mencoba meneliti apa lagi yang kurang hari ini. Ify menarik salah satu ujung bibirnya, lalu bergumam “lumayan” lalu menyembangkan senyumanya “gue siap ngadepin hari pertama mos di sekolah baru, yeah!” lanjutnya bersemangat, seraya mengangkat satu tanganya penuh semangat 45. kemudian ify berjalan maninggalkan kamarnya menuju ruang makan, karena pastinya keluarga barunya itu sudah menunggunya untuk sarapan bersama.

Kalian lihat kan, hari pertama ify tak merepotkan bukan? Seperti yang sudah kalian baca sebelumnya, pada hari pertama mos di sekolah ini, tak sama dengan mos pertama di sekolah lain. Hari pertama mos disini siswa/siswi baru hanya di beri pengarahan oleh Pembina OSIS, dan OSISnya sendiri. Tetapi kemudian di hari kedua dan ketiga mos, mereka melaksanakan mos seperti di sekolah lain, dan tentunya siswa/siswi bari ini pun disuruh memakai barang-barang itu, seperti tas dari karung, rambut di kepang banyak pake tali pita, kaos kaki warna warni, oya tentu saja lebih ringan dari sekolah lain.



Seusai sarapan Rio langsung menyambar tasnya yang tergeletak di lantai samping tempat duduknya, lalu berjalan kearah mamanya untuk berpamitan dan mencium tangan mamanya. “rio berangkat ya mah” katanya seraya mencium tangan mamanya, mamanya hanya mengangguk, “pah, Rio nunggu di mobil aja ya.” Lanjutnya menoleh pada sang ayah, kemudian melanjutkan langkahnya dan kebiasaanya berjalan dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celana. Tapi sesaat kemudia ia menghentikkan langkahnya, dan menoleh ke belakang.

“fy, makannya yang cepet dong, takut kesiangan, inget sekarang mos!” katanya ketus, tegas, namun pelan sambil mengendikkan dagu pada jam dinding yang menempel pada dinding ruang makan.
Ify yang sedang melakukan aksi menyuap makanannya terpaksa terhenti karena mendengar ucapan Rio tadi, sedikit merasa kesal, ia mengerucutkan sedikit bibirnya, lalu mengangguk mengiyakan ucapan rio, tanpa menoleh keasal suara itu keluar dan tanpa mengeluarkan suara, lalu Ify pun kembali menyuap makanan disendoknya dan mengunyahnya.
Sedangkan Rio tetap dengan posisi tadi hanya memutar bola matanya, lalu berdecak pelan, dan kembali berbicara “15 menit lo kudu udah selese makan” selanjutnya ia melanjutkan langkahnya, dan berlalu cepat meninggalkan ruang makan sebelum gadis itu berkata-kata lagi.


15 menit kemudian berlalu, ify mengampiri rio lebih cepat dari yang rio ucapkan tadi, kini mereka berdua tengah berada didepan mobil dan menunggu pa adit keluar. Rio bersandar pada samping mobil inova ayahnya masih dengan kedua tangan dalam saku celana, dan tak lupa earphone selalu menguntai di telinganya, matanya terpejam menghayati lagu yang terputar di ipodnya itu. Dan ify.. ia berada di posisi yang paling melas, Ify duduk berjongkok disamping Rio, menghadap mobil, dengan kedua tangannya menopang dagu dan bertumpu pada kedua lututnya. Sesekali ia menghela nafas dan mengerucutkan bibirnya, lalu mengembungkan kedua pipinya. Tak lama kemudian Adit datang, dan mereka pun melesat dengan cepat menuju Sekolah Menengah Atas Darma Buana.


***********************************************************


MOS pun telah selesai Ify lewatkan, selama 3 hari ify melaksanakan masa orientasi siswa itu dengan lancar, dan sedikit gangguan, seperti dalam membawa persyaratan yang OSIS berikan, kadang Ify bertanya pada Rio tentang syarat-syarat yang Ify tak tahu, dan Rio pun kadang memberi tahu Ify karena tak tega melihat muka melas ify yang sudah terlalu melas (?).
Kini Ify pun telah resmi menjadi siswa SMA Darma Buana, ia ditempatkan di kelas X 3, Ify juga telah mempunyai teman, yang sekarang sudah lumayan dekat dengannya dan duduk sebangku dengannya, Sivia Azizah teman baru sekaligus teman sekelas dan sebangku ify.

***

Dalam ruangan bernuansa hijau muda ini seorang gadis berpipi chuby dan bermata sipit terus mondar mandir mengelilingi ruangan yang ia sebut kamar, dengan tangan didepan dada layaknya seorang majikan yang menunggu pembantunya untuk membawakan barang kemauannya. Ya, memang gadis ini sedang menunggu pembantunya mengambilkan sepatu barunya yang disimpan dalam lemari sepatu di lantai bawah. Berkali-kali ia melirik jam yang melingkar di tangan kirinya, lalu berdecak kesal. Ia menghentak-hentakkan kakinya karena sudah merasa keki dan bosan menunggu sang pembantu.

“bik, bibik, mana sepatu via, lama banget ini udah jam setengah 7 lho, nanti via terlambat.” Teriak sivia seraya mengetuk-ngetuk jam tangannya denganjari telunjuknya.

“iya non, ini saya mau kekamar non.” Jawab si bibik –pembantu sivia- dengan logat jawanya.

Sivia kemudian mendengus kesal lalu kembali mondar mandir di kamarnya, sampai akhirnya samng bibik mengetuk pintu kamarnya.

Tok tok tok…

“masuk”

“ini non, maaf ya bibi ngambilnya kelamaan” ujar sibibi seraya membungkukkan badan.

“ya udah ga papa, oya, mama sama papa udah berangkat?” kata sivia sambil memakai sepatunya.

“sudah non, tadi pagi-pagi sekali.”

Sivia hanya membentuk mukutnya seperti huruf O, tanpa besuara.

“masih ada yang kurang non?” Tanya sang bibi.

“ngga ada, makasih bi.” Jarnya “eh tolong bilang sama pak aman, cepet siapin mobil saya mau berangkat sekarang.” Lanjutnya.

“baik non, nanti saya sampaikan pada pak amin, oya non rotinya sudah ada di meja makan ya non. Saya permisi.” Kata si bibi, lalu pergi menghilang di balik pintu.

Sivia hanya mengangguk saja, sebelum akhirnya pembantunya keluar.

Sivia azizah yang teman sebangkunya Ify, ia tinggal hanya berdua dengan pembantunya, karena kedua orang tuanya jarang sekali berada dirumah, paling hanya seminggu dua atau tiga kali mereka ada dirumah, karena kesibukkan pekerjaan. Tapi itu tak membuat sivia kehilangan kasih sayang dari orangtuanya, karena orang tuanya masih sangat peduli padanya.





**********************************************************



Ify berjalan sendiri menelusuri koridor sekolah, setelah tadi sempat berjalan berdampingan dengan Rio, tetapi akhirnya berpisah karena Rio pergi keruangan OSIS, sebetulnya hanya alasan saja Rio pergi keruang OSIS karena sebenarnya Rio tak mau ada orang yang melihat mereka jalan berdampingan. Tapi toh itu pun tak jadi masalah buat Ify, karena sejujurnya Ify agak risih bila dekat dengan Rio, pasti ia akan diintrogasi oleh fans-fansnya Rio di sekolah, dia akan ditanyai seperti ini “hay fy, lo siapanya Rio ko semobil sama Rio?” ya seperti itu lah pertanyaannya, seperti pagi ini ia sudah ditanyai oleh beberapa orang tentang kedatangannya bersama Rio, tapi Ify hanya menjawab “kebetulan aja” singkat sesingkat singkatnya lalu langsung pergi, karena tak mau ditanyai lebih lanjut lagi. Ya memang jawaban ify tadi bukanlah sebuah alasan yang memuaskan, orang yang menanyai Ify masih sangat penasaran dengan itu, tapi kebanyakan orang tak mempedulikan itu.

Ify mengalihkan pandangan kesebelah kanan, disitu terlihat lapangan basket yang sudah dipenuhin oleh kakak-kakak kelasnya yang sedang bermain basket, banyak juga anak-anak dari kaum hawa yang menonton permainan basket itu. Tentu saja yang bermain basket disana adalah sekumpulan pemuda tampan yang menjadi the most apalah itu Ify tak tahu, hanya yang ia ingat dalam the most, the most itu terdiri dari beberapa pemuda tampan yang Rio juga termasuk dalam julukan the most itu. Seingat Ify ada 4 orang pemuda yang menjadi bintang sekolah itu. Mario Stevano si anak cablak nan pongah namun tetap ramah dan baik hati dengan wajah tampan dan senyuman miringnya menambah kesempurnaan sosok Rio itu. Rio juga seorang kapten basket dan wakil ketua OSIS. Selanjutnya Alvin Jonathan si judes dan pendiam namun sangat perhatian pada orang-orang yang ia sayangi, Alvin sering dijulukin pangeran diam-diam menghanyutkan, dengan mata sipitnya dan wajah oriental yang kebanyakan kaum hawa disekolahnya menyebutkan bahwa Alvin mirip actor korea yang berperan sebagai joon-ha di serial drama korea yuhee the witch. Alvin juga ketua eskul pfotografi disekolahnya, dan seorang anggota OSIS juga basket. Ada juga si Gabriel Stevent yang terkenal dengan senyuman miring yang memikat para kaum hawa yang melihatnya, wajahnya yang amat tampan dan sikapnya yang sangat sangat ramah membuat pemuda satu ini banyak dikagumi oleh siapapun yang dekat dengannya. Iel –panggilan akrab Gabriel-  adalah ketua OSIS SMA Darma Buana sekaligus ketua eskul seni, dan juga anggota tim basket. Yang terakhir seorang cowo keren yang yang sangat tampan dan pasti status playboy selalu melekat pada pemuda yang seperti ini, tapi tentu saja tidak pada cowo satu ini, Cakka Kawekas. Cakka tidak menjadi playboy, ia cukup mempunyai satu dambaan hati yang selama 6 tahun selalu setia di dalam hatinya. Cakka bukan anggota OSIS seperti ketiga temannya, ia lebih suka dalam bidang olahraga. Cakka adalah kapten futsal disekolahnya, juga anggota tim basket. Cakka terkenal lebih cepat gaul dengan siapapun, ia akrab dengan siapapun, anaknya juga humoris, cablak juga, biasanya cakka menjadi lawan adu mulut dengan Rio, karena sama-sama cablak.

Ify menatapi satu persatu pemain basket yang tengah berlaga dalam lapangan basket sekolahnya ini, ada 5 orang pemain yang sedang berkutat dengan bola bundar yang mengampul itu, diantara kelima orang itu ada tiga orang yang ify –lumayan- kenal, mereka adalah Alvin, Gabriel, Cakka, dua orang lainnya ify tak tahu, ia tak kenal. Sedikit heran, kenapa yang ada Cuma ketiga orang itu? Seperti ada yang kurang, bukannya biasanya kalo ada mereka bertiga pasti ada lagi satu orang yang paling di puja oleh banyak kaum hawa, tapi ko dia ga ada. Ify mengangkat satu alisnya mencoba berfikir kira-kira siapa yang kurang itu, siapa yang tak ada dalam lapangan itu. Sesaat kemudian ify menepuk jidatnya, artinya ia sudah tau siapa orang itu. “yang ga ada itu kan ka Rio, gue lupa.” Gumamnya sangat pelan, nyaris berbisik pada diri sendiri. Tapi kemudian Ify mengangkat bahu mengacuhkan ketidak adaanya Rio di lapang basket, karena Ify juga ingat tadi Rio berjalan kearah ruang OSIS, yang berlawanan arah dengan kelasnya Rio yang berada dilantai dua sebelah kiri dari lapangan basket.

Kemudian Ify mengalihkan pandangan kesudut lapangan, disana berdiri seorang gadis cantik berkulit putih dan berambut panjang ikal yang dibiarkan terurai melewati bahunya, rambutnya yang menari-nari liar terbawa angin membuat gadis itu nampak sangat begitu cantik di tambah senyumannya yang manis. Gadis itu berdiri memeluk sebuah buku yang agak tebal dengan satu tangannya, sedang tangan lainnya sibuk menyelipkan helaian rambut yang sedikit membuatnya terganggu karena rambutnya menghalangi pandangannya, kebelakang telinga, diiringi gelak tawa renyah yang terukir di wajah cantiknya. Lalu seorang gadis lainnya yang berpenampilan sedikit mirip dengan cowo datang menghampiri gadis itu dan sedikit menepuk pundak gadis cantik itu, hingga membuat gadis cantik itu menoleh kearahnya dan tersenyum padanya.
Entah mengapa Ify tiba-tiba menarik kedua ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman sambil terus menatap kearah kedua gadis yang kini tengah berbincang-bincang, yang Ify tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan karena jarak mereka terlalu jauh. ify kelihatannya sangat mengagumi gadis cantik bermata bening itu, kalo ia lelaki pasti ia akan langsung jatuh cinta pada gadis itu.

“kakak itu cantik banget” gumam ify polos, lalu memiringkan kepala seakan-akan mengingat-ingat sesuatu, dahinya sedikit berkerut “siapa ya namanya” katanya lagi sambil mengetuk-ngetuk jari telunjuknya pada dagu tirusnya. Sedetik kemudian sayup-sayup Ify mendengar teman seangkatannya melewatinya sedang berbincang dengan temannya yang lain.

“eh enak ya jadi kak Shilla, udah cantik, baik pinter, kaya lagi, perfeck deh pokoknya.” Kata gadis yang pertama.

“iya ya gue envy sama ka Shilla….”

Setelah itu Ify menyeringai dan tersenyum lebar, ia kini mengingat nama kakak kelas yang ia kagumi itu.

“oh iya namanya Shilla, kalo ga salah namanya Ashilla Zahrantiara, namanya cantik kaya orangnya.” Kata ify tersenyum tipis masih terus memandang kearah gadis cantik yang bernama Shilla tadi. Tapi tak begitu lama senyum Ify memudar seiring dengan datangnya seorang pemuda yang tak asing lagi bagi Ify menghampiri Shilla dan menutup mata Shilla dari belakang dengan kedua tangan kokohnya.
Entah mengapa saat melihat adegan itu hati Ify terasa sakit, matanya terasa panas, sepertinya butiran bening itu akan segera meleleh di kedua pelupuk matanya, Ify mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu mengusap pelan matanya. Dan menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha menetralisir hatinya saat ini yang tengah bergejolak. Apakah ini adalah rasa cemburu? Oh tidak jangan! Jangan terjadi. Ify memohon dalam hati, lalu ia berlari menuju kelasnya…


***************



Gadis cantik bermata bening ini tengah asik berbincang dengan sahabat dekatnya yang berpenampilan seperti anak laki-laki namun tetap anggun dan masih terlihat sisi keperempuannya (?). Kadang tertawa mendengar celotehan dari sahabatnya itu kadang juga mengerucutkan bibir saat sahabatnya itu mengolokkinya. Tapi dimata seorang cowo gadis yang tengah asik mengobrol dengan sahabatnya itu meskipun memasang tampang sebagaimana rupapun, tetap saja kelihatannya cantik.
Lalu pemuda itu berjalan mengendap-endap layaknya maling yang habis mencuri sesuatu, kerarah gadis itu dari belakang punggung gadis itu, dan mengulurkan kedua tangannya lalu menutup mata gadis itu, hingga sang empunya meronta, dan mencoba menarik telapak tangan yang menutup matanya.

“aduh siapa deh ini, iseng banget” dumelnya masih tetap mencoba menarik telapak tangan itu, namun tetap saja tangan yang menutup matanya terlalu kuat untuk ia buka.
Sedangkan gadis yang berdiri dihadapan Shilla –gadis yang matanya ditutup- hanya terkekeh geli saat pemuda yang menutup mata shilla berkata padanya untuk diam walau hanya dengan gerakan mulut saja, tapi masih bisa di mengerti olehnya.

“aduh ag lo masih di situ kan? Ini siapa deh?” ujar shilla pada sahabatnya yang bernama agni itu.

“tebak dong shill.” Ucap agni sedikit menahan tawa, karena geli melihat ekspresi wajah shilla.

“emm.. tunggu deh.” Ujar shilla sambil meraba-raba tangan yang menutupi matanya itu, mencoba menebak siapa orang yang berani iseng padanya. “aaah Rio ya, ih jangan iseng deh yo, lepasin.” Katanya lagi sedikit mencak-mencak.

“hahahahaha, yah ketauan deh.” Kata Rio seraya melepas tangannya dari mata shilla.

“huu iseng banget sih kamu yo.” Kata shilla mengerucutkan bibirnya, yang kini tengah berhadapan dengan Rio.

“hahaha, sory cinta, aku kan Cuma bercanda, jangan marah ah, tambah cantik ntarnya.” Ujar Rio sedikit menggoda seraya mengusap puncak kepala gadisnya itu.

Shilla memutar bola matanya, “ah ya ya ya, tapi jangan ngulangin lagi ya, gombalanmu basi tau ga.” Katanya seraya menunjuk Rio dengan telunjuknya lalu melipatkan tangan di depan dada.

“weeeeeh gue jadi bat nyamuk nih, gue pergi ya, kalian lanjutin aja pacarannya.” Kata agni yang segikit keki melihat sepasang kekasih ini tengah saling melepas rindu mengacanginya.

“iye sono-sono ganggu aja lo.” Kata Rio sedikit mengusir agni seraya mengibas-ngibaskan tangannya.

“eh yo gue tabok lu ya!.” Ujar agni sedikit kesal sambil mengulun lengan bajunya.

“kalem mamen kalem, kenapa ya si cakka demen banget sama cewe kaya lu ag, ckck.” Kata rio sedikit berdecak, seraya mengangkat tangannya dan mencoba menenangkan agni.

“eh yo gini-gini juga gue cewe, jelas lah cakka demen sama gue, gue kan cewe bukan cowo!”

“eh udah udah kalian ko malah ribut, udah yo jangan ngatain agni lagi, kasian dia, ntar kamu adu bacot lagi sama si cakka.” Kata shilla menengahi perdebatan yang terjadi di antara kekasihnya dan sahabatnya.

“shill bilangin tuh sama cowo lu jaga tuh mulutnya, kalo ngga gue sumpel tuh mulut lo yo.” Kata agni masih dengan nada yang sedikit kesal.

“iye, gue minta maaf deh ag, damai ya peace.” Kata rio lagi dengan cengiran kudanya ditambah dengan satu tangan yang ia angkat dan mengangkat jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf V.
Agni hanya memutar bola matanya lalu melengos dan pergi begitu saja.

“ckck, aneh deh shill temen mu itu.” Rio berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Sedangkan shilla hanya terkekeh geli melihat kekasihnya yang nampaknya ngeri melihat agni sahabatnya.

“ya udah lah yo, kita kekelas aja yu.” Shilla meraih tangan Rio dan menariknya menuju kelas.

“lah shill, kita kan baru juga ngobrol masa mau ke kelas, ntar aku ketemu sama si agni itu lagi.” Kata Rio malas-malasan, tapi shilla tetap menarik tangannya.

“udah lah yo, dikelas juga kita kan bisa ngobrol, kalo masalah agni gampang, agni kan udah dijaga sama cakka nanti.” Kata shilla santai.

Rio hanya menuruti kemauan kekasihnya itu, terpaksa ia berjalan dengat tidak semangat menuju kelasnya.

Sedangkan disudut lain seorang pemuda jangkung berdiri tegak, tersenyum masam penatapi punggung kedua sejoli yang kini semakin jauh melangkah. Ia memejamkan matanya, lalu menghela nafas berat sambil membuka kembali matanya. Lalu kembali menyunggingkan senyum yang sekarang lebih getir dari senyumannya yang tadi.

“gue harap lo bahagia sama Rio, shill.” Katanya.

“mungkin gue bego ngerelain orang yang gue cintai demi bahagia dengan orang lain yang dia cintai, tapi itu udah cukup buat gue, ngeliat lo senyum aja gue udah seneng shill.” Lanjutnya berbicara sendiri, lalu menarik salah satu ujung bibirnya membentuk seulas senyuman sinis. Kemudian dia berbalik dan melangkah meninggalkan tempat itu..

Selasa, 07 Juni 2011

Love Story ~part4~

Posted by Avinda deviana devah at Selasa, Juni 07, 2011 0 comments
Sepanjang perjalanan ify hanya menatap kearah jendela, dengan satu tangan menopang dagunya. Ia menghela nafas berat, bosan juga terus memandangi jajaran jajaran pohon yang menjulang tinggi ke atas, karena memang tak ada hal yang aneh lagi selain pohon pohon itu. Sekarang ify menengadahkan kepalanya keatas menatapi langit langit mobil inova milik keluarga Rio, dan menghela nafas sekali lagi, lalu mengalihkan pandangannya ke langit cerah yang berwarna biru laut itu dan tersenyum tipis.
Sedangkan pemuda di samping ify duduk bersandar pada jok mobil dengan tangan di lipat di depan dada dan mata yang terpejam, masih dengan earphone yang menguntai di telinganya sejak –berada dirumah ify- tadi.
Suasana dimobil saat ini memang sunyi, hanya terdengar suara desauan AC mobil dan helaan nafas para penumpang mobil (?). dan tentu saja ini semakin membuat ify bosan, tak ada musik yang melantun dari CD mobil ini, tak ada satu suara pun yang mengajak ify berbicara. Ia lagi-lagi menghela nafas, kali ini sangat panjang. Ify menoleh kearah pemuda yang duduk di sampingnya. Ia memandangi pemuda itu dalam-dalam, mencermati tiap lekukan lekukan wajah tampan pemuda itu, seulas senyuman tipis terukir di wajah cantik ify. Ia menyadari betul bahwa pemuda yang kini tengah terpejam dihadapannya itu sangat tampan, sangat sempurna. Tentunya pemuda yang kini tengah ia perhatikan tidak menyadari itu. Beberapa detik kemudian ify menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba menyadarkan diri dan menghilangkan beberapa fikiran yang melayang di fikirannya. Kemudian dia memutar bola matanya lalu melengos seakan bersikap tak peduli dan menganggap tak pernah terjadi apa-apa.
Ify merasa bosan yang melandanya kini semakin menjalar, ia –lagi-lagi- menghela nafas berat. Lalu ia putuskan untuk memainkan jari-jarinya dan menghentak-hentakkan kakinya pelan berharap sedikit mengurangi rasa bosannya, walau hasilnya nihil, justru malah menambah kegaringan saat itu. Ify menghentikkan aktivitasnya –memainkan tangan dan hentakkan kakinya-, sedikit menggeliatkan tubuhnya yang terasa pegal, sudah satu jam lebih ify duduk dalam keadaan seperti ini. Lalu ify diam sejenak, sayup sayup ia mendengar suara musik yang keluar dari earphone yang menguntai di telinga Rio. Lagu yang tak asing lagi di telinga Ify, lagu yang sering di bawakan oleh salah satu band ternama di Indonesia, D’massive. Lagu itu berjudul Rindu setengah mati.

Aku  ingin  engkau  ada  disini
menemaniku  saat  sepi
menemaniku  saat  gundah



berat  hidup  ini  tanpa  dirimu
ku  hanya  mencintai  kamu
ku  hanya  memiliki  kamu



ify mencermati lirik-lirik lagu itu, lalu memiringkan kepalanya dan memasang tampang yang seperti sedang berfikir.

aku  rindu  setengah  mati  kepadamu
sungguh  ku  ingin  kau  tahu
aku  rindu  setengah mati



ify terkekeh saat mendengar reff lagu rindu setengah mati itu, oh rupanya dia lagi rindu sama seseorang. Pikirnya sok tau, lalu kembali membenahi posisi duduknya seperti semula.

meski  tlah  lama  kita  tak  bertemu
ku  slalu  memimpikan  kamu
ku  tak  bisa  hidup  tanpamu



aku  rindu  setengah  mati kepadamu
sungguh  ku  ingin  kau  tahu
aku  rindu  setengah  mati.



Hingga akhirnya lagu itu selesai, dan ify tak memperdulikan lagu selanjutnya yang terputar, ia memilih untuk mengikuti Rio, untuk mendengarkan musik. Ia merogoh ipod dari sakunya dan mengeluarkan earphone dari dalam tasnya, dan mulai mendengarkan musik, lalu memejamkan mata, ia memilih untuk tidur saja.

Setelah beberapa lama tenggelam dalam kesunyian wanita dan pria yang duduk di kursi depan –si pria di kursi pengemudi, si wanita di kursi sebelahnya- akhirnya si pria angkat suara, memecahkan keheningan yang tercipta.

“mah coba liat Rio sama Ify deh, ko kayanya mereka diem dieman aja” ujar sang pria kepada wanita di sebelahnya yang tak lain adalah istrinya dengan suara yang pelan, namun masih cukup terdengar oleh wanita di sebelahnya itu, dan pandangan masih focus pada jalan.

Sang wanita kemudian mengangguk, dan menoleh kebelakang, dilihatnya kedua anak remaja yang tengah terlelap dalam posisi yang sama dan -sama-sama- memakai earphone. Kemudian ia tersenyum.

“mereka tidur pah” ucapnya.

Si pria lalu melihat pada kaca mobil diatasnya, terlihat disana memang kedua anak itu –Rio-Ify- tengah terlelap. Ia pun ikut menoleh kebelakang, dan tersenyum penuh arti.

“mereka cocok ya mah.” Ujarnya si wanita hanya mengangguk.

“semoga rencana kita berhasil.” Ucapnya lagi, lagi lagi si wanita hanya mengangguk. Akhirnya mereka berdua kembali menghadap depan dengan senyum penuh arti terlukis di masing-masing wajah mereka.

Ify mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan, namun tak sepenuhnya membuka mata. Ify dengan jelas mendengar percakapan kedua orang itu tentang dirinya dan pemuda yang terlelap di sampingnya. Biarpun mata ify tertutup dan telingannya memakai earphone tetap saja percakapan itu terdengar, karena ify memutar lagunya dengan volume yang kecil. Ify mendesah pelan, masih tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Ify dan Rio cocok? Lalu rencana apa yang mereka rencanakan? Hanya itu yang membayangi benaknya. Sesaat kemudian ify kembali memejamkan matanya, dan mencoba mengabaikan bebagai fikiran yang jatuh dalam otakknya kali ini, walau dalam hatinya ify tersenyum…

Begitupun dengan pemuda di samping ify ini. Ia pun juga mendengarkan dengan jelas apa yang kedua orang tuanya bicarakan. Karena dengan kebetulan Rio tadi terbangun dalam tidurnya, hanya saja tidak membuka mata, dan musiknya berhenti. Rio tetap diam, deru nafasnya mulai memanas, rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal, menahan emosi. ‘Enggak! Enggak! Kalo yang mereka rencanain itu adalah ‘itu’ gue harap itu ga terjadi!’ batin Rio


*************************************************

Setelah beberapa jam yang lalu keluarga Rio –termasuk Ify- sampai di rumah mewah keluarga Haling, mereka disibukkan dengan kesibukan masing-masing. Seperti, Adit di sibukkan dengan tugas kantor yang –selama liburan- ia tinggalkan, sementara Maria mengoceh sambil mengomeli pembantu-pembantunya yang tak –becus- merawat tanaman-tanamah kesayangannya hingga banyak yang layu dan mati. Sedangkan si Tuan muda Mario Stevano berada di dalam kamarnya dan merebahkan diri di kasurnya, masih berkutat dengan ipod dan earphone yang masih menguntai di telinganya, lalu kembali terpejam, artinya tertidur lagi. Dan terakhir, penghuni baru rumah ini, Ify. Ify masih disibukkan sendiri dengan memberes-bereskan barang-barangnya di kamar barunya ini. Ia sudah memasukkan baju-bajunya kedalam lemari –baru- nya, membereskan barang-barang bawaannya yang lain seperti sepatu-sepatu dan sandal-sandal kesayangannya, topi, buku-buku favoritnya, barang-barang keperluan pribadinya, tak lupa boneka stich dan jam weker yang sama –berbentuk stich-  ia bawa dan di pajang di atas meja dekat kasurnya. Setelah selesai beres-beres, ifu duduk di tepi ranjangnya. Ia melihat ke setiap sudut ruangan itu.

“lumayan juga ni kamer baru” gumamnya “persis sama kamer gue yang dirumah” lanjutnya. Kemudian ify merebahkan dirinya di kasur, merentangkan tangannya yang terasa sedikit pegal, berguling guling ke kanan dan kekiri, lalu tengkurap. Ify teringat pada ponselnya, lalu ia segera mengambil ponselnya yang ada di tas kecil yang tergeletak pasrah di kasurnya.

Ada dua pesan yang masuk, lalu ify membuka pesan pertama, yang ternyata dari mamanya.

From: my mother J

Ify, gimana udah nyampe sayang?

Ify tersenyum membaca pesan dari mamanya itu, lalu segera mengetik balasan untuk mamanya.

To: my mother J

Maap baru ify bales ma, ify udah nyampe dari tadi J

Setelah itu ify membuka pesan kedua yang datangnya dari sahabatnya, dea.

From: deacris ^^

Fy, lo udah nyampe belon? Gimana malaikat gue selamet kan? Ga lo apa apain kan?

Ify mendengus saat membaca pesan kedua yang dating dari sahabatnya itu “ni anak bukannya nanyain gue malah nanyain orang lain” gumamnya, lalu mengetik balasan pada dea.

To: deacris ^^

Udah dari tadi, neng! Malaikat lo udah gue tendang tadi di jalan… hahahaha ngga JK, dia selamet ko, gue sebel sama lo de, bukannya nanyain gue malah nanyain orang itu-_-

Sambil menunggu balasan, ify kembali meletakkan ponselnya di atas kasur, dan membalikkan badan dari tengkurap menjadi terlentang. Tak beberapa lama ponsel ify kembali bergetar, ify pun segera mengambil ponselnya dan membaca pesan yang barusan masuk.

From: deacris ^^

Bagus deh kalo dia ga kenapa-napa ^^, buahahahaha JK fy, lo juga ga kenapa-napa kan? Pasti dong, ka nada malaikat gue, hehehe -__-v

Ify mencibir setelah membaca pesan dari sahabatnya itu. Dan tidak membalasnya lagi, karena ia sudah merasa capek, akhirnya dia memutuskan untuk tidur sejenak.


---------------------------------------------------------------------------------------------

Tok tok tok…
Suara ketukkan pintu itu membangunkan ify dari tidurnya. Ia menggeliat, lalu mengucek ngucek matanya, dan menoleh pada jam weker berbentuk stich di atas mejanya. Mata ify membulat seketika melihat jarum pendek berada di tengah-tengah angka 6 dan 7. “ebuseeeeet gue tidur lama bener” ujarnya “dari jam 3 sore, kaya kebo aja, ckck” lanjutnya. Lalu segera beranjak dari tempat tidur untuk membuka pintu, karena terdengar ketukkan lagi.

Klek! Ify membuka pintunya, seseorang yang berada di hadapannya tersenyum padanya. Ify hanya memamerkan cengiran kudanya.

“baru bangun ya fy? Maap ya tante ganggu kamu, kamu pasti capek kan?” ujar maria.

Ify menggeleng dan tersenyum “ngga ko tan, ga papa, lagian ify udah ga capek, hehe.” Kata ify.

“hmm ya sudah, ayo makan malam, kamu udah mandi belum?”

“hehe, belum tan tadi ketiduran soalnya.”

“ya udah, mandi dulu sana, nanti turun makan ya fy.”

Ify tak menjawab, ia hanya mengangguk, dan maria pun berlalu. Ify kembali menutup pintu kamarnya dan bergegas untuk mandi.

Setelah 15 menit menghabiskan waktu untuk mandi, ify segera turun menuju ruang makan. Dengan cepat ify menuruni undakkan demi undakkan tangga, karena tak mau membuat keluarga –barunya- ini menunggu terlalu lama.

Diruang makan keluarga –barunya- itu sudah berkumpul dan duduk di tempat masing-masing. Ify segera menghampiri mereka, dan menyapanya.

“malem om, tente…ka..rio” katanya dan tersenyum manis pada mereka.

“malem fy” jawab adit dan maria.

Sedangkan Rio hanya diam, dan menoleh pada ify tanpa ekspresi, kemudian mengangguk tanpa semangat, dan kembali melengos. Ify mengerucutkan bibir, hanya itukah responnya? Tak ada jawaban, tak ada senyuman, yang ada hanya tatapan tanpa ekspresi dan tidak semangat. Sepertinya Rio tak senang ify berada disini. Tapi kemudian ify memutar bola matanya dan mengangkat kedua bahunya. Mungkin dia belum terbiasa ada gue, pikirnya. Tapi hatinya tetap mencibir. Ify berjalan menuju meja makan, dan duduk tepat di samping Rio –yang sebelumnya maria manunjuk tempat duduk Ify-. Mereka semua makan bersama dengan tertib (?)
“ayo fy makan yang banyak, jangan sungkan-sungkan ya anggap rumah kamu sendiri, dan anggap kami orang tua kamu.” Ucap maria sembari tersenyum.

“iya tante.” Kata ify mengangguk, tak lupa dengan senyuman yang manis yang ify punya.

“oya fy, besok kamu mulai sekolah, om udah ngurusin semuanya. Kamu sekolah ditempat Rio.” Ujar adit.

“makasih om buat semuanya” ujar ify “memangnya sekolah ka rio, em maksudnya sekolah ify dimana?” lanjutnya seraya melirik Rio. Rio masih asik menyantap makanannya, tapi kemudian tersadar karena ada yang meliriknya. Rio kembali menatap ify sambil terus mengunyah makanannya. Setelah makanannya ditelan Rio bergumam “ngapain lo lirik lirik, gue cakep? Udah dari lahir kali” dengan PDnya. Kemudian kembali melengos dan menyantap makanannya.

“idiiiiiiiih” cibirnya, kemudian bergidik. ‘pede banget ni orang’ tambahnya dalam hati.

“haha, sudah sudah” kata adit yang –kebetulan- melihat kejadian tadi “iya sama-sama fy, kamu sekolah di SMA Darma Buana.” Lanjutnya.

Ify yang kebetulan sedang mengunyah makannya tersedak seketika mendengar nama sekolah yang di sebutkan. “uhuk uhuk.” Ify langsung meminum minumannya di Bantu oleh maria, kemudian mengusap-usap dadanya.

“makanya kalo makan ati ati dong.” Cibir Rio.

Rio, kamu itu.” Maria membentak rio pelan “sabar sayang, nih minum lagi.” Lanjutnya, seraya mengelus punggung ify dan menyodorkan segelas air putih padanya.

Bagaimana tak kaget, SMA Darma Buana itu SMA paling elite di Jakarta paling terfavoriet, banyak yang minat bersekolah disana, tetapi sayangnya banyak yang tidak di terima, dikarenakan kurang memenuhi syarat dan ketentuan. Bukan hanya teori yang dibutuhkan di sekolah ini tetapi materi juga sangat penting bagi sekolah ini, tak heran siswa siswi yang bersekolah disini kebanyakan dari kalangan orang orang mapan. Ada juga yang mendapat beasiswa.
Sekolah ini mengajarkan untuk saling menghormati seksama, entah orang itu dari kalangan kaya atau miskin, berbeda keyakinan, dan lain-lain, makanya antar siswa siswi di sini menjalin hubungan baik.

Sekolah ini tidak hanya terkenal di Indonesia, tetapi terkenal juga di luar negri, seperti singapura, Malaysia, London, dan lain-lain. Ya karena sering diadakan pertukaran pelajar dengan Negara-negara itu. Bukan hanya pertukaran pelajar, tetapi siswa siswai SMA ini sering pulang pergi olimpiade di Negara itu, dan tentu saja mereka pulang dengan hasil yang memuaskan, tak jarang mereka pulang dengan membawa hasil perjuangan mereka, mereka selalu menjadi jawara di olimpiade-olimpiade itu.

Ify sudah mulai merasa tenang. Dia kembali memakan makanannya. Tapi ify masih tak percaya. “om ify beneran sekolah di situ?” tanyanya.

“iya fy, nanti besok hari pertama kamu sekolah, dan om yang akan ngenter kalian kesekolah.” Ucap adit menatap putra semata wayangnya, Rio, dan anak sahabat terdekatnya, Ify. Seraya tersenyum pada keduanya.

“tapi pah, Rio bisa bawa mobil sendiri ko.” Sergah Rio.

“ngga Rio, kamu besok berangkat sama papa, sama ify.” Ujar adit, “dan.. ngga ada tapi-tapian lagi.” Lanjutnya tegas, tapi pelan sebelum Rio protes lagi. Rio mendengus, kemudian berdecak pelan.

Ify yang sedari tadi melihat perdebatan kecil antara adit dan rio hanya diam, kemudian mengangguk saja.
 

secuil karya avinda Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea