Tampilkan postingan dengan label Cerpen Idola Cilik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Idola Cilik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 September 2011

Cinta segi empat -mini cerpen-

Posted by Avinda deviana devah at Selasa, September 27, 2011 0 comments

Aku, kamu, dia, dan dirinya...
 
Apakah ini cinta segi empat? Haha aneh sekali, tapi memang benar ada kan. Dan cinta yang seperti ini akan membuat banyak hati tersakiti. Dan salah satunya adalah hati ku..

Semuanya berawal dari hari itu. Hari dimana aku mulai menyukainya, hari dimana hal ini menjerumuskan aku dalam suatu hal yang rumit, hari dimana hatiku penuh dengan rasa cemburu.

Kalian tau? Saat aku pertama bertemu dengannya tak ada satu halpun yang membuat aku jatuh hati padanya, dia memang tampan, dan sepertinya dia idaman setiap wanita. Sebenarnya hal itu tak membuatku menyukainya, tapi entah mengapa akhir-akhir ini aku malah sering memikirkannya, membayangkan siluet tampan itu. Membayangkan senyumnya, garis wajahnya yang tampan, tubuh tinggi tegapnya, semuanya yang ada didirinya. aku sangat-sangat membenci ini terjadi padaku, aku tak mau menyukainya, aku tak mau terus memikirkannya, tuhan tolong aku buang rasa ini, ku mohon.

Kalian heran mengapa aku begini? Tentu saja aku begini. Aku tidak mau menyukainya, asal kalian ketahui dia itu tampan dan tentu saja dia disukai oleh setiap gadis bukan? Dan dia kini memang disukai oleh kedua teman dekatku.

Pertama Ify, ya dia cantik dia baik, namun menurutku dia sedikit arrogant. Ify sering sekali di gosipkan dengan Rio –pemuda itu- karena menurutku diantara mereka ada something. But I don’t know.

Dan kedua Sivia, ia teman sejak SMPku, dia teman yang paling dekat denganku. Sejujurnya ia lebih dulu menyukai Rio, bahkan mereka berdua sempat dekat, namun hubungan keduanya menjadi tidak begitu baik karena kedatangan Ify.

Oke. Masalahkan? Dan ini yang paling membuatku sebal. Dulu aku tak ada sedikitpun memiliki rasa pada si Rio, bahkan saat Rio dan Ify dekat, atau sekedar mengobrol aku ikut menyoraki mereka, menggoda mereka, jujur saja dulu aku sangat mendukung hubungan mereka berdua. Rasanya senang sekali melihat mereka dekat, Ify yang cantik dan Rio yang tampan.

Selanjutnya aku sering mendengarkan curhatan dari Sivia tentang Rio dan Ify. Mendengarkan curhatan Sivia aku sedikit ilfeel sama si Rio, dia jadi so ganteng, tapi emang ganteng sih, yah pokoknya jadi nyebelin gitu. Dari dulu Sivia udah ga begitu suka sama Ify, ya jelas saja Sivia merasa cemburu pastinya setiap melihat Ify dan Rio berduaan. Tapi dulu aku tak sebal pada Ify, aku sudah menganggap dia teman baikku.

Dan sekarang kalian tau tidak? Mungkin aku terkena karma atau apalah sejenisnya. Aku sekarang malah balik menyukai Rio. Tuhaaan aku sungguh tak mau hal ini terjadi. Banyak sekali sisi negatif yang muncul. Aku jadi sedikit ilfeel pada Ify. Kenapa? Karena Ify dan Rio selalu saja mengumbar-ngumbar kemesraan, padahal diantara mereka –mungkin- tak ada suatu ikatan yang menjadi kepastian dalam hubungan mereka. Dan asal kalian tau sebenarnya Ify sudah mempunyai kekasih, namanya Alvin. Apa itu? Apa itu? kalo diantara Ify dan Rio ada something berati Ify SELINGKUH dong? Apa-apaan ini. Sumpah, jujur saja aku sekarang menjadi berfikiran negativ terhadap Ify.

Aku kesal aku kesaaaaaal, aaa dulu aku sering mengejek Sivia, aku bilang padanya “panas, panas, panas” dan sekarang itu terjadi padaku. Sekarang setiap hari dikelas aku harus melihat adegan romantis tidak langsung dari mereka berdua. Tuhan aku tak mau begini tolong aku....

Saat aku bercerita pada Sivia, dia malah menertawaiku dia bilang “hahaha, kasian deh lo Shill, karma noh dari gue, rasain deh panasnya kalo ngeliat mereka berdua mesra-mesraan.” Sial, sial, sial!!!! Aku ingin sekali menangis mendengar ucapan Sivia. Jujur saja aku memang tidak mau merasa cemburu seharusnya aku sendiri sadar gak seharusnya aku suka pada Rio yang jelas-jelas aku sendiri tau kalo Rio itu di gosipin sama Ify, tapi yah harus bagaimana lagi kan? Cinta itu datang sendirinya dimana saja, kapan saja dan pada siapa saja tanpa kita duga. Sekarang aku pasrah aja, entah apa yang akan terjadi selanjutnya padaku, Rio, Ify, dan Sivia..

Apakah Rio akan memilihku? Hahaha aneh sekali apa coba tanda-tandanya, apa Rio akan memilih Sivia? haha mungkin saja hubungan mereka yang sekarang itu kaya batu bara bisa jadi dingin lagi kayak dulu. Atau mungkin Rio jadian sama Ify, kalo yang ini sih kemunginan besar..

Dan kalian ketahui, cinta segi empat itu sungguh merumitkan, menyakitkan, dan sungguh menyebalkan! Apapun yang terjadi diantara kami pasti akan ada hati yang tersakiti..

 ----------------------------------------------------------

okay...
itu ceritanya ga tau deh itu mini cerpen atau apa, ceritanya pendek banget-_- kaya curhatan aja ya? emang sih ._.v
thanks buat teh Khanty sama Tita yang udah ngedukung terbitnya cerita ini, hahaha :D

Kamis, 19 Mei 2011

Adikku tercinta

Posted by Avinda deviana devah at Kamis, Mei 19, 2011 0 comments
Dor gedor gedor gedor……
Suara berisik itu membangunkanku dari mimpi indahku, huh menyebalkan pasti itu adikku yang menggedor gedor pintu kamarku, dasar adik sialan, kerjaannya ganggu mulu, arrrghhhhhhhhhhhh.

“woy kebo bangun, pagi woy, haha” katanya dari luar sana. Aku langsung emosi dan segera membuka pintu, ingin ku gecek gecek mukanya, ku ijak ijak tubuhnya, ku jambak rambutnya sampe botak, ku jait mulutnya, eh dia malah kabur entah kemana.
“ah sialan lo, cemen, pengecut!” gerutuku, tanganku mengepal erat menahan emosi. Tapi tiba-tiba…
“BHAAAAAAAAAAAAAA”
“kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa”
“bhahahahaha, lucu banget lo ka, wkwkw, wleek :p” katanya tertawa puas.
“rioooooooooooooooooooooooooooooo, sialan lo, sini.” Kata ku dan mengejar adikku Rio.
Turun, naik, turun lagi, naik lagi, muter muter meja makan, tak henti-hentinya ku mengejar si Mario stevano aditya, adik paling ngeselin diduniaaaaaaaaaa.
Sampe akhirnya mama memarahi kami berdua.
“siviaaa rioo! Berentiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!”
Dan akhirnya kami berenti kejar-kejaran. Aku dan rio menghadap bunda dengan muka yang tertunduk, pasti dimarahin lagi.
“kalian ini, udah gede masih aja berantem, kaya tikus sama kucing aja! bunda tuh pusing ngeliat kalian terus terusan berantem, dan tiap pagi kejar-kejaran seperti ini!”
“tapi bun, itu si rio yang salah, dia ngebangunin akunya gak sopan, aku malah di panggil kebo!” belaku pada diri sendiri.
“emang lo kebo.” Celetuk rio.
“tuh kan bun, si anak manja ini bilang kebo ke aku, ih” kataku manyun.
“elokan emang mirip kebo ka, badan gemuk gitu, iya kan bun?” kata rio santai.
“cukup, cukup, cukup! Udah selese ributnya? Kalian ini gak dewasa-dewasa ya, kamu via udah kelas XI tapi masih aja kaya anak kecil gini, dan kamu Rio, sekarang kamu udah kelas VIII kamu harus udah mulai dewasa!! Sekarang cepet masuk kamar dan mandi! Cepeeeeeeeeet!!!!!”
Lalu kami berdua kabur menuju kamar, tapi masih sempat saling menjitak kepala lawan (?).


----------------------------------------

Disekolah, tepatnya ditempat dudukku, aku manyun dengan tengan didada, masih kesal dengan kejadian tadi pagi, yang menimpaku. pagi ini benar-benar menyebalkan.
Saat duduk aku merasa gelisah, kesal, dan amarah menyatu, kedua kakiku ku hentak-hentakkan ke lantai, kedua tanganku mengepal dan ku pukuli meja tak bersalah.
Bedug bedug bedug. Suasana pagi hari di sekolahku semakin rame dengan ditambah suara meja dipukuli. Anak-anak bukannya menegur malah ikutan memukuli meja dan bernyanyi, seperti “susis wowowo susis, suami sieun istri, susis wowowo susis, suami takut istri” dan ada pula yang berjoget-joget ala sule, kedua jempol diangkat keatas, berputar-putar, pinggul begoyang-goyang, ayeee, ayeee, suasana sekarang menjadi ramai, aku pun menjadi ceria kembali, dan melupakan masalah tadi pagi.

“hahaha, tadi pagi lo manyun, sekarang nyengir, dasar, wkwk! Kenapa sih tadi pagi?” kata seseorang.
“ya habis tadi pagi gue kesel fy, sama ade gue, tapi sekarang udah gak lagi, udah lupa.”
“pasti gitu, tiap kali lo kesel, pasti gara-gara ade lo. Eh tapi gue pengen tau ade lo kaya gimana, hari ini gue main ke rumah lo ya!”
“yakin lo mau maen fy? Gak bakal nyesel?”
“ya nggak lah via, gue main ya!”
“ya, ya, ya deh!”.

Ify itu sahabatku, sebenarnya kami bersahabat tak begitu lama, malah baru, kami mulai bersahabat saat pertama masuk SMA, jadi ia tak begitu tau tentang keluarga ku, termasuk Rio.
Ify orangnya baik, asyik, cantik, dan bauanyaaaaaaaak lagi, seneng aku punya sahabat seperti ify.


-------------------------------------------

Pulang sekolah, ify benar-benar main kerumahku, kami pulang bareng, dalam hati aku terus berdo’a, semoga ify gak terkena penyakit jantung kalo Rio jail padanya, mulut ku komat kamit membaca mantra (?)

“masuk fy.” Kataku mempersilahkan ify masuk.
“oke”
“duduk fy.”
“siip, ade lo mana?”
‘ya ampun ni anak ngebet banget pengen ketemu ade gue, kaya ade gue artis aja *Rio emang artis wew :p*’ batin ku.
“lo tunggu disini ya, gue, panggil dulu ade gue, tapi.. gue gak tanggung jawab ya kalo lo kenapa-kenapa.” Kataku amat pasrah.
“hhaha, iya via, tenang aja, malah mungkin ade lo bakal takluk sama gue, haha, udah sana panggil.”
Aku pergi mencari Rio dengan berat hati, dan dengan lagkah yang benar-benar lemas.
Saat ku mulai mencari Rio di dalam kamarnya, tiba-tiba, di bawah tempat ify berada, terdengar…..
“BHAAAAAAAAAA”
“WAAAAAAAAAAAAAAAAAA” ify berteriak, perasaan ku gak enak, aku langsung turun menghampiri ify. Ini pasti gara-gara Rio, huh dasar lo.
Hos, hos, hos, “lo gak papa kan fy?” kataku terengah-engah.
“enggak, tadi gue Cuma kaget via.” Kata ify memegang dadanya.
“lbeneran fy? Lo gak kena penyakit jantungkan?”
“lebay deh lo, gak papa kok!”
“syukurlah” kataku mengelus dada.
Di belakang sofa terdengar suara cekikikan, ya, itu suara Rio.
“eh lo, sini, dasar bandel banget sih lo.” Kataku menyeret rio dari belakang sofa.
“aduh, aduh, sesek ini ka, lpasin ih ah.” Kata Rio.
“sekarang minta maap sama kaka ify.”
“via, gak usah terlalu keras sama ade lo, kasian, anak seganteng itu lo siksa.”
Aku langsung menepok jidatku, aduh siify udah terhipnotis kegantengan ade gue, mati gue.
“oke, oke, kaka yang cantik Rio minta maap ya.” Kata Rio dengan lago so’ manisnya.
“iya, ade ganteng, kaka maapin kok,”
“tuh kak, kaka cantik ini aja gak marah, kenapa lo harus marah.”
Mampus gue, mati gue, aku mencela diri semdiri dalam hati.
“oke, tapi namanya ify, bukan cantik!”
“ah via, gak papa ko, ade ganteng kamu manggilnya kaka cantik aja ya, oke!”
“sip kak cantik.”
Rio pasti sekarang merasa menang, pasti dihatinya ia tertawa puas, pasti dalam hatinya ia menghina ku, nasib, nasib.

Suasana menjadi tenang, dan sejuk kembali.

“bi surti, ambilin minum!.”
“iya, non”

Bi surti pembantuku berlalu mengambil air minum untuk ify. Saat aku mengobrol asyik dengan ify, tiba-tiba Rio kembali beraksi, ia kembali menjaili kami, lebih tepatnya aku, di belakang sofa ia menarik rambutku, bukan, bukan menarik tapi mencabut rambutku, beberapa helai rambutku tercabut, aku mencoba sabar dan pindah tempat dari tempat dudukku tadi.

“ini non airnya, silahkan diminum.”
“makasih bi.”
“ya non, oh iya, den Rio, kalo mau naik tangga, hati-hati ya, tangganya licin banget, tadi ketumpahan minyak, belum terlalu bersih.”

Saat menikmati minuman yang baru saja bi surti suguhkan, aku baru sadar, ternyata ponselku tak ada, aku mencarinya di bawah buku, gak ada, dibawah meja, gak ada, pasti diambil Rio.

“ecieeeeeeeeeee, sms dari ka Gabriel, prikitiwwww, haha”
Tuh kan bener ponselku sama dia.
Rio, ih kamu ya, berani-beraninya baca sms orang….” Kataku mengejar dia sampai dapat, tapi sayangnya gak dapet-dapet, aku masih mengejar dia, muter-muter sofa, dan yesss, akhirnya aku dapet juga, ponselku kembali ketanganku, ayeeee.
“dasar kamu, anak bandel, gue sumpahin jatoh dari tangga!!!!!!!!!!!” kataku berteriak.
Rio hanya melet dan langsung naik tangga.
“ya ampun via, lo kalo ngomong hati-hati, jangan asal aja.”
“biarin fy, jatoh jatoh, gue gak peduli, sebel gue sama dia.”
Tapi tiba-tiba terdengar suara Rio menjerit dan berisik seperti ada yang jatoh.
“AAAAAAAAAAAAA, KAKA………..”
“yaampun via, rio, via, rio, itu rio jatuh, viaaaa.”
“alah, Cuma boongan kali fy, dia anaknya jail, pasti dia mau ngerjain kita.”
“nggak via, rio, via rio.” Ify mengguncang-guncang bahuku, raut wajah ify terlihat ketakuta. Aku tak berani menoleh kearah rio, aku juga takut, tapi aku berharap itu boongan, itu gak bener, rio gak papa.
“VIA!!!!! LIAT RIO!!!!!!!!!!!!!!!” kata ify membentakku. Aku yang tadinya takut memberanikan diri melihat Rio, tubuhku bergetar hebat, ya tuhan semoga gak bener, ku pejamkan mataku dan terus berdo’a, saat aku membuka mata, ternyata benar Rio jatuh, kini ia tergeletak lemas di bawah dan berlumuran darah, tanpa berlama-lama, aku langsung menghampiri Rio dan air mata ku meleleh, membasahi pipiku.

“rio, kamu gak papa kan, hiks, rio, bi surtiiiiiiiiiiiiiiiiiiii.”
“iya non, astagfirullahalazim, den rio kenapa.”
“udah cepet telpon bunda sama ayah, ify cepetan telpon ambulan!!, hiks, hiks.”
“baik non” “oke via.”
“rio, kaka minta maap. Rio kaka salah, rio bangun rio, hiks, hiks, hiks.”
“awwwwwwww sakit ka, kaki roi sakit.” Rintih rio.
“mana yang sakit? Kaka minta maap yo, hiks.”
Disaat ia merasakan sakit yang begitu dalam, ia masih sempat tersenyum.
“gak papa kok ka ini Cuma kecelakaan, awww,”
Kemudia rio pingsan, aku bener-bener merasa bersalah, lalu aku bawa dia ke rumah sakit.

--------------------------------

Dirumah sakit aku masih terisak, air mataku tak henti-tentinya mengalir, aku salah, aku bego, aku bukan kaka yang baik, dan tak henti-hentinya aku mencaci maki diriku sendiri.

“via, udah, jangan nangis, ini Cuma kecelakaan.” Kata ify menenangkanku, ia pun ikut menangis.
“tapi gue salah fy, hiks, gak seharusnya gue nyumpahin rio, hiks, hiks, gue bukan kaka yang baik fy.”
“udah lah via, jangan terus terusan nyalahin diri sendiri, ini bukan salah lo, ini Cuma kecelakaan, mendingan sekarang lo berdo’a biar rio gak kenapa-kenapa.”

Aku hanya menangis, sampe akhirnya bunda dan ayah datang. Aku langsung memeluk bunda. menceritakan semua yang telah terjadi, dan tetap menyalahkan diri
sendiri.

Lalu seseorang berpakaian serba putih ala seorang dokter menghampiri kami.
“pak, bagai mana keadaan anak saya?”
“anak ibu dan bapa udah siuman, tapi begini pak, bu, anak ibu kakinya retak, tapi kami akan berusahan untuk menyembuhkannya pak, untuk lebih lanjutnya, mari bapa, ibu ikut saya ke ruangan saya.”
“oh, baik dok, via, masuk sana liat keadaan Rio.”
Mendengar dokter bilang kalo kaki Rio retak, aku semakin terpukul, aku gak bisa membayangkan gimana nanti, ini semua salah ku.
“via, ayo masuk.” Ify mengajakku dengan lembut.
“ify, lo tau kan kaki Rio retak, apa lo masih mau ketemu dia? Dia kan…”
”cacat maksud lo? Via, rio gak sepenuhnya cacat, tadi lo sendiri dengerkan kata dokter tadi, rio bisa disembuhin. Dan biarpun rio keadaannya kaya gimana gue tetep sayang sama dia, kaya lo sayang ke dia.”
“thanks ya fy,”
“iya via, masuk yu.”

Lalu kami masuk kedalam, rio masih terbaring, mungkin masih kesakitan. Sepertinya ia tau kami yang masuk, kami disambut dengan senyuman lembut, dari hati. Aku menhampiri rio dan menggenggam tangannya erat, mencoba menahan tangis.

“kaka abis nangis ya?”
Aku hanya menggeleng pelan, menggigit bibirku menahan rasa sedih.
“hmmmm, aku minta maap ya ka.”
“kenapa minta maap, kan aku yang salah yo.”
“soalnya Rio gak bisa ngejailin kaka lagi, gak bisa kejar-kejaran lagi sama kaka, ya kaka tau kan rio sekarang cacat. Kaka gak salah ko, rionya aja yang salah, bi surti udah bilang tanggannya licin, tapi rio malah lari.”
“gak yo, nanti kamu sembuh kok, kamu gak cacat kok yo.”
“gak papa kok kak.” Kata Rio masih memancarkan senyum manisnya, aku semakin tak tahan melihatnya, aku ingin menangis tapi aku tak mau Rio melihatnya.

-----------------------------------------

Setelah satu minggu rio dirawat dirumah sakit akhirnya rio diperbolehkan pulang, meski kakinya belum sembuh total dan harus memakai kursi roda. Rio tampak ceria hari ini, ia sangat senang akhirnya keluar dari rumah sakit.

Sesampai di rumah rio memintaku untuk jalan jalan ke taman, aku menuruti kemauan rio. Kami menelusuri jalan setapak, dipinggir jalan tumbuh bunga-bungan yang cantik.
Rio memintaku untuk berhenti tengah taman, dan menyuruh ku duduk.

“ka, dengerin rio nyanyi ya, tapi maap rio gak bawa gitar.”
“nyanyi apa yo? Gak papa, tanpa musik suaramu indah yo.”
“dengerin aja.”
Lalu rio mulai menyanyi.

Tak ada tempat seperti Surga
Untuk kuhabiskan hidupku denganmu
Senandung alunan terindah
Akan kulakukan teruntuk dirimu cinta
Separuh darah hidupku

Tak ada tempat seperti Surga
Untuk kuabadikan hidupku denganmu
Barisan syair yang terindah
Akan kulakukan untuk dirimu cinta
Separuh sukma jiwaku

Ku persembahkan hidupku
'Tuk selamanya padamu
'Kan kuserahkan cintaku hanya untukmu
Selamanya

Ku abadikan hatiku
'Tuk selamanya padamu
'Kan kuserahkan ragaku hanya untukmu
Selamanya

Prok prok prok,
“yeeeeee, bagus yo.”
“makasih ka.”
“yo, aku sayang kamu, kamu adikku tercinta.” Kataku memeluk Rio.
“sama ka, rio juga sayang kaka.”



Pesanku, untuk kalian yang mempunyai adik, biarpun adik kita nakal, bandel, menyebalkan, tapi dia masih adik kita, keluarga kita, jangan sampe kita mengeluarkan kata-kata yang tidak semestinya, apalagi menyumpahkan yang tidak baik. Kadi tetap sayangi adik-adik mu ya teman.



THE END

*cerpen paling lebay*

Rabu, 18 Mei 2011

Bukan anak manja - (cerpen)

Posted by Avinda deviana devah at Rabu, Mei 18, 2011 0 comments
Rio adalah anak laki-laki yang amat teramat sangat di sayang kedua orang tuanya, apalagi bundanya. Begitupun dengan Rio, ia juga sangat menyayangi kedua orang tuanya. Meski ia sudah dewasa, tapi bunda dan ayahnya tak henti-hentinya memanjakan Rio, sering kali teman-temannya mengejek Rio anak yang manja, tapi Rio tak pernah risih atau pun mengeluh, ia tak peduli dengan ejekan teman-temannya, ia fine-fine aja di ejek seperti itu, ia tak malu, karena baginya kedua orantuanya memanjakannya karena mereka menyayanginya.

Rio memiliki senyum yang manis, perawakannya tinggi, keren, ganteng, semua cewe di sekolahnya menyukainya, rio juga anaknya ramah, baik, berprestasi, jago bernyanyi, jago memainkan alat musik, jago bermain basket, dan masih banyak lagi bakatnya, seakan ia di takdirkan menjadi anak yang berbakat di semua bidang.
Kadang teman-temannya iri padanya, meskipun ia dimanja, tapi ia mempunyai banyak ke ahlian, ya mugkin saja orang tuanya menyuruh rio kursus, atau apa, sehingga rio berbakat seperti ini.

@sekolah.
Rio turun dari honda jazz kesayangannya, teman-teman sekelasnya tak ada yang membawa mobil ke sekolah, mereka menaiki sepeda motor, bahkan ada yang berjalan kaki, hanya rio yang membawa mobil, bukannya sombong, tetapi orang tuanya menyuruhnya untuk membawa mobil itu, orang tuanya terlalu khawatir bila rio pergi ke sekolah mengendarai motor, dengan jarak yang lumayan jauh, rio tidak bisa mengelak, rio hanya menuruti kedua orang tuanya, karena dia yakin mereka menyayanginya.

“pagi rio”

“pagi kak”

“pagi yo”

“pagi nak rio”

Begitulah setiap harinya, ia selalu di sapa oleh penghuni sekolah itu, dari mulai adik kelasnya, temannya, kakak kelasnya, sampai guru-gurupun menyapanya *lebay*.
Di kelas, semua penghuni kelas tengah sibuk dengan gossip terhangat jupe dan depe yang menggemparkan (??), ada yang tukar menukar baju, eh salah, buku maksudnya, ada yang tarik menarik rambut, ada yang lempar-lemparan sepatu, dan ada yang membuat pulau pagi ini di kelas, *ini kelas apa jalanan (??)*.

“pagi anak manja” sapa seorang anak laki-laki berkulit putih, ia teman sebangkunya rio.
Rio tak menjawab, ia hanya tersenyum, rio sudah terbiasa dengan sapaan teman sebangkunya itu.
“eh, bro, hari ini ada latihan basket, lo dateng ya!” kata anak laki-laki itu.
“siip, vin,” kata rio mengacungkan jempolnya pada temannya itu, alvin.

------------------

Tet tet tet, bel berbunyi, menandakan telah berakhirnya jam pelajaran hari ini, semua murid berlari, berpulang menuju rumah masing-masing.
Rio, alvin, Gabriel, cakka, obiet dan debo menuju lapangan basket, mereka akan berlatih untuk pertandingan akhir bulan ini.

Dilapang basket terlihat sekumpulan anak perempuan tengah berkumpul, mereka sedang menanti kehadiran pangeran basket ini.
“ya ampun itu rio, ah aku tak sanggup, aku mau pingsan, bubay” kata seorang anak perempuan, kemudian terjatuh pingsan tergeletak di lantai.
“aaaaaaaaaaaaa, cakka, ya ampuuuuuuuun” kata anak perempuan yang lain.
“iel ohmaygot” kata yang lain dengan lebaynya.
“koko apiin, uh, my kodok.”
“lagi, lagi, lagi, ada obiet, aw, aw, aw”
“uh, debo, got-gotan, love-lovean” *ampundeh*
Ya seperti itulah tingkah anak-anak perempuan, saat melihat sang pangeran basket tiba, pada lebay, gak bisa mengatur nafas pas ketemu mereka, pada ngos-ngosan *lo kira habis lari*, pada jantungnya copot, pada bergetar hatinya, dan banyak lagi keanahannya (?)

Pangaeran basket mulai bermain basket, rio mendribel bolanya, lari sana, lari sini, locat sana, loncat sini, dan hap, bola masuk ring. Para sekumpulan anak perempuan bersorak sorai dengan penuh semangat 45.
“horeeeeeeeeeeeeeeeeee”

“tuh yo, liat fans-fans lo, pada gembira, senang, bahagia, melihat sang idola memasukan bola ke dalam ring, haha, padahal Cuma latihan, tapi nyoraknya udah melebihi kapasitas penonton di lapangan pertandingan nanti, ampun deh, nanti pas kita tanding harus, mesti, kudu bawa nih anak-anak biar nanti rame, hahaha” ejek alvin pada rio. Rio tak berkutik, ia hanya tersenyum, dan mereka kembali melanjutkan permainan.

Latihan hari ini telah usai, sang pangeran basket memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
Di tengah jalan menuju parkiran rio dan alvin bertemu dengan seorang gadis cantik berambut sebahu, dan berkulit sawo matang.
“hai kak rio, hai kak alvin.” Sapa gadis itu pada rio dan alvin.
“hai juga nova” jawab rio dan alvin, nova adalah adiknya debo, sekaligus adik kelas mereka.
“belum pulang nov?” tambah alvin.
“belum kak, tadi habis rapat eskul, sekalian nunggu kak debo. Kakak habis latian ya?”
“iya nov.”
‘kebiasaan kak rio Cuma diem, Cuma senyum, gak bicara apapun, ih’ batin nova.
“ya udah ya nov, kita balik dulu.”
“oh, iya kak.”

@parkiran.
“yo, gue nebeng mobil lo ya, gak bawa motor gue, masih di bengkel, ya, ya, ya!”
“lo mah kebiasaan, ya udah oke.”

Diperjalanan, mereka bedua hanya mendengarkan musik, tak mengobrol, rio memfocuskan pandangannya kearah depan, alvin menghentak-hentakkan kakinya mengikuti alunan lagu, dan ikut bernyanyi.
Alvin menoleh kearah Rio, “yo, lo gak nyadar, nova tuh suka sama lo.”kata alvin memulai pembicaraan.
Rio mengerutkan kening, lalu menoleh keaarah alvin, rio tak menjawab, ia hanya mengangkat kedua bahunya, lalu kembali focus kearah depan.
“eh, yo, serius, tadi waktu kita ketemu sama nova gue liat si nova tuh ngeliatin lo mulu.”
“hahahaha,”
“lo kok malah ketawa sih yo, serius!”
“haha, iya, iya, lo tuh gimana, masa Cuma karena ngeliatin aja udah di pastiin dia suka sama gue, lucu lah vin!, haha”
“eh, yo beneran, gue liat dari tatapan matanya ituloh yo, tatapan matanya tuh dalem banget, dia tuh suka sama lo!”
“terserah lo deh!”
“yo, lo tuh kenapa, kaya yang gak tertarik gitu.”
“emang gue gak tertarik.”
“ya ampun!!, lo mau yang kaya gimana sih? Dulu dea, manis, tajir, lo tolak, terus shilla cantik, pinter, baik lo tolak juga, sivia imut, cantik, manis lo tolak juga, sekarang nova, baik, manis, cantik lo malah gak tertarik, gimana sih. jangan-jangan lo suka sesama jenis ya yo?” kata alvin, ia ngeri mengucapkan kalimat terakhir.
“gue Cuma tertarik sama lo apiin, muah, muah” kata rio, menggoda alvin, alvin semakin ngeri, ia ketakutan.
“yo, jangan bercanda deh, ih, najis, gue masih normal yo, gue udah punya pilihan hati, jangan sama gue” kata alvin beneran ketakutan.
“bwahahahahahahahahahahahaha” rio tertawa bagaikan iblis.
“kenapa yo, kaya setan sumpah!”
“alvin, alvin, gue juga masih normal lah, gue juga ogah sama kodok, gue Cuma k\gak tertarik aja sama mereka, bukan berarti gue suka sesame jenis.”
“syukurlah kalo begitu, kalo lo bener suka sesame jenis, gue gak mau jadi temen lo lagi!, tapi lo kenapa gak suka sama mereka, mereka kan cantik-cantik,”
“soalnya nyokap gue bilang, gue jangan dulu pacaran, gue harus kejar cita-cita gue sampe dapet, nah ntar kalo udah sukses baru boleh!” kata rio mantap.
“ampun yo, halo, ini taun 2010, bukan taun 2000 lagi, masa gitu sih, tapi lo kan bisa sembunyi-sembunyi yo!”
“haha, gak kok vin, gak mau ah, ntar gue kualat, gue sih Cuma nurutin kata nyokap aja vin.”
“tapi yo, kalo lo suka sama cewek kan gak papa, masa lo mau nyembunyiin perasaan lo itu.”
“gak vin, gue beneran gak tertarik, sekalipun itu cewe cantik, baik, tulus, tajir, segalanya, tapi gue gak tertarik, sakarang aja gue lagi gak suka sama cewe.”
“satu cewepun nggak yo???”
“yap!” kata rio mantaaaaaaap.
“terserah deh, kalo gue jadi lo, gue gak bakalan betah tuh kaya gitu.”
Dan akhirnya rio berenti di sebuah rumah, ya itu rumah alvin.
“ya udah deh, thanks ya yo.” Kata alvin keluar dari mobil.
“sip”.
Lalu rio kembali menjalankan mobilnya menuju rumahnya.

------------------------------
8 tahun kemudian.

Rio kini telah menjadi seorang pemuda yang sukses, ia telah sukses meraih cita-citanya untuk menjadi seorang penyanyi terkenal, ia sekarang telah di kenal banyak orang, sekarang ia telah menjadi idola semua orang, kalo dulu pada masa SMAnya ia hanya di idolai oleh anak-anak cewek sesekolahnya, dan sekarang telah berubah.

Rio kini tengah sibuk mencari data, info, keberadaan teman-temannya sewaktu SMA, khususnya alvin. Ia sangat ingin mengundang teman-temannya untuk hadir diacara ulang tahunnya sekaligus acara pertungannya bersama gadis cantik pilihannya.
Setelah lama mencari, akhirnya ia menemukan data-data keberadaan teman-temannya, termasuk alvin. Rio langsung menghubungi alvin, ia langsung menelpon temannya itu.

“hallo” kata seorang di seberang sana.
“hallo, ini bener sama alvin jonathan?” kata rio.
“iya benar, ini sama siapa ya?”
“wooo, bro, ini gue rio, temen SMA lo dulu!”
“hah? anak manja?? Bwahahahahaha, apa kabar lo sekarang? Wiss lo sekarang udah jadi bingtang besar, haha.”
“haha, dasar lo, masih aja bawa-bawa anak manja, baik bro, kabar lo gimana sekarang, lo tinggal dimana sekarang?”
“hahaha, biasa yo, gue sekarang dimalang yo, tinggal sama keluarga gue.”
“lo udah kawin vin? Sialan lo gak undang-undang gue sih.”
“haha, sorry yo, gue baru kawin sekitar tiga bulan yang lalu, ngomong-ngomong bentar lagi ultah lo bro.”
“ah elo, udah ada buahnya belom? Ckckck, iya, makanya, gue mau undang lo ke acara ultah gue, sekalian gue juga mau tunangan bro, haha.”
“belum yo, belum waktunya kali, hahaha, lo mau kawin juga yo, sama siapa? jadi sekarang lo udah tertarik sama cewek?hahaha”
“haha, nanti lo juga tau, cewenya cantik, pilihan nokap gue.”
“ampun deh yo, calon bini aja pilihan nyokap, dasar anak manja lo, haha.”
“gue bukannya manja, vin. Tapi gue tuha nurut, y ague kan anak baik dan penurut, jadi harus nurutin kata nyokap, haha.”
“woo, dasar anak baik, narsis lo kambuh lagi, hahahahahaha.”
“haha, ya udah de, lo minggu malam jangan lupa dateng ya, sekalian bawa bini lo, oke!”
“okedeh, sip, nanti gue dateng bareng bini gue, haha”
“sip, bye.”
Clek. Telpon pun terputus.

------------------

Acara ulangtahun dan pertunangan Mario Stevano & Alyssa saufika.

Semua tamu telah berkumpul di ruangan yang megah ini, semua undangan memberikan ucapan selamat ulang tahun dan selamat bertunangan kepada Rio dan pasangannya, alvinpun mengucapkan selamat pada rio, ia sangat tak percaya teman semasa kecilnya kini telah berubah menjadi seorang yang sukses, ia juga memiliki calon istri yang cantik dan manis, biarpun rio dimatanya seperti anak manja, tapi rio selalu membuatnya iri, sekarang alvin sadar rio bukanlah anak yang manja, melainkan rio patuh pada kedua orang tuanya, meskipun kedua orangtua rio memanjakannya, bukan berati rio menjadi anak yang manja, dari SMA rio sudah mandiri, hanya alvin tak menyadarinya.
Justru mungkin alvinlah yang selama ini manja, kedua orang tua alvin tak pernah memanjakan alvin, melainkan alvin sendiri yang ingin di manjakan.

“woy bro, happy birthday ya, selamat juga lo udah bertunangan dengan gadis cantik ini.”kata alvin menepuk bahu rio.
“eh lo bro, oke thanks, bini lo juga cantik bro, haha, eh sivia ya?”
“haha, iya bro, gue jadi sama sivia. Eh sory ya yo, gue selalu bilang lo anak manja, padahal mungkin gue yang manja.”
“haha, iya gak papa vin, biasa aja kali, gue emang bukan anak manja, tapi gue patuh sama orang tua, mereka manjain gue karena mereka sayang sama gue.”
“iya yo, gue minta maap yah”
“iya vin, gak papa kok.”
“ya udah gue Cuma bisa ngedo’ain lo biar lo bahagia sama ify,”
“oke, thanks vin, gue juga do’ain lo biar lo langgeng sama sivia, dan cepet-cepet punya keturunan.”

Acara malam itu sangat teramat megah dan mewah, para tamu yang hadir sangat senang melihat pasangan yang bertunangan malam ini.
Mulai malam ini tak kan ada lagi ejekan anak manja, karena sebenarnya alvin pun manja.
Mereka sangat bahagia, rio, ify, alvin dan sivia kini hidup bahagia, saling menyayangi saling memanjakan, saling mencintai tentunya.

Selasa, 17 Mei 2011

Rindukan sahabat yang tak tergantikan – (cerpen)

Posted by Avinda deviana devah at Selasa, Mei 17, 2011 0 comments
Bunyi jam weker yang berisik itu membangunkan ku dari mimpi indah ku. “grrr.. jam weker sialan, ganggu aja sih,” omel ku sambil mencari dimana jam weker itu berada. Akhirnya ku menemukanmu jam! Langsung ku matikan jam itu. “euh.. emang jam berapa sih?” kataku sambil mengucek-ngucek mataku yang masih buram karena masih ngantuk. “oh ternyata masih jam 5 pagi juga, udah rebut lo jam!” dumelku saking kesalnya. “tidur lagi ahh…” aku pun memutuskan untuk tidur stengah jam lagi. Tapi kemudian ponsel ku berdering tanda panggilan masuk.

Ku hirup udara..
Dan rasakan hangatnya mentari
Oh indahnya hari ini
Menjalani hidup yang pasti.

“ya ampuuuuuun.. pagi-pagi gini ada yang nelpon, buseeeet dah ni orang matanya rabun kali ya, sekarang masih pagi juga.” Kata ku jengkel. Kemudian aku mengangkat telpon itu tanpa ku lihat layer ponselku, otomatis aku gak tau yang nelpon itu siapa. “ya, halo.. ini siapa? Pagi-pagi udah ganggu, wey! Gue masih ngantuk tau!” omel ku.
“yaelah yo, baru bangun lo? Aduhh.. sumpeh, malu-maluin banget lo yo! Hahaha,” kata orang yang di seberang sana.

*pause*
Mau ngenalin diri dulu deh! My name’s : Mario stevano aditya haling, biasa di panggil Rio, pinter, cakep *pasti*, baik, jago basket, ketua OSIS (padahal bentar lagi mau turun pangkat,akakak), idola cewek, jago nyanyi, jago maen gitar, etc deh pokonya, perkenalannya udah deh, tar bakatku terbongkar semua *narsis gile* hahaha :p.
*start*

‘eh.. gue kenal ni suara’ batinku, lansung ku lihat layer ponselku yang tertulis namanya Alvin JONAT. Eileh si jonat.
“eh.. elo nat.. sorry, tadi gue kasar, sumpeh gak tau kalo lo yang nelpon,hehe” kata ku pada yang di seberang sana, tak lain adalah sahabatku Alvin, Alvin jonathan sindunata.
“ah elo.. kebiasaan, mandi sana cepet,tar gue nebeng lo ya!”
“idih.. ogah! Gue mau nganterin acha :p” kataku, acha adalah adik perempuanku yang masih kelas 6 SD. Aku juga mempunyai kakak laki-laki, namanya Gabriel dia udah kelas XI SMA, kakak super duper rese, pelit, jail huaaaaah.. nyebelin pokoke!
“ah, elo gimana sih, sahabat macem apa lo.” Katnya dengus.
“elah, dasar lo nat, oke deh, tar gue jemput lo, udah dulu ya, gue mau mandi dulu. Bubey donat, eh jonat. Hahaha”
“sialan, oke deh marimas, haha” ledeknya.
“ah sialan lo.” Tetapi telpon itu sudah terputus, tut-tut-tut naik kereta api (?).

Aku dan Alvin adalah sahabat dari kecil, Alvin adalah sahabatku yang paling aku sayang, aku udah anggep Alvin kaya sodaraku sendiri, rumah Alvin pun terletak tak jauh dari rumahku, kami masih satu kompleks. Sekarang kami duduk di kelas IX SMP, kami sekolah di SMP Mengejar Mimpi.



@rumah Alvin
Aku langsung membunyikan klaksonku yang berbunyi ‘nit-nit’ (?) *apadah*, tetapi tak ada tanda-tanda ada yang keluar dari rumah atau pun membukakan pintu. Aku memutuskan untuk turun dari motor kesayanganku dan menghampiri rumah sahabatku, Alvin.

“permisi,” kataku sambil ku pencet tombol bel rumahnya Alvin.
“Alvin-alvin,” panggilku.
“ah sialan, jangan-jangan ni anak boongin gue lagi.”
Tapi tak lama kemudian ada wanita paruh baya membukakan pintu.
“eh, ada den rio, maap ya den lama bukain pintunya,” kata wanita itu yang tak lain adalah pembantunya Alvin.
“oh iya bi gak papa kok, o’ya alvinnya ada bi?” kata ku dengan sopan, sesopan-sopannya dan tersenyum manis, kali aja si bibi kelepek-kelepek liat senyum ku,kan cewek-cewek di sekolah pada gitu kalo liat senyum ku,hahahaha

“emm den Alvin baru aja berangkat den,” katanya sedih sambil menundukan kepala.
Eh kok si bibi malah sedih sih di kasih senyum sama gue u,u tega nih,hehe. Bener kan tuh anak udah berangkat, huh sialan!

“yah gimana sih Alvin, katanya mau berangkat bareng saya, kok malah udah berangkat sih bi?” kataku.
“emm.. den.. den Alvin itu ke rumah sakit.”
Aku langsung kaget. “hahhhhh.. kerumah sakit? Siapa yang sakit? Alvin sakit? Penyakitnya kambuh lagi?” tanyaku berturut-turut.
Alvin menderita penyakit kanker otak stadium akhir. Aku sering takut, takut kehilangan sosok sahabat yang begitu aku sayang, yang berati banyak bagiku. Aku kadang kecewa sama tuhan, kenpa tuhan menciptakan Alvin untuk menderita penyakit itu? Itu tak adil!, aku sering mengeluh di hadapan Alvin, tetapi justru Alvin bersyukur menderita penyakit itu, karena baginya itu adalah anugrah dari tuhan, dan itu bukti bahwa tuhan masih sayang dia, tapi tetap saja itu tak adil bagi ku.

“iya den, den Alvin penyakitnya kambuh lagi, sewaktu den Alvin menunggu den rio di luar,tiba-tiba…..” sebelum bibi menyelesaikan bicaranya, aku langsung potong “oh, makasih bi, saya mau ke rumah sakit dulu”, aku langsung menuju motorku, langsung ku nyalakan motor ku dan ku tancap gas ku kencang-kencang, ku melaju dengan kecepatan tinggi, tanpa berpikir apa nanti yg akan terjadi, tetapi yang ada di pikiranku hanya satu, Alvin, hanya Alvin yang sedang ku pikirkan. Aku menuju Rumah Sakit Bundaku, rumah sakit itu sudah tak asing lagi bagi ku, aku pun sudah hapal dengan rute-rute rumah sakit itu, dengan suster-susternya, dokter-dokternya bahkan orang yang sakit di rumah sakit itu pun sudah apal pada ku. Ya secara setiap Alvin sakit pasti dirawat di rumah sakit ini.
Sekarang aku menuju ke ruangan Alvin yang berada di kelas alvnszta nomer 20.
Aku pun memang sudah hapal ruangan tempat Alvin di rawat.

terlihat ada ayahnya Alvin dan seorang cewek, tak lain adalah kakaknya Alvin, namanya sivia, sedang duduk pasrah di kursi depan ruang rawat Alvin.
“om, kak via.” Sapa ku pada mereka.
“eh rio, kamu kok ke sini gak sekolah kamu?” kata om dave ayahnya Alvin lesu.
“tadi sewaktu saya kerumah, bibi bilang alvin masuk rumah sakit, jadi saya langsung ke sini. Biar om, nanti biar saya izin ke temen.” Jawab ku
Om dave tak membalas, kemudian dokter keluar dari ruang rawat alvin.
“pak dave, bisa bicara di ruangan saya?” kata dokter oni.
“baik, dok,” kata om dave.
Om dave dan dokter oni berlalu menuju ruanagannya.

Aku pun duduk di samping kak via.
“yo, kamu gak sekolah?” tanyanya. Kak via sangat pucat hidungnya merah, matanya sembab karena menangis.
“gak papa kak, rio mau di sini, tungguin alvin, nanti rio bisa izin ke temen.”
“tapi yo,nanti kamu bisa ketinggalan pelajaran!,udah mending kamu sekolah aja, disini ada kakak kok yang nungguin.”
“gak kok kak, rio gak mau kalo alvin sadar terus dia gak liat sahabatnya disisinya.”
“makasih yah rio, kamu memang sahabat yang baik.” Katanya sambil menitikan butiran kristal.
“iya kak, sama-sama, kok kakak malah nangis sih?” kataku polos.
“gak papa kok yo, kakak Cuma terharu aja, liat kesetiaan mu terhadap alvin.”
“ah kakak bisa aja,hehe,” kataku nyengir, kak via pun ikut tersenyum.
Kemudian aku mengambil ponselku dan mengetik hurup per hurup, aku mengirim kan sms itu ke cakka teman sekelasku. Yang isinya :
To cakka :

Cak gue izin ya, alvin masuk rumah sakit, jadi gue temenin dia.
Ok bro!

To rio :
Hah ? alvin masuk RS?.
Oke deh bro, di sini gue Bantu do’a ya bro.

To cakka :
Oke bro, thanks ya.

To rio :
Sip.


Tak lama kemudian om dave kembali dari ruanagan dokter.
“pah,apa yang dokter bilang tadi, bagaimana keadaan alvin, pah?” kata kak via khawatir.
“iya om, gimana keadaan alvin?”kataku tak kalah cemas.
Untuk beberapa detik om dave terdiam. Tetapi akhirnya dia angkat bicara.
“keadaan alvin memburuk!” kata om dave duduk letih menutupi wajahnya yang menagis.
“apa pah? Memburuk?” kata kak via, kembali dia menitikan butiran kristal itu.
“memburuk, om?” kataku letih,lunglai, rasanya ingin menagis hatiku pedih mendengar keadaan sahabatku semakin memburuk.
“iya, alvin mungkin hanya bisa bertahan satu minggu lagi,bahkan mungkin beberapa hari lagi nyawanya pergi.”lanjut om dave.
Kak via menagis terisak,dia sangat terpukul mendengar kata-kata itu, aku mengerti perasaannya, dia pasti sangat sedih, orang yang dia sayangi akan meninggalkannya, setelah ibunya alvin meninggal dan sekarang alvin pun di ponis meniggal dalam waktu dekat.
Aku merasa hati ku pedih,aku pun ikut menagis karena aku tak bisa menahannya lagi. ‘tuhan tolong sembuhkan alvin, tolong beri kekuatan padanya untuk bertahan hidup,aku masih ingin bercanda dengannya, aku ingin tertawa bersama dengannya’ aku berdo’a dalam hati.


***
Esoknya alvin siuman..
Orang yang pertama dia lihat adalah aku, akhirnya keinginanku terpenuhi,alvin siuman dan orang yang pertama dia liat adalah aku.
Segera ku panggil om dave dan kak via. “om, kak, alvin sadar.” Lalu mereka datang.
Alvin tersenyum, kami membalas senyumannya.
“syukurlah kamu sudah sadar nak,”kata om dave
“iya pah.” Kata alvin yang masih lemas.
“kak, rio.” Kata nya menyapa aku dan kak via. Kak via tak bisa menahan, dia terlihat ingin menangis. “aku panggil dokter dulu ya,”katanya, aku tau, kak via pasti bakal nagis di luar ruangan. “papa juga mau Tanya dulu ke dokter ya nak, yo titip alvin dulu ya!” “sip om.” Kemudian om dave menyusul kak via.

“gue pingsan dari kemaren ya?”
Aku hanya mengangguk, tak bisa berkata-kata, alvin tertawa kecil di balik kelemasannya.
“yo, sorry ya!”
“hah? sorry? Sorry apa vin?” kata ku heran.
“kemaren gue gak jadi nebeng lo, lo pasti kerumah gue kan.”
“udah lah pin gak papa kok.”
“yo, gue minta maap ya kalo gue punya banyak salah ama lo, gue tau salah gue mungkin udah segunung ama lo, gara-gara gue jail.”
“ah biasa aja kok vin.” Aku hanya bisa menjawab dengan singkat.
“udah vin, lo mending istirahat aja.” tambah ku lembut.
“gak, gue pengen hirup udara sepuasnya sebelum gue istirahat selamannya, gue pengen nemenin papa, nemenin kak via, canda bareng sama lo, ketawa-ketawa sama lo, okok yo,”
“vin, lo gak boleh kaya gitu, lo pasti bakal nemenin om dave sama kak via selamanya kok, lo juga pasti bakal canda bareng gue, ketawa-ketawa lagi bareng gue, ya!” kata ku lirih.
“yo, udah deh, lo harus bisa nerima kenyataan ini!”
“tapi vin, lo harus optimis!”
“rio.rio udah lah, lagian aku tuh udah kangen sama mama, aku pengen ketemu mama yo!”
“vin lo jangan gini.”
“udah ah yo, ganti topick aja ya, lo gak sekolah yo?”
“gak.”
“kenapa? Eh lo marah ya mari? Haha.”
‘ni anak masih aja bisa bercanda’ batin ku yang semakin sakit.
“gue udah izin kok!, gak gue gak marah!”
“tapi mulut lo tuh manyunnya lima senti, jelek tau ri.haha”
“sialan lo nat!” kita pun tertawa bersama, aku gak mau kehilangan saat-saat seperti ini.

Om dave dan kak sivia memperhatikan kami sejak tadi, kak sivia menangis tanpa suara, om dave juga menitikan air matanya.
Ternyata alvin menyadarinya.
“pah, kak, kok kalian menagis?”
Om dave langsung menghapus air matanya, begitu pun dengan kak via.
“nggak sayang, papa Cuma terharu aja kok.”
“iya vin kakak juga terharu ngeliat kalian  akrab banget.”
“oh.hehe,emm pah, inget ya, jagain kak via, papa jangan nikah lagi ya,hehe.”
“ya sayang papa bakal jagain kakak kamu, papa juga gak bakal nikah lagi.”
“sip deh, kakak juga jagain papa ya, biar gak nikah lagi. Hehe”
“iya vin, pasti.” Katanya terisak
“lah kok kakak nagis, jangan dong!, sini alvin hapus.” Alvin menghapus air mata kak via, keliatan hati hak via pasti sangat sakit, dia pasti tak sanggup di tinggalkan alvin.

Tak lama kemudian ponsel ku bergetar drrrdrrrdrrrdrdrdr, tanda SMS masuk.

From cakka :

Bro gue sama ozy enn deva ke sana ya, mau jenguk alvin.

From rio :

Oke bro gue tunggu ya, alvinnya juga udah siuman nih!

From cakka :

Sip.


Lalu 10 menit kemudian cakka cs dateng. Suasana udah mulai agak tenang.
“permisi”, kata cakka cs masuk ke ruang rawat alvin.
“eh silahkan-silahkan masuk” sambut om dave.
“wah kalian,,kenapa ke sini, padahal gak papa kali.”kata alvin
“ah gak papa kali vin, kita kan pengen jenguk lo.” Kta cakka.
“ya udah om keluar dulu ya, mau menghirup udara segar dulu.”
“ya om,” jawab kami serempak.
Sekarang yang ada di ruangan itu tinggal kami berlima, om dave keluar dan kak via pulang.

“gimana keadaan lo sob?” Tanya ozy
“udah lumayan mendingan sob”
“syukur deh kalo gitu,”
Sementara alvin asyik mengobrol dg ozy dan deva, cakka mengajakku bicara.
“bro kasian ya alvin, rambutnya udah mekin tipis, dia makin kurus ya.” Kata cakka sedih.
“ya bro, gak sanggup gue ngeliat dia kaya gini.”
“lo yang sabar ya bro!”
“thanks cakk.”

Setelah itu cakka cs pulang, karena hari telah menunjukan malam.

Suasana menjadi hening, karena di kamar hanya ada aku dan alvin.
“yo, lo gak pulang?”
“kenapa?, lo risi karena gue ada di sini?”
“bukanya gitu yo,nanti bonyok lo cemas,”
“gak, tenang aja, gue udah bilang sama bonyok ko, lagian mereka lagi di luar kota.”
“beneran yo?”
“iya nat!”
“eh sialan lo,, emmm… kue kurusan ya, kaya ranting, hahaha, rambut gue juga rontok,” katanya memengang kepalanya yang sudah hamper tak berambut,
“eh kupluk gue mana?” lanjutnya.
“lagi di cuci sama kak via.” Jawab ku singkat.

Esoknya.

Ketika kami bertiga sedang sarapan, dan alvin pun ikut sarapan.tiba-tiba alvin memulai pembicaraan.

“hmm, tadi di mimpi aku ketemu mama, mama ngajak aku buat ikut sama dia, tapi aku bilang aku mau pamitan dulu sama papa, kak via dan Rio.”
Otomatis kami bertiga menoleh padanya, om dave sempat keselek pas alvin ngomong tadi.
“apa maksud kamu vin,” Tanya kak via
“apa?,tadi mama ngajak gue kak,”
“jangan asal ngomong lo!” nada bicara kak via mulai tinggi
“apa sih, kenapa lo marah kak?”
“udah vi,” kata om dave menenangkan anak gadisnya itu.
“tapi pah.” Kata kak via sedih kemudian om dave menggelangkan kepalanya.
“emang kamu mimpinya gimana vin?” Tanya om dave
“gitu pah, mama ngajak aku pergi,, tapi aku mau minta izin dulu sama papa, kakak, sama rio, boleh kan?, boleh ya, aku kan kangen mama pah!”
Kami bertiga hanya diam. ‘apa ini saatnya?, tuhan apa pun yang kau berikan, hamba akan menerimanya’ batin om dave
“gimana pah?” tanyanya lagi.
“gak boleh!, lo harus disini sama kami!, lo jangan ikut mama!, lo kenapa sih vin kaya anak kecil gitu?” kak via mulai emosi, dia mulai takut, takut apa yang di katakana alvin itu nyata.
“kak, napa sih lo marah-marah, apa salah gue ikut sama mama?” alvin tak kalah emosi.
Sivia hanya bisa diam.
“eh kalian kok malah rebut, udah diam!” kata om dave yang emosinya mulai naik.
“papa terserah kamu aja!” lanjut om dave kemudian ia keluar.
“elo sih vin!” kata kak via mengejar papanya.
“yo, mereka kenapa sih? Apa gue salah?”
“lo keterlaluan vin!”
“keterlaluan?” kata alvin heran
“iya, lo gak mikirin hati kita di sini, disini kita gak mau lo pergi.”
“ya ampun yo, lagian gue gak bakal pergi sepenuhnya kok, gue bakal ada di hati kalian!”
“tapi vin!” kata ku sedih.
“udah lah yo, emm yo, sebelum gue pergi knyanyi yu!, nyanyi lagu kita!”
“oke” aku hanya bisa menuruti kemauannya.
Tiba-tiba om dave dan kak via dateng.
“kalian jangan nyanyi tanpa kami.”kata kak via tersenyum
Dan kami pun memulai menynikan lagunya.

Mari raih impian
Bersama kawan semua
Pasti ada harapan
Ayo raih bersama

Pastikan kitakan bisa
Meraih semua itu
Bersama selalu..

Hei ayo kita
Nyanyikan lah nada yang indah di lagumu
Ceria bernyanyi
Janganlah kau bersedih
KAMU DAN AKU BISA….

Seiring dengan lagu itu selesai aku dan alvin nyayikan, alvin berkata “thanks semua,aku senag,aku bahagia, aku sayang kalian.” Dan alvinpun perlahan menutup matanya dan tertidur pulas di tempat tidurnya untuk selamanya.
“alvvviiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiin” kata ku menjerit,hari itu hari terakhirku menyanyi bersama alvin, suasana menjadi haru, isak tangis tak henti-hentinya dari kami,alvin kini telah ikut bersama mamanya.

Pemakaman.

Kak via tak hent_henti menangis, di pelukan papanya.
“om kak, yang sabar ya! Rio ngerti”kata ku mencoba menabahkan mereka.
“ya yo, makasih,” kata om dave,
Aku tersenyum.
“bro yang sabar ya!” kata cakka.
Aku hanya bisa tersenyum pahit, menahan rasa kehilangan ini.

@rumah.

Aku berdiri sendiri di taman rumahku, dengan gitar ke sayanganku.

“vin, gue kangen lo!, nanti gak ada lagi yang bakal telpon gue tiap pagi, gak ada lagi yang nebeng ke gue, gak ada lagi yang temenin gue berangkat sekolah”
Tiba-tiba ada seorang yang berbisik pada ku “gue ada di hati lo selamanya yo!” kemudian suara itu mengilang diiringi dengan angina yang berhembus menusuk pori-pori tubuhku.

Aku duduk di kursi teras rumah ku dan mulai ku petik gitarku aku mulai bernyanyi untuk sahabatku.

Meski waktu datang
Dan berlalu
Sampai kau tiada bertahan
Semua takan mampu mengubahku hanyalah kau yang ada di hidupku

Hanya lah dirimu mampu membuatku
Syang dan mengasih
Kau bukan hanya sekedat sahabat
KAU TAKKAN TERGANTI..

Satu lagi buat mu vin!

Berjanjilah wahai sahabatku
Bila kau tinggalkan aku
Tetaplah tersenyum

Meski hati
Sedih dan menangis
Ku ingin kau tetap tabah menghadapinya

Bila kau harus pergi
Meninggalkan diriku
Jangan lupakan aku..

Semoga dirimu disana
Kan baik-baik saja
Untuk selamanya

Disini aku kan selalu
RINDUKAN DIRIMU
WAHAI SAHABATKU!!!!

Aku tak bisa mebahan air mataku, dan disini lah cerita ini berakhir…………..
 

secuil karya avinda Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea