Tampilkan postingan dengan label Cerbung ICIL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerbung ICIL. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 September 2011

First Love part 2

Posted by Avinda deviana devah at Jumat, September 09, 2011 0 comments

Hening, dalam ruangan itu tak ada satu suarapun yang keluar, hanya helaan nafas masing-masing penghuni ruangan itu dan suara kebetan halaman komik yang Rio baca, serta suara hentakkan kecil dari kaki Alvin, selebihnya hanya ada suara desauan angin dan goresan tinta di buku catatan shilla.

Setelah hampir 15 menit shilla menyalin catatan Alvin, akhirnya ia telah selesai menyelesaikannya. Ia menghela napas berat, lalu mengibaskan tangannya didepan wajahnya, ia merasa gerah.”huh akhirnya selese.” Gumamnya, lalu ia menegakkan duduknya meregangkan otot-ototnya yang sedikit kaku, dan akhirnya menoleh pada Alvin yang kini tengah memandangnya dengan ekspresi datar, shilla melengos lalu menundukkan kepala, pasti kini wajahnya mulai lagi berubah warna, sungguh ia tak percaya untuk beberapa detik mata beningnya bertatapan langsung dengan mata coklat Alvin, ia kini tengah menahan rasa gembiranya, berkali-kali ia mengatur nafasnya untuk menetralkan rasa degupan jantung yang berdentum keras. Ah malu! Betapa salah tingkahnya ia sekarang ini, rasanya ia ingin sekali berlari menutupi kedua wajahnya yang ia yakini sekarang sudah berubah menjadi merah. Kemudian ia menarik nafas dalam-dalam, lalu memejamkan mata dan merapalkan do’a di dalam hatinya suapaya ia tidak salah tingkah saat berbicara dengan Alvin.
Shilla membuka matanya lalu menarik nafasnya sekali lagi, ia menoleh pada Alvin yang kini masih dengan tenang dan tetap dengan posisi semula memandang ke luar jendela. Shilla tersenyum lalu menyodorkan buku –pinjamannya- itu pada Alvin, lantas berujar “nih vin, makasih ya udah minjemin, hehe.” Sembari memasang senyuman yang manis.
Alvin menerimanya dengan canggung, tapi ia memaksakan sebuah senyuman yang ia yakini bahwa senyumannya terlihat kikuk, lalu ia memasukan bukunya kedalam tas ranselnya, dan berdiri bersiap untuk pulang. Ia berniat untuk berbalik badan dan mengucapkan selamat tinggal pada shilla, atau.. ia bisa mengajak gadis itu untuk pulang bersama. Ia kini tengah menghadap shilla, gadis itu masih sibuk membenahi alat-alat tulisnya, entah mengapa lidah Alvin sekarang terasa begitu kelu, rasanya susah sekali untuk mengeluarkan satu katapun. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal, ko gue jadi gini susah banget buat ngomong, shiit, umpatnya dalam hati. Baru saja Alvin memberanikan diri untuk membuka mulutnya dan mengajak gadis ini untuk pulang bareng dengannya, tetapi suara lain telah mendahuluinnya, suara baritone itu telah lebih dulu berbicara dan mengajak gadis itu pulang bersama, Rio, murid baru itu. Yang Alvin katahui dari teman-temannya kalau Rio itu adalah teman semasa SD shilla.

“shill pulang bareng gue yu, sekalian kita kan searah, gue juga pengen liat rumah lo lagi, udah lama ga liat, tadi pas berangkat ga sempet nengok rumah lo.”

Shilla yang masih membenahi alat tulisnya menoleh pada Rio, nampaknya shilla berfikir sejenak menimang ajakan Rio, lalu ia tersenyum sembari mengangguk mengiyakan ajakan Rio, “oke deh, udah lama juga kita ga pulang bareng, elo bawa apa motor apa mobil?”

Rio yang kini telah berdiri dihadapan shilla tersenyum senang mendengar jawabannya, lalu ia merogoh sakunya mengambil sebuah kunci, dan menggantungnya di telunjuknya, sebuah kunci motor. “gue bawa ini, motor.” Ucapnya.

Mata shilla berbinar saat Rio bilang padanya kalau ia membawa motor, sebelumnya ia tidak pernah pulang bareng cowo, apalagi dia akan dibonceng seorang pemuda di motornya, dan yang jelas berdua. Shilla mengangguk dengan cepat, dan secara antusias ia menyatukan kedua tangannya didepan dada, lalu bergumam “baru kali ini gue diajak pulang cowo, terus pulangnya pake motor.” Dengan polosnya, pandangannya menerawang kelangit-langit atap sekolah.
Rio terkekeh mendengar kalimat yang barusan shilla cetuskan, ia menggeleng tak percaya dan bergumam “jadi lo belum pernah diajak pulang cowo? Belum pernah boncengan sama cowo? Jadi gue dong yang pertama kali ngajak lo pulang bersama?” runtutan pertanyaan rio dan sedikit cibiran pada shilla, membuat shilla merengut dan mengembungkan kedua pipinya.

“ga gitu juga kali, ada banyak yang ngajak gue pulang bareng, tapi guenya ga mau.” Belanya.

“oh gitu.. terus kenapa sekarang lo mau pulang bareng gue? Kenapa lo nerima ajakan gue? Hoyoloooh.” Ujar Rio dengan nada menggoda shilla sembari menunjuk shilla dengan tatapan curiga yang dibuat-buat.

Shilla sedikit gelagapan, ia sendiri tak tahu jawaban apa yang tapat untuk menjawab pertanyaan Rio barusan, kenapa juga ya dia mau nerima ajakan Rio? Atau mungkin karena ia percaya pada Rio dan sudah mengenal Rio lama? Entahlah karena menurutnya jawaban itu sangat tepat untuk digunakan sekarang.

“ya..ya.. mungkin karena gue udah kenal lo lama, dan gue juga udah percaya sama lo, jadi ya gue nerima ajakan pulang bareng lo.” Jawab shilla sembari terus membereskan alat tulis -yang tinggal kotak pensil itu- kedalam tasnya, lalu menutup tasnya dan menyampirkan dipundaknya.

“halah hahaha, tapi ko muka lo merah shill?” goda rio lagi.

Shilla masih terlihat salah tingkah, ia mencubit lengan Rio hingga sang empunya meringis kesakitan.

“udah deh yo, jangan mojokin gue, cepet deh balik.”

“aduh, cubitanlo ya shill menyakitkan tau ga, heh siapa coba yang mojokin elo, lonya aja yang ngerasa terpojoki, weee.” Rio menyentil pelan hidung shilla dengan telunjuknya, lalu menjulurkan lidah.

Shilla hanya tertawa sembari mengusap hidungnya, ia menatap Rio dengan senyuman yang hangat, sudah beberapa bulan belakangan ini semenjak ia mengakui perasaannya pada Alvin ia sudah jarang bergaul atau begurau dengan cowo kecuali cakka dan iel, yang notebenenya mereka cowo kedua temannya, sivia dan agni. Tapi itupun tak pernah seasyik ini. Ia begitu menyadari bahwa sejak ia menyukai Alvin ia menjadi lebih tertutup pada laki-laki, ia takut Alvin akan berfirikan negative padanya, padahal ia sendiri tahu kalo Alvin tak pernah meliriknya.

Merasa tak nyaman berada diruangan ini, Alvin mendesah pelan, ia tak nyaman berada dalam sebuah percakapan yang membuat hatinya perih untuk pertama kalinya. Hey apa ini? Apa kah ini rasa cemburu? Apakah sebenarnya Alvin telah menyukai shilla namun ia tak pernah mau mengakuinya? Sejak kapan itu terjadi padanya? Ah tak tahu lah, yang jelas ia sekarang ingin segera pergi dari tempat ini.

“eheeeem.”

Sebuah deheman membuat Rio dan Shilla sadar, bahwa ada seseorang yang mereka lupakan di ruangan ini, shilla dan rio menoleh bersamaan pada si pemdehem tadi.
Wajah Alvin berubah seketika, yang tadinya mulai bersahabat kini kembali memasang raut dingin. Alvin menatap mereka berdua bergantian, lalu bergumam “gue duluan.” Katanya lalu berjalan meninggalkan mereka.

Shilla menoleh pada Rio, ia menatap Rio tak mengerti, sedangkan Rio hanya mengangkat bahu.

“ayo deh shill pulang.” Rio menarik tangan shilla hingga shilla bangkit dari duduknya dan berjalan mengikuti Rio.
Rio masih menggenggam tangan shilla sampai parkiran, shilla pun tak melepas genggaman Rio, karena shilla merasa nyaman bergenggaman dengan Rio. Sepanjang koridor menuju parkiran Rio dan shilla tertawa kecil diiringi candaan Rio yang membuat shilla semakin melebarkan tawa dan senyumnya, tangan mereka pun masih berpegangan. Mereka mengayun-ayunkan tangan sembari terus melangkah, anak-anak rambut shilla bergoyang mengikuti gerakan tubuh shilla, kadang anak-anak rambut shilla menyentuh wajah Rio dengan lembut dan menebarkan aroma khas sampo shilla, strawberry.
Di sekolah ini hanya tinggal mereka berdua, jadi tak ada yang melihat mereka berdua, tak ada yang melihat iri mereka, tak ada yang melihat sinis mereka, karena memang sudah benar-benar sepi, hanya penjaga sekolah saja yang berada disana.
Tetapi, masih ada seseorang yang menatap dingin mereka di balik pohon besar di sebelah kelas mereka tadi. Pemuda itu masih dengan setia menatapi punggung keduanya yang semakin menjauh, dan hilang. Dia masih bertanya-tanya pada dirinya sendiri, sebenarnya dia kenapa? Kenapa dia merasa begitu marah melihat gadis yang selalu mengjarnya kini bersama dengan laki-laki lain? Bukannya dia tidak pernah mempuanyai perasaan pada gadis itu? Atau.. sekarang rasa itu mulai muncul? Ah tapi ini sudah terlambat! Kenapa rasa ini harus muncul terlambat? Kenapa sekalian saja tak perlu muncul untuk gadis itu? Aaarrrrggghhh, umpatnya kesal seraya mengacak-ngacak rambutnya, lalu ia berjalan meninggalkan pohon besar itu dan berharap esok ia melupakan perasaannya pada gadis itu…


Di sepanjang perjalanan pulang, shilla tak henti-hentinya tersenyum, tangannya melingkar di pinggang Rio, kepalanya bersandar pada punggung Rio. Baru kali ini rasanya ia seperti ini, haha sedikit aneh, tapi wajarkan kalo ia terlihat begitu norak karena sebelumnya ia tak pernah berboncengan dengan laki-laki. Sekali lagi shilla menggulum senyumnya betapa senangnya hari ini, meskipun shilla tidak di bonceng oleh orang yang ia suka, tapi ia kini berpengalaman di bonceng seorang pemuda yang pernah ia sukai, apa bedanya kan Rio juga pernah ia sukai, bukan hanya Alvin.
Tunggu.. shilla terhenyak, apa jangan-jangan dia.. ah tak mungkin masa hanya begini saja shilla kembali menyukai pemuda ini, shilla melupakan pikiran yang barusan melintas di benaknya, lalu kembali tersenyum.

Sampai akhirnya mereka sampai di depan rumah mewah bernuansa ungu muda milik shilla, shilla tak hentinya menyunggingkan senyuman. Shilla melepaskan tangannya yang melingkar pada pinggang Rio, lalu turun dari motor Rio.

“thanks yah yo.” Ujar shilla sembari tersenyum.

Rio mengangguk, lalu berujar “yap sama-sama, rumah lo masih kayak dulu ya, malahan bunga-bunganya makin banyak, nyokap lo suka banget ya sama bunga kaya gituan.” Ia tersenyum, lalu melongokkan kepala melihat rumah –pekarangan- shilla.

Shilla ikut menengok kepekarangan rumahnya, lalu berkata “iya, mama demen banget, tiap pulang dari luar kota atau luar negri mama selalu bawa pulang bunga-bunga, padahal kebanyakan bunga-bunga mama ada yang sejenis, tapi kata mama biar ngebanyakin aja, aku bingung ga cape apa mama nyiramin berpuluh puluh bunga gitu, ckck.” Lalu ia berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“haha sama kali sama nyokap gue shill, nyokap gue juga demen banget sama yang namanya masak.” Rio ikut mengomentari hobby mamanya.

Shilla kembali menoleh pada Rio dan sedikit memonyongkan bibirnya. “kadang aku risih kalo mama marah-marah tanpa sebab karena tanamannya layu ataupun rusak, sampe orang rumah yang ga tahu menau tentang kerusakan tanaman mama kena imbasnya.”

“yah itu lah ibu-ibu, gue juga ga ngerti deh shill, haha.”

“hahaha, iya yo. Eh masuk dulu yuk ga enak ngobrol sambil berdiri gini.” Ajak shilla.

“ah ngga lah shill, gue pulang aja masih banyak acara nih, nanti kapan-kapan gue main deh..” katanya.

“oh gitu, ya udah deh kalo gitu.”

“eh shill besok gue jemput lo ya, kita berangkat bareng ya.” Ajak Rio.

“emm, tapi ga ngerepotin nih?” Tanya shilla ragu.

“haha ya ngga lah, besok gue jemput jam setengah tujuh ya.” Kata Rio seraya menggunakan helmnya kembali –yang sebelumnya tadi sempat dibuka.

Shilla hanya mengangguk sembari tersenyum. Rio pun mulai menyalakan mesin motornya.

“gue pulang ya shill.” Katanya berpamitan.

Shilla mengangguk “hati-hati ya.” Katanya sebelum Rio berangkat. Ia melambaikan tangannya saat Rio mulai menjalankan motornya.

Lalu shilla masuk kedalam rumahnya dan dengan senyuman yang merekah di bibirnya. Percakapannya dengan Rio tadi membuatnya senang, rasanya ia merasa nyaman berada didekat Rio.
Ia berjalan melewati ruang tamu, ruang keluarga, lalu hendak saja ia akan meniti anak tangga yang pertama mamanya berdehem hingga shilla menoleh pada mamanya, lalu menghampiri mamanya dan mencium tangan mamanya.

“udah pulang? Tadi pulang sama siapa?” Tanya mamanya.

Shilla sedikit terkejut, dari mana mamanya tahu kalo ia tadi di antar pulang cowo, karena sebelumnya mama ga pernah liat shilla pulang bareng temannya apalagi dengan seorang pemuda.

“hah, ee itu tadi sama temen..” jawabnya sedikit terbata, melihat raut muka mamanya yang belum terlihat puas dengan jawabannya tadi, shilla kembali berkata “itu loh mah Rio anaknya tante Anggi sama om Raditya Haling, dia anak baru di kelas aku, terus tadi sekalian aja pulang bareng.” Jawab shilla, sengaja ia membawa nama kedua orang tua Rio karena mamanya pasti mengenal mereka dan tidak memasang raut curiga begitu.

“oh, anaknya jeng anggi, lalu kenapa dia ga masuk?” mamanya mengangguk paham, lalu bertanya.

“em katanya dia lagi banyak urusan mah.” Jawab shilla “ya udah ya mah aku ke kamar dulu, capek.” Katanya lagi lalu mencium pipi mamanya dan beranjak mulai meniti anak tangga, ia takut di tanyai lebih banyak lagi perihal kepulangannya tadi bersama Rio.

“eh shill.” Panggil mamanya.

Shilla menhentikan langkahnya, lalu menoleh pada mamanya.

“nanti malem kita di undang sama keluara haling buat makan malam di restoran barunya jeng anggi sekalian ngeresmiin restoran itu.” Kata mama.

Mulut shilla menganga berarti dia bakal ketemu lagi dengan Rio, waw kebetulan banget. Mamanya Rio memang jago masak, sampe beliau membuka restoran di mana-mana, awalnya beliau memulai membangun restoran di manado, tempat kelahirannya, lalu lama-lama restorannya berkembang dan kini bercabang dimana-mana. Mungkin di kota ini sudah ada tiga restosan milik tante anggi, dan yang akan dibuka ini pasti yang ke empat. Restorannya mencakup beberapa makanan dari negeri ataupun dari luar negeri.
Shilla tersenyum tipis menyadari bahwa ia akan bertemu kembali dengan Rio. Siapa yang tak senang akan bertemu dengan pemuda seperti rio? Pasti semua orang juga mau, Rio anaknya baik, ramah, asik, namun kadang-kadang dia tak pernah menjaga omongannya, dia anak yang cablak. Tapi shilla masih belum menyadari perasaannya, ia belum sadar kalo benih-benih itu mulai muncul..

“nanti kamu dandan yang cantik ya, yang sopan, nanti mama Bantu milihin baju.” Kata mamanya lagi, yang membuat shilla terhenyak.
Shilla hanya tersenyum dan mengangguk, lalu dia melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.



Tok..tok..tok..

Suara ketukan itu berasal dari kamar Shilla, mamanya berkali-kali mengetuk kamar anak gadisnya itu tapi tak ada yang menyahut. Sampai akhirnya ia membuka pintunya dan mendapati bahwa anak gadisnya itu sedang tertidur pulas dengan earphone yang menguntai di kedua telinganya. Mamanya hanya menggeleng-geleng “dasar udah sore gini masih aja tidur, mana pake sambil dengerin musik lagi, pantes aja ga ada sautan.” Omel mamanya sambil berkacak pinggang.

“Shill, bangun sayang udah sore..” ujarnya membangunkan Shilla sembari menggoyamg-goyangkan tubuh Shilla. Tetapi Shilla tak bergembing, ia tetap tertidur.
“Shilla bangun..” kata mamanya lagi, sekarang menepuk-nepuk pipi pualam putrinya. Kemudian Shilla mengerjap-ngerjapkan matanya, merasa ada seseorang yang membangunkan dan meepuk-nepuk pipinya. Dalam pandangan yang masih buram, Shilla bisa melihat mamanya, lalu ia membuka earphonya dan bangkit menjadi duduk, sembari menggeliat dan mengucek matanya.
“bangun sayang, cepet mandi bentar lagi kita kan mau ke restoran jeng Anggi, ketemu keluarga Haling.” Ucap mamanya –lagi-.
Shilla membulatkan matanya, kesadarannya mulai terkumpul “oh iya, aku lupa ma.” Gumamnya seraya menepuk jidatnya.
“makanya cepet mandi sana, mama nyiapin baju kamu.” Kata mamanya sambil berjalan menuju lemari Shilla.
Shilla segera bangkit berjalan sempoyongan menuju kamar mandinya, hampir saja ia menubruk lemari hiasan yang berada dekat kasurnya, karena kesadarannya belum terkumpul sepenuhnya.





Malam ini Shilla terlihat begitu sangat cantik dan anggun, dengan balutan dress cantik tak berlengan berwarna merah ke jinggaan, dengan salur putih di bagian dadanya dan di bagian bawahnya. Ditambah dengan rambutnya yang dibiarkan tergerai melewati bahunya dengan bando pita di kepalanya *penampilan Shilla (Blink) di Inbox*. Serta dandanan yang natural untuk seumurannya dan high heels yang senada dengan dressnya.
Ia mematut dirinya didepan kaca, lalu tersenyum manis. Ia akui jasa mamanya memang sangat berguna, mamanya lah yang merubah Shilla menjadi secantik ini, mamanya yang memilihkan baju, serta mendandaninya.




***



Keesokan harinya…

Shilla tersenyum ketika membuka pesan masuk ke ponselnya pagi ini. Pesan itu dari Rio, karena semalam mereka bertukar nomor.

From: Mario J

Shill gue jemput lo ya sekarang, lo harus udah siap..
Oke cantik ;)


Kalimat terakhirlah yang membuat Shilla senyam-senyum membaca sms dari Rio, kalimat terakhirlah yang membuat perubahan pada pipi Shilla, dan yang paling penting pengirimnya lah yang membuat hati Shilla berdesir.
shilla mengetikan jawaban untuk Rio.

To: Mario J

Oke :D

Setelah itu, Shilla memasukan ponselnya kedalam saku rok abu-abunya. Lalu ia berjalan menuju cermin dan mematut dirinya didepan cermin. Seperti biasa ia selalu terlihat cantik, rambutnya -seperti biasa- di biarkan tergerai, di tambah sebuah jepit beraksen kupu-kupu ia sematkan dijejumputan rambutnya. Kemudian ia kembali tersenyum, dan memutuskan untuk menunggu Rio di depan rumah.
Shilla menuruni anak tangga dengan senyuman yang mengembang di bibirnya, dan sebuah senandung kecil yang selalu ia senandungkan “nananana”.

Sampai di dapur, Shilla menyapa kedua orang tuanya masih dengan senyuman yang mengembang, lalu shilla menyomot roti –selai- strawberry kesukaannya dan meminum susunya.
Mamanya heran melihat sikap Shilla yang sejak malam tadi sering tersenyum sendiri.
“Shill kamu kenapa sih?” Tanya mamanya.

Shilla menghentikan aksinya meneguk susu, ia menaikan sebelah alisnya.
“maksud mama?” ia balik bertanya.

“kamu itu loh ko senyam senyum gitu.”

“oh..hehe.. ga papa ko mah, hehe.” Jawab Shilla cengengesan.
Sedangkan sang papa hanya menggeleng-geleng melihat putri satu-satunya ini.

“kamu berangkat sama supir ya, papa hari ini bakal ke luar kota.” Akhirnya sang papa ikut berbicara.

“ngga ko pah, aku mau sama temen, hehe.” Kata Shilla cengengesan, lalu menggigit rotinya. Mama dan papanya menoleh kearah Shilla. Jelas saja mereka pun heran, Shilla tak pernah berangkat sekolah dengan temannya, ia selalu diantar supir kalo tidak dengan papanya.

“siapa?” Tanya kedua orang tuanya.

“Rio, mah pah, hehe.” Jawab Shilla polos ditambah dengan cengiran khasnya.

Kedua orang tuanya tersenyum, lalu menggelengkan kepala.
“oh pantesan dari malem kamu senyum terus, karena Rio ya.” Goda sang mama.

Shilla yang sedang meneguk susunya tersedak mendengar ucapan mamanya.
“uhuk…”

“lho Shill kenapa? Ati-ati dong sayang, mama seneng ko kalo kamu deket sama Rio.” Ucap sang mama lagi, sembari mengusap punggung anak gadisnya itu.

Shilla menyusut bibirnya yang belepotan susu, pipinya memerah.
“apaan sih mama, ngga ko” ucap Shilla sedikit malu-malu apaan sih, aduh ko gini ya, jangan sampe, batinya.

“udah ah mah, aku berangkat dulu ya, takut si Rio nunggu di depan.” Katanya, lalu ia menyalami kedua orang tuanya dan segera pergi keluar rumah.


------------------------------


Seisi sekolah gempar dengan kedatangan Shilla dengan Rio, melihat mereka berboncengan membuat semua siswa maupun siswi berdecak iri. Terlebih karena Shilla cantik, dan Rio tampan, ada juga yang melihat mereka kagum.
Hingga di kelaspun topic hangat yang beredar adalah kedatangan Shilla dan Rio yang berboncengan. Sivia menjadi orang pertama yang menggandeng tangan Shilla menuju luar kelas dan menanyai perihal kedatangan Shilla bersama Rio, dan Rio pun juga sama Gabriel lah yang pertama kali menanyainya.
Sedangkan pemuda yang duduk di bangkunya sedari tadi menatap kedua sejoli itu penuh amarah, terlebih pada Rio ia memandang dengan tatapan membunuh. Tapi tak ada seorangpun yang menyadari itu.

Jumat, 15 Juli 2011

First Love part 1

Posted by Avinda deviana devah at Jumat, Juli 15, 2011 0 comments
Bau rumput basah di taman pagi ini menyeruak masuk kedalam indra penciuman seorang gadis yang tengah asik menelusuri jalan setapak di taman ini. Berkali-kali ia mengirup udara yang menyejukkan ini, hingga memenuhi rongga dadanya seraya merentangkan tangan dan memejamkan matanya, lalu perlahan-lahan ia hembuskan lagi tanpa tersisa.
Gadis ini memakai T-sirt lengan panjang, berwarna hijau dengan garis-garis, dan celana jeans berwarna hitam. Tas selempang kecil berwarna caramel tersampir dipundak kanannya. Dan rambut yang dibiarkan terurai panjang melewati bahunya, anak-anak rambutnya menari-nari terbawa semilir angin sejuk.
Kemudian ia membuka matanya lagi dan menarik kedua ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman. Ia menoleh ke kanan, banyak bunga-bunga cantik yang tumbuh disana, bermacam-macam warna merah, kuning, biru. Banyak juga kupu-kupu dan kumbang yang terbang diatas bunga-bunga itu. ada sebuah kursi kayu panjang berwarna coklat kusam yang kulitnya sudah mulai terkelupas bertengger disana. Rumput-rumput hijau yang terawat mengelilingi kursi dan bunga-bunga disana. Memperindah suasana di tempat itu. lalu ia menoleh kesebelah kiri, hamparan rumput hijau yang banyak di tumbuhi tumbuhan asoka dan bugenvile, terlihat sangat indah. Banyak anak-anak kecil yang saling berkejar-kejaran, ada juga yang sedang duduk dengan satu tangan memegang ice cream dan satu tangan yang lain memegang sebuah balon yang di ikat dengan benang. Sangat lucu sekali, banyak cairan es yang berceceran di sekitar mulutnya. Gadis ini terkekeh melihat anak kecil yang belepotan cairan es krim itu. “kaya gue waktu kecil ya” gumamnya. Lalu ia mengalihkan pandangan pada seorang wanita muda yang sedang hamil berjalan-jalan ditemani sang suami. Bibir gadis itu menipis ketika melihat sepasang suami istri itu. kemudian ia mengalihkan pandangan kedepan dan kembali berjalan dengan memasang sebuah senyuman manis di wajahnya.

Gadis tadi lalu duduk di sebuah kursi panjang berwarna putih yang berada di tengah taman di dekat air mancur. Ia melilik jam berwarna biru laut yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, lalu menghela napas. Sepertinya ia sedang menunggu seseorang. Sambil menunggu ia mengayun-ayunkan kedua kakinya dengan tangan yang memegang tepian kursi.


“shillaaaaa.” Seseorang datang menyapanya seraya menepuk pundak gadis yang bernama shilla itu.

Shilla menoleh lalu tersenyum, orang yang ia tunggu akhirnya datang juga.

“hay cha” katanya masih tersenyum.

“hehe sory ya lama.” Kata gadis yang shilla panggil cha itu.

“ga papa ko cha, duduk sini.” Ujarnya mempersilahkan acha duduk. Lalu acha mengangguk dan duduk di samping shilla.

“emm, ada apa cha? Ga biasanya lo ngajak gue ketemuan gini??” Tanya shilla setelah berhadapan dengan acha.

“hehe, ga apa sih, gue mau nemuin lo sama seseorang shill.” Jawab acha dengan cengiran khasnya.

Kening shilla berkerut, lalu ia tertawa “hahaha. Gaya lu, pake mau nemuin gue sama seseorang segala, emang siapa cha?” katanya.

“ih lo pasti nanti kaget shill, lo udah kenal ko sama dia.” Kata acha.

Shilla mengangkat satu alisnya, sedikit heran dengan kalimat yang di ucapkan acha barusan. “hah? Emang siapa sih cha?” kata shilla penasaran.

“haha, udah deh nanti lo juga tau.”

“ih achaa ga asik.” Kata shilla seraya membalikkan badan dengan tangan melipat didada dan bibir yang membentuk seperti kerucut.

“hahaha, eh iya..” acha menggantung kalimatnya, hingga membuat shilla berbalik menghadapnya. “lo.. masih inget sama first love lo dulu ga?” acha melanjutkan kalimatnya dengan nada menggoda seraya menaik turunkan alisnya.

Shilla membulatkan bola matanya “achaaaaa ngapain lo Tanya-tanya ituuuuu?” kata shilla, ia merasakan wajahnya memanas.

“hahaha, muka lo merah shill.” Kata acha tertawa seraya menunjuk wajah shilla. Sedangkan shilla hanya mengembungkan kedua pipinya lalu membuang muka.

“lo berati masih inget dong.” Ucap acha lagi.

“ih chaaa udah deh ga usah di ungkit, itukan masih jaman gue SD masih anak kecil, lagian udah dari 5 taun yang lalu, masih aja lo inget.” Kata shilla mengomeli acha gaya ala ibu-ibu yang mengomeli anaknya karena anaknya nakal. Lalu mengerucutkan bibirnya.

Acha kembali tertawa “hahahaha”. “ya iyalah gue inget, first love lo kan sepupu gue, setiap ada apa-apa lo lari ke gue, ngasih surat, nangis-nangis, semuanya kan kegue, hahaha.” Kata acha lagi, lalu menjulurkan lidah saat menyelesaikan kalimatnya.

Wajah shilla semakin memanas, semburat merah muda timbul di permukaan pipi pualamnya, lalu ia memalingkan muka dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

“apaan sih cha, udah deh ga usah di ungkit.” Katanya kemudian.

“haha, iye iye.” Kata acha, kemudian ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, jarum pendek itu telah menunjukan ke angka 9, sedangkan jarum panjangnya menunjuk ke angka 6, sudah dari 15 menit yang lalu ia datang ketempat ini untuk menemui teman semasa SDnya ini, seharusnya ia kesini tidak sendirian, tapi karena seseorang yang bersamanya itu mampir dulu ke toko buku, jadi ia lebih dulu menemui shilla.

Keheningan tercipta diantara kedua gadis cantik ini Shilla memilih untuk bersandar pada kursi dengan menghentak-hentakkan kakinya dan tangan menyilang didepan dada. Sedangkan Acha terus berkutat dengan ponselnya.
Shilla perlahan menghela nafas, lalu mengerjapkan matanya, sekilas melirik acha yang masih sibuk dengan ponselnya, teringat pada ponsel, shilla langsung merogoh ponselnya yang berada di tas kecilnya. Sesaat kemudian shilla menekan salah satu tombol ponsel itu hingga ponsel ditangannya menyala, tapi sedetik kemudian shilla mengerucutkan bibirnya. Tak ada apa-apa di sana, tak ada pesan atau pun telpon yang masuk, hanya ada foto dirinya yang tengah tersenyum. Sepi banget sih, kemana orang-orang, si via kemana biasanya ngesms, si cakka juga kemana, biasanya nelpon, ah gila apa hp gue yang rusak. Gumamnya dalam hati seraya mengemukul-mukul hapenya dengan tangannya.
Disampinganya, acha sedikit terganggu oleh aktivitas shilla, ia menoleh kearah shilla, lalu mengangkat sebelah alisnya. Acha melirik shilla, lalu melirik lagi ke ponsel yang berada di tangan shilla. Kemudian acha menggeleng-gelengkan kan kepalanya.

“shill?” panggil acha.

Shilla menoleh pada acha yang kelihatannya heran, lalu ia melirik pada tangan dan ponselnya, kemudian ia menghentikkan aktivitasnya, dan kembali menoleh pada acha lalu memamerkan cengiran kudanya. Acha hanya menggeleng-gelengkan kepala.

“ngapain shill? Hape lo rusak?” Tanya acha.

“hah.. em.. engga, eh em iya, eh ngga ding, bosen aja gitu ehehe.” Kata shilla sedikit gelagapan.
Acha hanya membulatkan mulutnya membentuk huruf O seraya menganggukkan kepala, kemudian berbicara. “bosen? Atau lagi nunggu telpon dari seseorang?”

“ha? Apaan, ngga ko, lagian siapa yang mau nelpon gue, ga ada cha, haha.” ujar shilla santai.

“emang lo ga punya cowo?” Tanya acha keheranan, shilla tersenyum kemudian menggeleng.

“masa sih? Lo belum pacaran dari SD dulu?”

“yeeeh enak aja, ya pacaran lah pas gue SMP, tapi Cuma sekali sih, hehe.”

“Cuma sekali? Sama siapa?  Ga mungkin deh lo kan cantik pasti banyak yang kecantol sama lo.”

“biarpun sekali juga ga masalah ko, yang pentingkan pacaran.” Katanya mengerucutkan lagi bibirnya, “sama temen SMP gue waktu kelas 9, itu juga Cuma beberapa bulan, gue cantik dari mana coba, kalo iya cantik seharusnya cowo yang gue taksir mau kan sama gue.” Lanjutnya.

“sama siapa? Sama siapa? Lo naksir siapa sekarang?” kata acha antusias.

Shilla memutar bola matanya “itu dulu sih sama Riko, terus sekarang naksir sama Alvin, cumaaa…” kata shilla menggantung kalimatnya, ia lalu menundukkan kepala  “gue, cinta gue bertepuk sebelah tangan, dia ga ngerespon gue cha.” Shilla melanjutkan kalimatnya.

Acha mengangkat sebelah alisnya “masa sih dia ga suka lo? Lo kan cantik shill, banget malah.” Ujar acha.

“yaya gue cantik, tapi lo harus inget cha cinta itu ngga diliat dari tampang, iya gue cantik, kata siapapun juga, tapi orang yang gue suka ngga liat tampang gue, karena cinta emang ga liat dari apa-apa kan, kalo Cuma liat dari tampang gue itu namanya bukan cinta tapi kekaguman.”  Kata shilla pandangannya lurus menerawang kedepan.

“wow, lo dapet dari mana tuh kata-kata?” kata acha, matanya berbinar-binar, seperti mengagumi kata-kata shilla.

Shilla mengangkat bahu, lalu kembali menatap acha. “sebenernya dapet dari novel sih, hehe.”

“nyeeeh gue kira lo dapet sendiri tuh kata-kata.” Cibir acha

“hehe ngga lah, tapi ya gue juga dapet pelajaran dari kata-kata itu cha” katanya tersenyum pada acha.

“hmm oke bagus lah, terus gimana lo tuh sama si Alvin?”

“apanya?”

“lo masih suka?”

“iya sih, tapi gue mau nyoba move on aja deh.”

“oh gitu.” Acha mengangguk-ngangguk kecil, “em.. kalo sama yang mau gue temuin gimana shill?” lanjutnya.

“lu kira move on gampang cha? Oh iya keingetan, emang siapa sih yang mau lo temuin ke gue? Perasaan ga dateng-dateng.” Kata shilla kemudian menoleh ke sebelah kanan dan kiriknya, mencari orang yang akan acha temui dengannya.

“gue yakin bisa shill, gue rasa dia juga lagi move on kok.” Acha menghela nafas sebelum melanjutkan bicaranya. “bentar lagi nyampe ko, dia lagi di jalan, tunggu aja ya.” Ujar acha seraya menepuk-nepuk pundak shilla.

“oh oke.” Katanya menganggukkan kepala.

Mereka berdua akhirnya tenggelam dalam sebuah obrolan yang asyik, hingga akhirnya seorang pemuda datang dan melambaikan tangan pada acha. Acha menyadari kedatangan dan lambaian pemuda tadi, ia membalas lambaiannya sembari tersenyum. Shilla heran, pada siapa acha melambaikan tangan? Apa orang yang acha bilang sudah sampai? Shilla memutar badannya kebelakang, karena orang itu memang ada beberapa meter di belakang shilla.
Shilla memicingkan matanya, mencoba melihatnya dengan jelas, seorang cowo perawakannya tinggi, memakai kaos putih bertuliskan huruf R yang dijahit memakai benang kuning di dada sebelah kirinya, dan celana jeans hitam panjang lalu dengan sepatu kinds berwarna putih. Satu tangan pemuda itu menjinjing sebuah plastic dengan tulisan Gramedia, dan tangan lainnya di sembunyikan di balik saku celananya. Pemuda itu semakin mendekat, hingga akhirnya shilla dapat dengan jelas melihat wajah pemuda itu. Matanya membulat ketika pemuda itu tepat dua langkah berada di depannya, pemuda itu tersenyum pada shilla, lalu mengalihkan pandangan pada acha, dan berjalan menghampiri acha.
Sedangkan shilla masih terpaku di tempat, mulutnya menganga matanya berbinar-binar.
‘tuhan itu tadi apa? Malaikat? Atau pangeran atau apa? Cakep banget, mimpi ngga sih gue?’ berkali-kali shilla menggumamkan kalimat itu dalam hati. Terlalu asik dalam pikirannya, shilla tak mendengar suara acha memanggilnya.

“shill..” panggilan pertama

“shill..” panggilan kedua,

Hingga akhirnya… “shillaaaaaaaa.”  Acha menepuk pundak shilla sambil berteriak di kuping shilla.

Shilla terkejut mendengar suara acha yang terdengar begitu nyaring tepat ditelinganya, dengan cepat ia menutup telinganya lalu menghadap acha dan berteriak tak kalah kencangnya. “apaaaaaaaaaaaaaaaaa?”

Acha dan pemuda tadi sama-sama menutup telinganya, shilla menyadari bahwa ia disana tidak hanya berdua bersama acha, tetapi ada orang lain, pemuda tampan itu. Shilla lalu menunduk malu, wajahnya bersemu berah.

“elu sih ngelamun aja, suara lo cempreng gila shill, nih orang yang mau gue temuin sama lo.” Dumel acha, lalu mengendikkan dagunya kearah pemuda tadi.

Shilla dengan malu-malu mengangkat wajahnya, menatap acha, lalu menatap si pemuda tampan itu, dan kembali menatap acha.

“sory, abisnya tadi lo ngagetin gue..” kata shilla memainkan tangannya, “emm, dia siapa cha?” lanjutnya dengan tampang polos.

“lo ga inget dia shill?” kata acha menunjuk pemuda tadi, sedangkan si pemuda hanya berdiri mematung dengan tampang –gue-ga-ngerti-ada-apa-ini. Shilla hanya menggeleng dengan polos. Kemudian acha menoleh pada pemuda tadi.

“terus lo inget dia yo?” bergantian, acha kini menunjuk pada shilla. Lalu pemuda tadi memandangi shilla, kepalanya memiring, lalu ia menggeleng. “gue ga tau, baru pertama gue ketemu sama cewe cantik kaya dia.” Ucap Rio santai, hingga membuat semburat merah kembali muncul di permukaan pipi pualam shilla, ia kembali menundukkan kepala, menutupi wajahnya yang kini merah.
Acha menepuk jidatnya, lalu menggeleg-gelengkan kepala.

“kalian ga inget sama sekali? Ya ampuuun, berapa lama kalian ga ketemu? Oh ya 5 taun kalian ga ketemu, dan gue sadar diantara kalian berdua banyak banget perubahannya, lo shill lo sekarang cantik banget, dari dulu emang cantik sih, tapi beda, lo dulu juga tomboy, dan sekarang feminim banget, terus lo yo, lo dulu item, cungkring ga ganteng-ganteng amat, dan sekarang lo putihan, berisi, terus cakep ya pantes aja kalian ga kenal sama sekali.” Oceh acha panjang lebar.

Sedangkan shilla dan pemuda tadi memandangi acha heran dengan tampang yang memang benar-benar polos, mereka seperti seorang anak kecil yang melihat mamanya mengomel sendiri tanpa tau apa masalah mamanya.

Acha berdecak kesal, lalu menggeleng, ia menghela nafas berat, kemudia ia menatap shilla.

“shill.., dia itu..” acha menunjuk pemuda tadi. “dia itu Rio, sepupu gue, temen kita waktu SD, lo inget?” kata acha tak tahan. Setelah mendengar pernyataan acha, mata shilla terbelalak, ia mengalihkan pandangan pada Rio, ia menatap Rio tak percaya, jadi cowo cakep ini Rio? Ah kacau masa sih cakep banget?

Acha berganti menatap Rio, “yo dia..” acha menunjuk Shilla, “dia Shilla, Ashilla zahrantiara, wakil KM lo waktu SD dulu, lo inget?”

Kini Rio yang dikejutkan, memang Rio memang terkejut, tapi ia bisa mengatur ekspresi wajahnya (?) sehingga yang terlihat sekarang ia berdiri stay cool seperti tadi, hanya mulutnya bergerak mengucapkan kata “what?” tak bersuara. Dan sedikit mengangkat sebelah alisnya.

“oke udah tau masing-masing kan? Sana deh ngobrol-ngobrol, gue beli minum dulu ya, daaa.” Kata acha lalu berlalu pergi.

Shilla masih menatap Rio dengan pandangan tak percaya, ia memandangi Rio dari ujung kaki sampai ujung rambut, lalu ia bersandar lemas tak berdaya pada kursi yang ia duduki, shilla menundukkan kepala, mengerutkan dahi dan menggigit bawah biirnya pelan, lalu bergumam “masa iya dia cakep banget” nyaris berbisik pada dirinya sendiri. Kemudian shilla kembali mengangkat wajahnyadan menatapi Rio lagi.

Sedikit jengah karena terus ditatapi shilla, Rio mendesah pelan dan akhirnya angkat bicara “kenapa sih ngeliatin gue mulu, cakep? Pastilah gue cakep, udah ya cukup jangan ngeliatin gue terus.” Dengan percaya dirinya, dan dengan tangan dilipat di depan dada.
Shilla berdesis pelan seraya memutar bola matanya, lalu melengos.

“eh lo juga makin cantik shill, banget malah, beda banget dari yang dulu, dulu muka lo sangar banget tau ga, eh sekarang muka lo kalem banget, hebat pake pemutih apa shill?” Rio kembali berbicara, tepatnya kali ini memuji –dan mengoloki- shilla.

Semula wajah shilla memerah mendengar pujian Rio, sedikit senyuman tipis tersungging diwajahnya, namun seketika wajah shilla berubah, ia mengerutkan hidungnya, dan mengerucutkan bibirnya, lalu ia menengok kearah Rio, ia memandang Rio dengan tatapan membunuh.

“lo muji gue apa ngehina gue sih?” dumel shilla seraya berdiri berkacak pinggang menghadap Rio.

“haha sory shill, eh liat coba sekarang tinggian gue dari pada elo, hahaha lo kalah sama gue shill, weee.” kata rio meminta maap, dan kemudian mensejajarkan dirinya dengan shilla, lalu mengukur tinggi mereka, dan terakhir menjulurkan lidahnya.
Shilla semakin kesal, ia lalu mencubit tangan Rio kencang-kencang.

“adaaaaaaaw, sakit shill, gila aja lo.” Ringis Rio sambil mengusap-usap lengannya.

“abisan elonya gitu, wee” kata shilla menjulurkan lidah lalu menyilangkan tangannya di depan dada.





**************************************************************







Setelah hari itu tepatnya satu minggu yang lalu pertemuannya dengan Rio, shilla kini tidak lagi melihat Rio, ya karena kesibukan shilla di sekolah tentunya yang membuat shilla jarang bertemu acha juga. Meskipun terkadang shilla selalu memikirkan Rio, tapi shilla tak begitu mempedulikan hal itu, ia tak menyadari bahwa akan ada sesuatu yang terjadi padanya, tentang perasaannya.
Pagi ini shilla kembali beraktivitas seperti biasa, ia pergi sekolah dengan riang gembira, ya karena itu memang shilla, shilla yang selalu tersenyum, dan ceria, dengan mulut bawelnya yang selalu bikin shilla merupakan anak yang periang.

Shilla berjalan riang di sepanjang koridor sekolahnya, sambil bersenandung kecil, ia memainkan anak-anak rambutnya yang terurai panjang. “lalalalala~”
Satu menit kemudian, shilla menghentikan langkah dan senandungnya, kemudian raut wajahnya berubah seperti sedang mengingat sesuatu, telunjuknya terangkat kemudian menyentuh bibirnya, lalu beralih kedagu, ia mengetuk-ngetuk dagunya.
Seketika itu shilla terbelalak, ia mengingat sesuatu yang sangat mengerikan di pagi ini, air mukanya berubah menjadi pucat.
“HUWAAAAAA GUE BELUM NGERJAIN TUGAS BU WINDAAAAAA” teriaknya histeris, hingga membuat beberapa siswa yang berada di sana terlonjak kaget dan menoleh kearah shilla.
Buru-buru shilla berlari menuju kelasnya yang tak jauh dari tempatnya berdiri tadi. Dengan tergesa-gesa shilla berlari hingga tak mempedulikan siswa-siswi yang ada di sepanjang koridor memandangnya heran, dan menubruk beberapa siswa yang menghalangi jalannya, tanpa berbalik shilla hanya mengucapkan kata “sory..sory” sambil terus berlari.


Sesampainya di kelas shilla langsung menghampiri teman sebangkunya, lalu mengobrak-abrik meja temannya.

“bantuin gue cepet bantuin gue, gue belum ngerjain tugas bu winda, plis plis.” Katanya masih mengobrak abrik meja temannya.

“aduh shill gue juga lagi ngerjain, diem deh kalo mau bareng aja sini.” Omel temannya.

“ah sini mana, sepuluh menit lagi masuk, aaaaaa via cepetan deh.” Kata shilla seraya menarik buku temannya, sivia.

“aduh shill, bentar lagi paling 5 menitan lagi, diem deh ini ntar bukunya sion sobek.”

Setelah itu shilla duduk pasrah menunggu sivia mengerjakan –lebih tepatnya memindahkan hasil kerja orang lain ke- tugasnya.
Sesekali mata bening itu melirik pemuda yang duduk bertopang kaki di meja sebelah sivia, di matanya pemuda itu masih sangat menawan, mata sipitnya, senyumannya, gelak tawanya, suaranya, wajah orientalnya yang tampan, aaa bagaimana bisa move on kalo terus saja begini, rutuknya dalam hati, lalu menggeleng kan kepala. Ia menundukan kepalanya menatapi kedua ujung sepatunya dengan miris, ia memajukan bibir bawahnya, dan memainkan tanganya. Miris miris sekali, bila mengingat ternyata cinta kita bertepuk sebelah tangan, apalagi perasaan kita tak di respon sama sekali, sangat mengerikan.

“shill nih.”

Suara dan sodoran sebuah buku itu membuatnya mengangkat kepala, ia tersenyum dan menerima buku itu dengan tak bersemangat.

“kenapa lo? Tadi aja histeris banget, sekarang lemes banget”

“ga papa ko.” Kata shilla dengan suara yang sangat pelan, seraya mengeluarkan alat-alat tulisnya dari tasnya dengan –sangat- tidak bersemangat.

“shill lo kenapa?” Tanya sivia cemas.

Shilla menggeleng, lalu memulai memindahkan tulisan rumus-rumus itu pada bukunya.
Seperti yang sudah mengerti, sivia hanya mengangguk paham, lalu melirik pada pemuda yang duduk –masih dengan- kaki bertopang disampingnya. Sivia menghela nafas.

Alvin ya shill?” bisiknya pelan.

Shilla menoleh pada sivia, bibir bawahnya maju beberapa centi lalu mengangguk miris.

“sabar ya shill…” sivia menepuk-nepuk pelan pundak shilla, mencoba memberi kekuatan pada sahabatnya ini. Shilla hanya mengangguk dan mulai berkutat lagi dengan tugasnya. Shilla mencatat rumus-rumusnya benar-benar tidak semangat, ia sering menghela nafas berat.

“shill nulisnya cepetan dikit napa, bentar lagi bel, bu winda bentar lagi datang.” Ujar sivia mengingatkan.

Seperti mendapat ilham, shilla langsung tersentak, lalu dengan cepat dan semangat ia melanjutkan mencatatnya.
Selang setelah 5 menit yang lalu bel berbunyi, shilla masih berkutat dengan tugasnya, tinggal seperempatnya lagi ia menyelesaikan tugasnya.
Kemudian Bu Winda datang, semuanya tampak diam, tak bersemangat. Bu winda terkenal sebagai guru yang paling kiler setelah pak duta di sekolah ini. Hanya saja bu winda paling tidak suka dengan muridnya yang tidak focus belajar saat ia menerangnkan, sedangkan pak duta, ia lebih suka kelas yang disiplin, tak ada suara, tak ada hal sekecil apapun yang bisa mengganggu kelasnya.
Pagi ini memang di awali dengan pelajaran fisika yang digurui oleh Bu winda, bu winda juga wali kelasnya shilla.

“selamat pagi anak-anak.”

“pagi bu.” Jawab anak-anak serempak, shilla pun ikut menjawab, namun pandangannya tetap tertuju pada catatannya yang kini tinggal 10 baris lagi.

“anak-anak, sekarang kita kedatangan murid baru. Ayo silahkan masuk.” Bu winda mempersilahkan murid baru itu masuk.
Setelah anak baru itu masuk, semuanya sangat ribut, apalagi kaum hawa, mereka sibuk berbisik-bisik, ada juga yang tak sengaja berteriak histeris melihat anak baru itu.
Sivia pun ikut ternganga melihat si murid baru itu.

“shill, shill.”

“hmm..”

“shill..” kata sivia menyikut shilla, namun tatapannya masih tertuju pada murid baru itu.

“apasih, gue lagi ngerjain ini tanggung 5 baris lagi.” Kata shilla masih tidak beralih pandangannya dari bukunya itu.

“shill dia cakep lho.” Kini sivia menatap shilla penuh arti.

Shilla menghela nafas, lalu menghentikan aktivitasnya sekedar untuk melirik sivia yang kini masih menatapinya, lalu ia memutar bola matanya dan menggeleng-gelengkan kepala, kemudian ia kembali berkutat dengan catatannya.

“terserah deh.” Ujar siva seraya mengangkat bahunya.

“ayo perkenalkan namamu.” Kini Bu winda yang berbicara.

Si murid baru hanya mengangguk, lalu menghadap pada teman-temannya yang kini duduk tak sabar menanti untuk ia mulai perkenalannya.

Sebelum berbicara, dia tersenyum manis pada teman-teman di depannya itu, hingga membuat kaum hawa merasa ingin pingsan melihat senyuman miring murid baru itu.

“hai semua…” ia angkat bicara.

Setelah mendengar suara itu, shilla menghentikan aktivitasnya sejenak, ia merasa mengenal suara itu, ia memutuskan untuk mendengarkannya lagi sebelum ia benar-benar melihat siapa murid barunya itu.

“perkenalkan….”

Shilla menelan ludah, ia kenal suara itu, jangan-jangan….

“nama saya…”

Shilla belum yakin sepenuhnya, ia memegang erat pulpen yang ia genggam di tangannya, kemudian memejamkan matanya.

“Mario stevano..”

“Haaaaaaaah???”
Shilla langsung tesentak, ia mengangkat kepalanya untuk melihat siapa murid baru itu, ia terlonjak kaget sehingga pulpen yang ia genggam jatuh kebawah, dan sedikit menciptakan kegaduhan didalam kelas.

“ada apa Ashilla?” Tanya Bu winda yang sepertinya terganggu oleh kegaduhan yang shilla buat.

“hehe, ga ada apa-apa bu, ini pulpen saya jatuh.” Jawab shilla cengengesan.

“ya sudah jangan ada keributan lagi, ayo Mario lanjutkan perkenalannya.”

Rio mengangguk lalu meneruskan perkenalannya, tapi pandangannya tertuju pada shilla yang sama kini tengah melihat ke arahnya, lalu ia tersenyum.

Shilla masih tak percaya, murid baru itu ternyata Rio, haaaaah masa sih, kenapa Rio tidak pernah bilang padanya kalo ia akan bersekolah di tempat shilla sekolah, apalagi sekelas dengan shilla.

Rio kini di persilahkan duduk oleh bu winda, ia di suruh duduk dengan Gabriel, yang teryata Gabriel duduk tepat di belakang shilla.
Rio berjalan semakin dekat, semakin dekat hingga akhirnya berhenti tepat di depan meja shilla, Rio tersenyum lalu menyapa shilla.

“hay shill..” katanya seraya menaik turunkan alis.

Shilla membuka mulutnya tanpa bersuara, ia masih sangat tak percaya. Kini berpasang mata menatap shilla aneh, ada yang bertanya pada shilla tapi tak shilla jawab, shilla memutar badannya kebelakang ke meja Rio dan Gabriel.

“lo..lo Rio? Lo ko bisa sekolah disini?”

Rio yang sedang berkenalan dengan Gabriel mengalihkan pandangan pada shilla.

“kenapa emangnya?” jawab Rio santai.

“isssh kenapa ga bilang-bilang???” Tanya shilla kesal.

“kenapa mesti bilang-bilang sama lo, emang lo siapa, lagian gue gatau kalo lo juga sekolah disini.”

“issh Rio……” kata shilla geregetan.

“ashilla, ada apa? Kenapa kamu hari ini sering bikin kegaduhan, kalo mau kenalan nanti saja pas pelajarang berakhir.”

Shilla menunduk lalu berujar “iya bu, maaf kan saya.”

“ya sudah, lanjutkan pelajaran kalian, buka buku dan tugas kalian.”

Shilla masih nampak kesal, bisa-bisanya si Rio bilang begitu padanya, awas saja nanti gue bikin perhitungan, umpatnya kesal di dalam hati.

“shill…” sivia menyikut shilla.

“apa.”

“lo kenal Rio dari mana?”

“dia temen SD gue….”

“hah…?”

“udah deh diem nanti ketauan bu winda..”

“ashilla sivia kalian sedang berbincang apa? Kalo mau berbincang bincang silahkan di luar!.” Bentak bu winda.

“m..ma..maaf bu, ta..ta..di saya sedang bertanya pada shilla, karena tulisan ibu kurang jelas.”

“hmmm, ya sudah sekarang cepat kerjakan, dan jangan lagi ada yang ribut.”

Semuanya menganggu lesu begitupun dengan shilla dan sivia, mereka saling menyikut kemudian mengangguk juga.



Pelajaran hari ini pun telah usai, maka semua siswa pun berhamburan keluar sekolah dengan riang gembira, apalagi kelas XI MIPA1 mereka sangat bersemangat untuk segera keluar dari sekolah ini, karena seharian ini merupakan hari yang menyebalkan bagi mereka selain pelajaran-pelajaran yang membosankan ditambah dengan guru-guru yang super kiler dan mengerikan.

Dikelas kini tinggalah tiga butir murid yang masih sibuk membenahi alat-alat tulis mereka, sebenarnya salah satu dari ketiga murid itu sudah selasai dari beberapa saat tadi, ia hanya sedang menunggu buku yang di pinjam ‘teman’nya untuk dikembalikan padanya. Mereka adalah Shilla, Alvin, dan Rio –simurid baru tadi-.

Shilla masih sibuk dengan catatan yang ia tulis di bukunya, ia –terpaksa- meminjam buka Alvin untuk disalin pada buku catatannya, sivia yang mengusulkannya, karena ia sendiri harus buru-buru pergi bersama Oik adik sepupunya untuk segera pulang. Jadilah mau tidak mau shilla harus berani berurusan dengan Alvin. Hal sekecil itu mampu membuat shilla menunduk malu menutupi perubahan warna pada pipinya, sesekali ia tersenyum mengingat bahwa dikelas ini hanya ada dia dan cowo yang ia suka Alvin, tunggu ralat! Bukan hanya ada dia dan Alvin tetapi ada seseorang yang duduk bersandar pada kursi sembari membaca komik bleach kesukaannya di belakang punggung shilla. Shilla tak sedikitpun mempedulikan seseorang yang lain disana, yang terpenting ia kini berada satu ruangan –yang sebelumnya memang sering satu ruangan tapi tidak sesepi ini.

Di belakangnya Rio mendesah pelan, komik yang ia baca sedikit lagi akan selesai ia tuntaskan. Ia mengangkat kepalanya dan melihat sekeliling ruangan hanya ada dia dan kedua teman –lama dan baru-nya, lalu kembali tenggelam dalam keasyikkan komik tersebut.

Di samping shilla, Alvin duduk menyamping menghadap shilla dengan bertopang kaki dan dengan tangan yang menyilang di depan dada. Air mukanya tenang. Ya itulah Alvin, pendiam, dingin, dan cuek. Tapi dibalik itu semua Alvin menyimpan kasih sayang yang amat besar.
Pandangannya lurus kearah buku catatannya yang tergeletak diatas meja gadis yang selama ini mengejarnya –ingat mengejarkan bukan dikejarnya-. Ia memberanikan diri untuk melirik sekilas gadis yang tengah asik dengan tulisannya. Ia menyadari betul gadis didepannya ini sangatlah cantik, dengan mata bening, pipi pualamnya, hidungnya yang sedikit mencuat keatas (?), bulu matanya yang lentik dan bibirnya yang dilapisin lipglos transparan berwarna pink. Ditambah dengan mukanya yang super polos saat mengerjakan dengan tekun tulisan-tulisan itu. Seulas senyuman tipis tersungging diwajah Alvin. Kini ia sadar, betapa bodonya ia tidak pernah peduli pada shilla, tidak pernah menyadari kehadiran shilla untuknya, tidak pernah menoleh sedikitpun pada shilla, dan lebih kejamnya ia tidak pernah merespon sama sekali perasaan shilla padanya. Ia hanya berfikir setiap orang itu sama, sama-sama buruk di matanya, sehingga ini yang membuat ia tertutup pada semua orang, bahkan ia hanya berteman dengan Ray, teman sebangkunya, itu pun karena Ray sudah lama mengenal Alvin.
Kini Alvin akan berusaha membuka hatinya pada gadis ini, pada shilla.

Selasa, 14 Juni 2011

Love Story ~part5~

Posted by Avinda deviana devah at Selasa, Juni 14, 2011 0 comments
Hari pertama sekolah ify tiba. Dengan semangat Ify bersiap-siap untuk menyiapkan keperluannya. Tak perlu repot-repot, karena di sekolah ini sesi Masa Orientasi Siswa (MOS) tidak –terlalu- repot, hanya sederhana. Tidak seperti sekolah sekolah lain yang di tuntut membawa bawaan layak-nya orang pindahan, dirias layaknya ondel-ondel, disiksa layaknya budak. MOS di sekolah ini lebih sehat dan positif. tak ada siksa-menyiksa, tapi selebihnya memang kegiatannya sama dengan sekolah-sekolah lain, hanya pada hari pertama saja yang berbeda.

Ify kini tengah memakai baju seragam lengkap SMPnya dulu, karena memang saat mos masih belum bisa memakai sekaram putih abunya SMA Darma Buana, karena mereka belum sepenuhnya menjalankan mos. Ify menguncir satu rambutnya yang ikal dan panjangnya melebihi bahu, dan memasang pita berwarna biru di poninya. Lalu ia menyelempangkan tasnya yang senada dengan rok biru –SMP-nya. Kemudian melangkah menuju cermin yang terpasang di meja rias, dan mematut dirinya sendiri. Di cermin itu ada pantulan dirinya yang tengah saling berpandangan (?). ify berkali-kali merapikan bajunya, mengusap-usap bagian bahunya, merapikan lagi bagian rambutnya, sesekali kepalanya memiring kekiri mencoba meneliti apa lagi yang kurang hari ini. Ify menarik salah satu ujung bibirnya, lalu bergumam “lumayan” lalu menyembangkan senyumanya “gue siap ngadepin hari pertama mos di sekolah baru, yeah!” lanjutnya bersemangat, seraya mengangkat satu tanganya penuh semangat 45. kemudian ify berjalan maninggalkan kamarnya menuju ruang makan, karena pastinya keluarga barunya itu sudah menunggunya untuk sarapan bersama.

Kalian lihat kan, hari pertama ify tak merepotkan bukan? Seperti yang sudah kalian baca sebelumnya, pada hari pertama mos di sekolah ini, tak sama dengan mos pertama di sekolah lain. Hari pertama mos disini siswa/siswi baru hanya di beri pengarahan oleh Pembina OSIS, dan OSISnya sendiri. Tetapi kemudian di hari kedua dan ketiga mos, mereka melaksanakan mos seperti di sekolah lain, dan tentunya siswa/siswi bari ini pun disuruh memakai barang-barang itu, seperti tas dari karung, rambut di kepang banyak pake tali pita, kaos kaki warna warni, oya tentu saja lebih ringan dari sekolah lain.



Seusai sarapan Rio langsung menyambar tasnya yang tergeletak di lantai samping tempat duduknya, lalu berjalan kearah mamanya untuk berpamitan dan mencium tangan mamanya. “rio berangkat ya mah” katanya seraya mencium tangan mamanya, mamanya hanya mengangguk, “pah, Rio nunggu di mobil aja ya.” Lanjutnya menoleh pada sang ayah, kemudian melanjutkan langkahnya dan kebiasaanya berjalan dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celana. Tapi sesaat kemudia ia menghentikkan langkahnya, dan menoleh ke belakang.

“fy, makannya yang cepet dong, takut kesiangan, inget sekarang mos!” katanya ketus, tegas, namun pelan sambil mengendikkan dagu pada jam dinding yang menempel pada dinding ruang makan.
Ify yang sedang melakukan aksi menyuap makanannya terpaksa terhenti karena mendengar ucapan Rio tadi, sedikit merasa kesal, ia mengerucutkan sedikit bibirnya, lalu mengangguk mengiyakan ucapan rio, tanpa menoleh keasal suara itu keluar dan tanpa mengeluarkan suara, lalu Ify pun kembali menyuap makanan disendoknya dan mengunyahnya.
Sedangkan Rio tetap dengan posisi tadi hanya memutar bola matanya, lalu berdecak pelan, dan kembali berbicara “15 menit lo kudu udah selese makan” selanjutnya ia melanjutkan langkahnya, dan berlalu cepat meninggalkan ruang makan sebelum gadis itu berkata-kata lagi.


15 menit kemudian berlalu, ify mengampiri rio lebih cepat dari yang rio ucapkan tadi, kini mereka berdua tengah berada didepan mobil dan menunggu pa adit keluar. Rio bersandar pada samping mobil inova ayahnya masih dengan kedua tangan dalam saku celana, dan tak lupa earphone selalu menguntai di telinganya, matanya terpejam menghayati lagu yang terputar di ipodnya itu. Dan ify.. ia berada di posisi yang paling melas, Ify duduk berjongkok disamping Rio, menghadap mobil, dengan kedua tangannya menopang dagu dan bertumpu pada kedua lututnya. Sesekali ia menghela nafas dan mengerucutkan bibirnya, lalu mengembungkan kedua pipinya. Tak lama kemudian Adit datang, dan mereka pun melesat dengan cepat menuju Sekolah Menengah Atas Darma Buana.


***********************************************************


MOS pun telah selesai Ify lewatkan, selama 3 hari ify melaksanakan masa orientasi siswa itu dengan lancar, dan sedikit gangguan, seperti dalam membawa persyaratan yang OSIS berikan, kadang Ify bertanya pada Rio tentang syarat-syarat yang Ify tak tahu, dan Rio pun kadang memberi tahu Ify karena tak tega melihat muka melas ify yang sudah terlalu melas (?).
Kini Ify pun telah resmi menjadi siswa SMA Darma Buana, ia ditempatkan di kelas X 3, Ify juga telah mempunyai teman, yang sekarang sudah lumayan dekat dengannya dan duduk sebangku dengannya, Sivia Azizah teman baru sekaligus teman sekelas dan sebangku ify.

***

Dalam ruangan bernuansa hijau muda ini seorang gadis berpipi chuby dan bermata sipit terus mondar mandir mengelilingi ruangan yang ia sebut kamar, dengan tangan didepan dada layaknya seorang majikan yang menunggu pembantunya untuk membawakan barang kemauannya. Ya, memang gadis ini sedang menunggu pembantunya mengambilkan sepatu barunya yang disimpan dalam lemari sepatu di lantai bawah. Berkali-kali ia melirik jam yang melingkar di tangan kirinya, lalu berdecak kesal. Ia menghentak-hentakkan kakinya karena sudah merasa keki dan bosan menunggu sang pembantu.

“bik, bibik, mana sepatu via, lama banget ini udah jam setengah 7 lho, nanti via terlambat.” Teriak sivia seraya mengetuk-ngetuk jam tangannya denganjari telunjuknya.

“iya non, ini saya mau kekamar non.” Jawab si bibik –pembantu sivia- dengan logat jawanya.

Sivia kemudian mendengus kesal lalu kembali mondar mandir di kamarnya, sampai akhirnya samng bibik mengetuk pintu kamarnya.

Tok tok tok…

“masuk”

“ini non, maaf ya bibi ngambilnya kelamaan” ujar sibibi seraya membungkukkan badan.

“ya udah ga papa, oya, mama sama papa udah berangkat?” kata sivia sambil memakai sepatunya.

“sudah non, tadi pagi-pagi sekali.”

Sivia hanya membentuk mukutnya seperti huruf O, tanpa besuara.

“masih ada yang kurang non?” Tanya sang bibi.

“ngga ada, makasih bi.” Jarnya “eh tolong bilang sama pak aman, cepet siapin mobil saya mau berangkat sekarang.” Lanjutnya.

“baik non, nanti saya sampaikan pada pak amin, oya non rotinya sudah ada di meja makan ya non. Saya permisi.” Kata si bibi, lalu pergi menghilang di balik pintu.

Sivia hanya mengangguk saja, sebelum akhirnya pembantunya keluar.

Sivia azizah yang teman sebangkunya Ify, ia tinggal hanya berdua dengan pembantunya, karena kedua orang tuanya jarang sekali berada dirumah, paling hanya seminggu dua atau tiga kali mereka ada dirumah, karena kesibukkan pekerjaan. Tapi itu tak membuat sivia kehilangan kasih sayang dari orangtuanya, karena orang tuanya masih sangat peduli padanya.





**********************************************************



Ify berjalan sendiri menelusuri koridor sekolah, setelah tadi sempat berjalan berdampingan dengan Rio, tetapi akhirnya berpisah karena Rio pergi keruangan OSIS, sebetulnya hanya alasan saja Rio pergi keruang OSIS karena sebenarnya Rio tak mau ada orang yang melihat mereka jalan berdampingan. Tapi toh itu pun tak jadi masalah buat Ify, karena sejujurnya Ify agak risih bila dekat dengan Rio, pasti ia akan diintrogasi oleh fans-fansnya Rio di sekolah, dia akan ditanyai seperti ini “hay fy, lo siapanya Rio ko semobil sama Rio?” ya seperti itu lah pertanyaannya, seperti pagi ini ia sudah ditanyai oleh beberapa orang tentang kedatangannya bersama Rio, tapi Ify hanya menjawab “kebetulan aja” singkat sesingkat singkatnya lalu langsung pergi, karena tak mau ditanyai lebih lanjut lagi. Ya memang jawaban ify tadi bukanlah sebuah alasan yang memuaskan, orang yang menanyai Ify masih sangat penasaran dengan itu, tapi kebanyakan orang tak mempedulikan itu.

Ify mengalihkan pandangan kesebelah kanan, disitu terlihat lapangan basket yang sudah dipenuhin oleh kakak-kakak kelasnya yang sedang bermain basket, banyak juga anak-anak dari kaum hawa yang menonton permainan basket itu. Tentu saja yang bermain basket disana adalah sekumpulan pemuda tampan yang menjadi the most apalah itu Ify tak tahu, hanya yang ia ingat dalam the most, the most itu terdiri dari beberapa pemuda tampan yang Rio juga termasuk dalam julukan the most itu. Seingat Ify ada 4 orang pemuda yang menjadi bintang sekolah itu. Mario Stevano si anak cablak nan pongah namun tetap ramah dan baik hati dengan wajah tampan dan senyuman miringnya menambah kesempurnaan sosok Rio itu. Rio juga seorang kapten basket dan wakil ketua OSIS. Selanjutnya Alvin Jonathan si judes dan pendiam namun sangat perhatian pada orang-orang yang ia sayangi, Alvin sering dijulukin pangeran diam-diam menghanyutkan, dengan mata sipitnya dan wajah oriental yang kebanyakan kaum hawa disekolahnya menyebutkan bahwa Alvin mirip actor korea yang berperan sebagai joon-ha di serial drama korea yuhee the witch. Alvin juga ketua eskul pfotografi disekolahnya, dan seorang anggota OSIS juga basket. Ada juga si Gabriel Stevent yang terkenal dengan senyuman miring yang memikat para kaum hawa yang melihatnya, wajahnya yang amat tampan dan sikapnya yang sangat sangat ramah membuat pemuda satu ini banyak dikagumi oleh siapapun yang dekat dengannya. Iel –panggilan akrab Gabriel-  adalah ketua OSIS SMA Darma Buana sekaligus ketua eskul seni, dan juga anggota tim basket. Yang terakhir seorang cowo keren yang yang sangat tampan dan pasti status playboy selalu melekat pada pemuda yang seperti ini, tapi tentu saja tidak pada cowo satu ini, Cakka Kawekas. Cakka tidak menjadi playboy, ia cukup mempunyai satu dambaan hati yang selama 6 tahun selalu setia di dalam hatinya. Cakka bukan anggota OSIS seperti ketiga temannya, ia lebih suka dalam bidang olahraga. Cakka adalah kapten futsal disekolahnya, juga anggota tim basket. Cakka terkenal lebih cepat gaul dengan siapapun, ia akrab dengan siapapun, anaknya juga humoris, cablak juga, biasanya cakka menjadi lawan adu mulut dengan Rio, karena sama-sama cablak.

Ify menatapi satu persatu pemain basket yang tengah berlaga dalam lapangan basket sekolahnya ini, ada 5 orang pemain yang sedang berkutat dengan bola bundar yang mengampul itu, diantara kelima orang itu ada tiga orang yang ify –lumayan- kenal, mereka adalah Alvin, Gabriel, Cakka, dua orang lainnya ify tak tahu, ia tak kenal. Sedikit heran, kenapa yang ada Cuma ketiga orang itu? Seperti ada yang kurang, bukannya biasanya kalo ada mereka bertiga pasti ada lagi satu orang yang paling di puja oleh banyak kaum hawa, tapi ko dia ga ada. Ify mengangkat satu alisnya mencoba berfikir kira-kira siapa yang kurang itu, siapa yang tak ada dalam lapangan itu. Sesaat kemudian ify menepuk jidatnya, artinya ia sudah tau siapa orang itu. “yang ga ada itu kan ka Rio, gue lupa.” Gumamnya sangat pelan, nyaris berbisik pada diri sendiri. Tapi kemudian Ify mengangkat bahu mengacuhkan ketidak adaanya Rio di lapang basket, karena Ify juga ingat tadi Rio berjalan kearah ruang OSIS, yang berlawanan arah dengan kelasnya Rio yang berada dilantai dua sebelah kiri dari lapangan basket.

Kemudian Ify mengalihkan pandangan kesudut lapangan, disana berdiri seorang gadis cantik berkulit putih dan berambut panjang ikal yang dibiarkan terurai melewati bahunya, rambutnya yang menari-nari liar terbawa angin membuat gadis itu nampak sangat begitu cantik di tambah senyumannya yang manis. Gadis itu berdiri memeluk sebuah buku yang agak tebal dengan satu tangannya, sedang tangan lainnya sibuk menyelipkan helaian rambut yang sedikit membuatnya terganggu karena rambutnya menghalangi pandangannya, kebelakang telinga, diiringi gelak tawa renyah yang terukir di wajah cantiknya. Lalu seorang gadis lainnya yang berpenampilan sedikit mirip dengan cowo datang menghampiri gadis itu dan sedikit menepuk pundak gadis cantik itu, hingga membuat gadis cantik itu menoleh kearahnya dan tersenyum padanya.
Entah mengapa Ify tiba-tiba menarik kedua ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman sambil terus menatap kearah kedua gadis yang kini tengah berbincang-bincang, yang Ify tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan karena jarak mereka terlalu jauh. ify kelihatannya sangat mengagumi gadis cantik bermata bening itu, kalo ia lelaki pasti ia akan langsung jatuh cinta pada gadis itu.

“kakak itu cantik banget” gumam ify polos, lalu memiringkan kepala seakan-akan mengingat-ingat sesuatu, dahinya sedikit berkerut “siapa ya namanya” katanya lagi sambil mengetuk-ngetuk jari telunjuknya pada dagu tirusnya. Sedetik kemudian sayup-sayup Ify mendengar teman seangkatannya melewatinya sedang berbincang dengan temannya yang lain.

“eh enak ya jadi kak Shilla, udah cantik, baik pinter, kaya lagi, perfeck deh pokoknya.” Kata gadis yang pertama.

“iya ya gue envy sama ka Shilla….”

Setelah itu Ify menyeringai dan tersenyum lebar, ia kini mengingat nama kakak kelas yang ia kagumi itu.

“oh iya namanya Shilla, kalo ga salah namanya Ashilla Zahrantiara, namanya cantik kaya orangnya.” Kata ify tersenyum tipis masih terus memandang kearah gadis cantik yang bernama Shilla tadi. Tapi tak begitu lama senyum Ify memudar seiring dengan datangnya seorang pemuda yang tak asing lagi bagi Ify menghampiri Shilla dan menutup mata Shilla dari belakang dengan kedua tangan kokohnya.
Entah mengapa saat melihat adegan itu hati Ify terasa sakit, matanya terasa panas, sepertinya butiran bening itu akan segera meleleh di kedua pelupuk matanya, Ify mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu mengusap pelan matanya. Dan menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha menetralisir hatinya saat ini yang tengah bergejolak. Apakah ini adalah rasa cemburu? Oh tidak jangan! Jangan terjadi. Ify memohon dalam hati, lalu ia berlari menuju kelasnya…


***************



Gadis cantik bermata bening ini tengah asik berbincang dengan sahabat dekatnya yang berpenampilan seperti anak laki-laki namun tetap anggun dan masih terlihat sisi keperempuannya (?). Kadang tertawa mendengar celotehan dari sahabatnya itu kadang juga mengerucutkan bibir saat sahabatnya itu mengolokkinya. Tapi dimata seorang cowo gadis yang tengah asik mengobrol dengan sahabatnya itu meskipun memasang tampang sebagaimana rupapun, tetap saja kelihatannya cantik.
Lalu pemuda itu berjalan mengendap-endap layaknya maling yang habis mencuri sesuatu, kerarah gadis itu dari belakang punggung gadis itu, dan mengulurkan kedua tangannya lalu menutup mata gadis itu, hingga sang empunya meronta, dan mencoba menarik telapak tangan yang menutup matanya.

“aduh siapa deh ini, iseng banget” dumelnya masih tetap mencoba menarik telapak tangan itu, namun tetap saja tangan yang menutup matanya terlalu kuat untuk ia buka.
Sedangkan gadis yang berdiri dihadapan Shilla –gadis yang matanya ditutup- hanya terkekeh geli saat pemuda yang menutup mata shilla berkata padanya untuk diam walau hanya dengan gerakan mulut saja, tapi masih bisa di mengerti olehnya.

“aduh ag lo masih di situ kan? Ini siapa deh?” ujar shilla pada sahabatnya yang bernama agni itu.

“tebak dong shill.” Ucap agni sedikit menahan tawa, karena geli melihat ekspresi wajah shilla.

“emm.. tunggu deh.” Ujar shilla sambil meraba-raba tangan yang menutupi matanya itu, mencoba menebak siapa orang yang berani iseng padanya. “aaah Rio ya, ih jangan iseng deh yo, lepasin.” Katanya lagi sedikit mencak-mencak.

“hahahahaha, yah ketauan deh.” Kata Rio seraya melepas tangannya dari mata shilla.

“huu iseng banget sih kamu yo.” Kata shilla mengerucutkan bibirnya, yang kini tengah berhadapan dengan Rio.

“hahaha, sory cinta, aku kan Cuma bercanda, jangan marah ah, tambah cantik ntarnya.” Ujar Rio sedikit menggoda seraya mengusap puncak kepala gadisnya itu.

Shilla memutar bola matanya, “ah ya ya ya, tapi jangan ngulangin lagi ya, gombalanmu basi tau ga.” Katanya seraya menunjuk Rio dengan telunjuknya lalu melipatkan tangan di depan dada.

“weeeeeh gue jadi bat nyamuk nih, gue pergi ya, kalian lanjutin aja pacarannya.” Kata agni yang segikit keki melihat sepasang kekasih ini tengah saling melepas rindu mengacanginya.

“iye sono-sono ganggu aja lo.” Kata Rio sedikit mengusir agni seraya mengibas-ngibaskan tangannya.

“eh yo gue tabok lu ya!.” Ujar agni sedikit kesal sambil mengulun lengan bajunya.

“kalem mamen kalem, kenapa ya si cakka demen banget sama cewe kaya lu ag, ckck.” Kata rio sedikit berdecak, seraya mengangkat tangannya dan mencoba menenangkan agni.

“eh yo gini-gini juga gue cewe, jelas lah cakka demen sama gue, gue kan cewe bukan cowo!”

“eh udah udah kalian ko malah ribut, udah yo jangan ngatain agni lagi, kasian dia, ntar kamu adu bacot lagi sama si cakka.” Kata shilla menengahi perdebatan yang terjadi di antara kekasihnya dan sahabatnya.

“shill bilangin tuh sama cowo lu jaga tuh mulutnya, kalo ngga gue sumpel tuh mulut lo yo.” Kata agni masih dengan nada yang sedikit kesal.

“iye, gue minta maaf deh ag, damai ya peace.” Kata rio lagi dengan cengiran kudanya ditambah dengan satu tangan yang ia angkat dan mengangkat jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf V.
Agni hanya memutar bola matanya lalu melengos dan pergi begitu saja.

“ckck, aneh deh shill temen mu itu.” Rio berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Sedangkan shilla hanya terkekeh geli melihat kekasihnya yang nampaknya ngeri melihat agni sahabatnya.

“ya udah lah yo, kita kekelas aja yu.” Shilla meraih tangan Rio dan menariknya menuju kelas.

“lah shill, kita kan baru juga ngobrol masa mau ke kelas, ntar aku ketemu sama si agni itu lagi.” Kata Rio malas-malasan, tapi shilla tetap menarik tangannya.

“udah lah yo, dikelas juga kita kan bisa ngobrol, kalo masalah agni gampang, agni kan udah dijaga sama cakka nanti.” Kata shilla santai.

Rio hanya menuruti kemauan kekasihnya itu, terpaksa ia berjalan dengat tidak semangat menuju kelasnya.

Sedangkan disudut lain seorang pemuda jangkung berdiri tegak, tersenyum masam penatapi punggung kedua sejoli yang kini semakin jauh melangkah. Ia memejamkan matanya, lalu menghela nafas berat sambil membuka kembali matanya. Lalu kembali menyunggingkan senyum yang sekarang lebih getir dari senyumannya yang tadi.

“gue harap lo bahagia sama Rio, shill.” Katanya.

“mungkin gue bego ngerelain orang yang gue cintai demi bahagia dengan orang lain yang dia cintai, tapi itu udah cukup buat gue, ngeliat lo senyum aja gue udah seneng shill.” Lanjutnya berbicara sendiri, lalu menarik salah satu ujung bibirnya membentuk seulas senyuman sinis. Kemudian dia berbalik dan melangkah meninggalkan tempat itu..
 

secuil karya avinda Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea